20 March 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Budaya Pop Menjamur, Obatnya?

...

  • PORTALSATU
  • 14 October 2018 11:15 WIB

Ilustrasi media sosial. (Thomas Trutschel/Getty Images)
Ilustrasi media sosial. (Thomas Trutschel/Getty Images)

Oleh:Taufik Sentana*

Istilah budaya pop setidaknya muncul pada era 60an di Eropa dan Amerika khususnya. Yaitu saat maraknya industri media dengan beragam bentuk dan variannya. Begitu juga Indonesia dengan diawali munculnya beragam siaran televisi swasta sekitar tahun 90an.

Beberapa pakar menganggap bahwa televisi dan sekarang media sosial, media online dan produk digital lainnya, telah menjadi "corong" yang melanggengkan budaya pop tadi. Di mana dengannya persepsi, impresi dan fantasi publik/masyarakat dapat menjadi rentan, dengan kaburnya realitas. Banyak yang menyebutnya sebagai "realitas semu", itulah yang terbangun dari ragam konsumsi iklan, program televisi, unduhan aplikasi android, dsb.

Bahkan, konon, dalam dunia pendidikan, seorang guru mesti dapat "bersaing" dengan televisi (dan ragam media lainnya) untuk merebut hati anak didik. Setidaknya, tampilan penyajian pembelajaran kita mesti sama menariknya dengan program televisi, menyentuh sisi entertain dan rasa senang siswa. Bila tidak, guru tersebut dan pelajarannya akan "ditinggalkan".

Sergapan budaya pop tadi mendominasi sikap instan. "Instan", kata inilah yang menjadi bagian menarik dari budaya pop. Menjamurnya kafe-kafe, mall, market modern, restoran cepat saji, merek global, dsb., merupakan refleksi sikap instan tadi: mudah, cepat, ringan, tak rumit dalam berpikir. Sikap ini menjadi penanda khusus dari lawannya, budaya tinggi, budaya yang umum kita kenal. Budaya yang merangkum ranah cita, rasa, dan karsa yang dengannya peradaban terbaik dapat tercapai oleh manusia.

Adapun yang menjadi obat mujarab dari menjamurnya budaya pop ini, menurut saya, adalah "melek literasi" (dalam setiap bidang). Kembali ke awal mula Alquran diturunkan "iqra". Yang padanya merangkum semua makna eksplorasi, membaca, menulis, menyintesis dan mencipta yang berujung (idealnya) pada bismi Rabb: Pencapaian yang penuh sikap "sujud".[]

*Taufik Sentana
Konsultan SDM dari Albanna Internasional College
Peminat kajian sosial dan budaya.

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.