19 April 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Tgk Di Anjong Pembangun Peradaban Aceh dari Tanah Seribu Wali

...

  • PORTALSATU
  • 31 May 2018 11:54 WIB

Acara haul Tgk Di Anjong di Makam dan Masjid Tgk Di Anjong, Gampong Peulanggahan, Kuta Raja, Banda Aceh, Rabu, 14 Ramadhan 1439 H/30 Mei 2018. @PORTALSATU.COM/JAMALUDDIN
Acara haul Tgk Di Anjong di Makam dan Masjid Tgk Di Anjong, Gampong Peulanggahan, Kuta Raja, Banda Aceh, Rabu, 14 Ramadhan 1439 H/30 Mei 2018. @PORTALSATU.COM/JAMALUDDIN

HARI Rabu 14 Ramadan setelah ashar, di makam Tgk. Di Anjong, puluhan habib berpakaian putih telah duduk di ruangan luar makam.

Asap wewangian di tangan khadam makam, Tgk. Fahmi, menyebar ke seluruh ruangan, Tgk. Fahmi berdiri di pintu makam mempersiapkan acara haul tahunan Tgk. Di Anjong.

Sekitar sembilan belas habib kemudian masuk ke kamar makam, kemudian duduk mengelilingi makam Tgk Di Anjong, sejenak kemudian suara bacaan Surah Yasin menggemuruh menggema dalam keberkatan, kemudian disusul dengan bacaan tahlil, shalawat, Surah Al-Ikhlash, dan do’a.

Kemudian Habib Haris Alydrus di sudut makam berdiri untuk menyampaikan beberapa nasehat dan mengenang sekilas sejarah Tgk. Di Anjong.

“Haul para waliyullah atau pahlawan-pahlawan mujahidin ketika menghadap Allah di jalan fi sabilillah seperti ahlul badar, juga seperti haulnya Syeikh Abdurrauf, Syeikh daripada Alhabaib, dan lain-lain hari haulnya diperingati supaya kita bisa mengenang kebaikan-kebaikan beliau, jejak langkah beliau yang mengikuti jejak langkah sang Rasul Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam,” kata Habib Haris.

Habib Haris menambahkan, Habib Sayyid Abubakar bin Husen Bilfaqih, atau yang sering kita sebut sebagai Tgk Di Anjong ini, dilahirkan di kota Tarim, Hadhramaut, Yaman, dibesarkan oleh orang tuanya yang bermazhab Syafi’i dan bertariqah sufiyyah, semua mazhab empat punya tariqah sufiyyah semuanya. Mengikut seperti Syeikh Abdulqadir Jailani dan lain-lain, inilah jalan-jalan daripada orang-orang yang shaleh, dan khusus,” kata Habib Haris.

Setelah itu kemudian diteruskan dengan membaca selawat khas para Habaib Yaman, atau seperti yang sering kita lihat di majelis khas sufi Turki Utsmani, nuansa Hadramaut senja itu pun menggema di atas tanah peninggalan Tgk. Di Anjong, di Pelanggahan di mana ratusan tahun yang lalu di atas Anjongan lantai tiga masjid, Tgk Di Anjong juga pernah membacakan shalawat-selawat dan berzikir.

Haul Tgk. Di Anjong yang penuh berkatan itu pun telah usai. Angin senja menerpa sejuk dari barat, melalui celah jeruji beton dinding hadir membawa sejuk, sementara di luar, lewat celah-celah dedaunan pohon, sinar matahari senja juga mengintip melintasi kisi-kisi celah dinding menerangi makam bersejarah itu.

Haul Tgk. Di Anjong, 14 Ramadan tahun ini bertepatan pada Rabu 30 Mei 2018 menjelang berbuka puasa, di halaman masjid terlihat beberpa penyaji makanan berbuka puasa sedang membagi-bagikan kuah beulangong kepada tamu-tamu, anak-anak, pemuda gampong, dan beberapa pejabat duduk bersama tanpa ada perbedaan pangkat.

Terkait dengan bagaimana kisah awal-mula kedatangan Tgk. Di Anjong ke Aceh, berdasarkan dari catatan Habib Zain bin Smit di Madinah, Tgk. Fahmi sebagai mana dikatakan pada@portalsatu sehari sebelum haul menceritakan, sebelum keberangkatan ke Aceh, Tgk. Di Anjong terlebih dahulu berziarah ke makam seribu para wali di Zanbal.

Setelah itu ke Madinah dan berjumpa dengan sahabatnya dengan Sayyid Abdurrahman bin Mustafa Alydrus, Sayyid Syaikh Muhammad Al-jufri, mereka adalah pengamal kitab-kitab Bidayatul Hidayah karangan Hujjatul Islam Imam Ghazali, dan bersama belajar di Makam Rasulullah.

Hingga suatu ketika Tgk. Di Anjong bertemu dengan Nabi Muhammad SAW secara terjaga, dalam pertemuan tersebut beliau mendapat pesan dari nabi SAW untuk berdakwah ke Aceh.  

Setiba di Aceh, atas empat hektar tanah di Peulanggahan beliau membangun dayah dan juga difungsikan sebagai tempat pelatihan manasik haji bagi calon jamaah yang datang dari berbagai wilayah di dunia Melayu Asia Tenggara. Dan kemudian beliau dikenal sebagai ulama sufi dan dalam kehidupannya serta aktif dalam membina peradaban Kesultanan Aceh Darussalam bersama sultan.

Terkait kondisi tempat peninggalan Tgk. Di Anjong itu masa ini, masjid kayu khas Aceh Darussalam yang dibangun oleh Tgk. Di Anjong itu juga tak luput dari terjangan ombak raksasa tsunami, hingga kitab-kitab, termasuk kitab yang beliau tulis sendiri kini tidak diketahui lagi keberadaannya.

Khadam Makam mengatakan, terkait peninggalan Tgk. Di Anjong, ketika puluhan tahun yang lalu semasa makam itu di Khadam oleh keluarga Bafadhal, lantai tiga masjid itu diperbaiki, karenanya kitab-kitab tulisan tangan, dan peninggalan Tgk. Di Anjong lainnya seperti kaca mata, surban dan kopiah yang tersimpan di lantai tiga masjid diturunkan.

Kini peninggalan-peninggalan itu telah hilang bersama musibah tsunami datang. Setelah perbaikan terjadi pada masa khadam Bafadhal, kemudian dimasa selanjutnya, pengusaha setempat, H. Dimurthala juga kembali memperbaiki makam seperti yang terlihat seperti sekarang.[]

Penulis: Jamaluddin

Editor: THAYEB LOH ANGEN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.