12 July 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Ranup Pasar Aceh Ratusan Tahun Aktif Merawat budaya

...

  • portalsatu.com
  • 29 April 2018 23:18 WIB

Ranub mameh, Pasar Atjeh, Banda Aceh, 29 April 2018. @PORTALSATU.COM/JAMALUDDIN
Ranub mameh, Pasar Atjeh, Banda Aceh, 29 April 2018. @PORTALSATU.COM/JAMALUDDIN

Di sebelah utara pagar Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh itu berdirilah sebarisan panjang rak yang menyediakan ranup mameh (Sirih). 

Dalam suasana keramaian yang seakan abadi, wanita-wanita itu tanpa henti mengemas menciptakan butiran-butiran ranup mameh yang gurih manis yang tiap butirannya terbalut dengan dua lembar daun sirih segar.

Di bawah atap berbentuk setengah kerucut dengan tiang-tiang bercat putih, dan plat depan bewarna hijau dengan sedikit biru tersebut bernaunglah para penjual yang terus tanpa henti memberikan senyuman kepada orang-orang yang menghampiri dan membeli.

Nurafni (40) Sang penjual ranup mameh (Sirih) yang berjualan di rak urutan no 3 dari Masjid Raya. Ia berjualan dibantu oleh suaminya Muhammad Yusuf (50).

Setiap hari, mereka harus menempuh perjalanan pulang–pergi sejauh beberapa kilometer. Dari Tanjong Permai (di seputaran belakang kantor surat kabar Serambi Indonesia), di tepi batas timur Kota Banda Aceh, ke tempat mereka berjualan, di Pasar Atjeh, di sisi pagar sebelah utara Masjid Raya Baturrahman, Kampung Baru, Kecamatan Baturrahman, Banda Aceh.

Nuansa di sekitar utara Masjid Raya tersebut terlihat semakin kental ciri khas ketradisionalannya dengan tangkai-tangkai pinang muda tergantung di depan jajanan. Dalam tradisi Aceh, ranup dan pesta adalah satu.

Ranub mameh tersebut jika beli seribu, maka pembeli akan dapat tiga butir, bila beli lima ribu maka dapat 15 butir, juga bila beli 10 maka akan dapat 30 butir. Harga ranup mameh dan ranup klat adalah sama,” kata Nurafni.

Di atas meja rak itu satu wadah dipenuhi oleh tumbukan pinang bewarna coklat yang terbuat dari campuran beberapa rempah, Yusuf juga terlihat duduk di  sudut bangku dekat istrinya sambil jemari telunjuk dan tengah menjepit sebatang rokok.

“Dalam tiap satu butir ranup mameh terdapat kencurcengkeh, jeumeuju, dan gula pasir, digiling bersama pinang yang telah haluskan,” katanya.

Kemudian, Nurafni menjelaskan perbedaan rasa dan cara membuat ranup mameh dengan yang biasa.

“Untuk versi biasa (klat), gula pasir dan menggiling pinang di sini ditiadakan, dan perbedaannya juga ditambahkan kapur sirih dan gambe. Dalam tiap satu butir ranub klat dan mameh, sama, masing-masing memakai dua lembar daun sirih,” kata Nur.

Suara alunan ayat suci Alquran yang merdu, berasal dari arah sebelah kanan mereka tepatnya berasal dari Masjid Baiturrahman terus menggema. Hari ini, Ahad 29 April 2018 waktu shalat dhuhur akan tiba. Lalu lintas yang padat, juga suara orang-orang di pasar di seputaran masjid itu membuat nuansa ciri khas sebuah kota terlihat.

“Saya dan istri telah lama berkecimpung dalam dunia penjualan sirih, sudah berlangsung sekira selama 20 tahun, sejak beberapa tahun sebelum tsunami,” kata Yusuf.

Katanya lagi, ketika ombak raksasa tersebut menerjang kota Banda Aceh, saat itu ia bersama keluarga masih berada di rumah, belum berangkat ke kota untuk berjualan.

Selain menjual ranup rameh, Nurafni juga menjual pinang muda dan sirih.

“Jika beli dua ribu Rupiah maka akan dapat tiga butir, dan sirih satu ikat seharga Rp 5000,” kata Nur pada seorang pembeli.

Soal pendapatan, ia mengakui membiayai kehidupannya hanya dari hasil menekuni bidang itu.

"Dalam sehari kami berhasil menjual sirih-sirih tersebut rata-rata 500 butir. Kami mulai dari pukul sembilan pagi sampai pukul sepuluh malam," katanya.

Bahan baku untuk persediaan dagangannya tersebut mereka dapatkan dari masyarakat di seputaran Kota Banda Aceh dan sekitarnya.

“Kami mendapat bahan baku berasal dari masyarakat yang kadang mereka datang menawarkan sendiri ke tempat kami bahan-bahan baku tersebut dan kami membelinya," kata Nurafni.

Menurut Yusuf ranup mameh sangat disukai oleh pembeli yang berasal dari berbagai usia, mulai dari anak-anak sampai orang tua.

Untuk menekuni pekerjaannya di sana mereka dibebaskan dari biaya sewa lapak.

“Rak tempat jualan sirih ini adalah berasal dari bantuan Pertamian (persero) unit Pemasaran Cabang Banda Aceh. Yang dibangun pada 17 Oktober 2016, dan berjualan di sana dibebaskan dari biaya sewa tempat,” kata Nurafni.

Deretan rak-rak tempat jualan ranup mameh itu tertata sejajar dan rap mengikuti halaman ruko (rumah toko) yang berdiri kokoh di belakang rak-rak mereka, rak itu dibuat dengan bentuk dan warna yang sama.

Nurafni mengatakan, di sana ada belasan rak tempat berjualan sirih. Namun, yang aktif berjualan hanya sekitar sepuluh orang.

“Kami di sini telah dibebaskan dari sewa tempat, namun demikian ada juga teman-teman yang masih kurang memanfaatkan fasilitas yang telah disediakan tersebut,” katanya.[]

Penulis: Jamaluddin.

Editor: THAYEB LOH ANGEN

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.