22 February 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Bukan Generasi Strawberi

...

  • PORTALSATU
  • 30 September 2018 14:30 WIB

ilustrasi.@istimewa/net
ilustrasi.@istimewa/net

"Kehilangan terbesar masyarakat kita adalah tatkala tradisi belajar tak tertransformasi dalam kehidupan generasi muda".

Oleh Taufik Sentana*

Kemilau generasi milenial menjadi sorotan banyak pihak. Tidak hanya negara yang mencanangkan puncak generasi kita pada tahun 2035-2045, tapi semua yang mau berfikir untuk kemajuan bangsa ini.Dari pendidik, akademisi, tokoh masyarakat dan tentu saja,  pengusaha serta para aktivitis atau unsur lainnya.

Kata generasi kita maknai sebagai penerus estafet pembangunan dan perbaikan bangsa secara kolektif. Mereka umumnya lahir menjelang tahun 2000 dan setelahnya. Kini mereka, generasi yang kita maksud tadi, sedang pada fase  bersekolah di SD-SMA dan yang  sedang berburu"  kerja selepas kuliah belakangan ini.

Mereka hidup dalam masa dimana pencapaian teknologi sedang meroket, seiring dengan demokratisasi dan era keterbukaan informasi.

Perkembangan tersebut dianggap memberikan banyak kemudahan dan alternatif pengembangan diri. Disamping mengundang permasalahan tersendiri, dari pergeseran nilai, gaya hidup serba wah dan instan, menurunnya moralitas dan beberapa penyakit sosial lainnya.

Sebutan milenial di awal paragraf tadi, mengindikasikan generasi yang sangat dekat dengan prangkat digital dan teknologi informasi lainnya, dari televisi, yuotube, media sosial dan jenis produk budaya mutakhir yang bisa mereka akses:Dari travel, kuliner, tempat nongkrong, hyper market dan plaza, belajar online dan sebagainya.

Adapun rasa "strawberi" yang kita nisbahkan ke generasi milenial, mulanya terinspirasi dari istilah dalam catatan akademisi dan profesional, Renald Kazali (Jakarta). Setelah penulis terusuri, generasi strawberi mulai digunakan di Taiwan pada era 90an. Generasi yang mencerminkan keunikan dan khas serta lingkup modernitas yang mengepung keseharian mereka. Mereka adalah generasi yang butuh rangsangan kreatif, cepat bosan dan butuh dukungan personal yang serius dalam hal kasih sayang (karena ikatan keluarga yang longgar). Adapun resiko terburuknya adalah, strawberi merupakan buah yang rentan, tidak tahan lama dan mudah busuk!. Walaupun kenyataannya strawberi adalah buah yang eksotis, menawan dan simpel.

Mengubah paradigma

Dalam rangka ikut mencerdaskan kehidupan berbangsa seiring dengan perkembangan generasi muda kita yang milenial-digitalis dengan  rasa strawberi, kiranya ada beberapa poin untuk mengubah paradigma di atas hingga tidak menjadi generasi strawberi yang mudah busuk dan dijangkit penyakit.

Pertama, menghidupkan tradisi belajar. Yaitu dengan upaya menanamkan sikap ingin tahu, melek literasi dan selalu terlibat dalam upaya perkembangan pengetahuan. Baik di sekolah, kampus maupun di masyarakat. Dengan banyak melibatkan partisipasi generasi muda lewat persuasif, ajakan dan sesuai dengan gaya mereka. Kehilangan terbesar masyarakat kita adalah tatkala tradisi  belajar ini tak tertransformasi dalam kehidupan generasi muda.

Kedua, melestarikan kontrol sosial.
Masyarakat akan rusak secara sendiri, dengan hilangnya kontrol sosial yang dibangun bersama lewat peraturan, kerjasama, pendampingan dan melibatkan banyak pihak. Demikian pula komunitas milenial ini, bila mereka lepas dari sistem nilai yang dianut oleh masyarakatnya maka generasi muda yang kita maksud akan hanyut dalam gaya hidup bebas yang ditawarkan perkembangan media dan TIK.
Memperhatikan perkembangan perilaku mereka dan melakukan feedback yang baik terhadap mereka, niscaya masyarakat kita akan terlepas dari masalah sosial yang kompleks.

Ketiga, pusat kegiatan berbasis komunitas.
Ini adalah tawaran dalam rangka menyikapi darah muda yang dinamis, penuh semangat dan energik. Menyemarakkan rangkaian kegiatan yang berbasis komunitas anak muda dan memobilsasi aktivitas mereka untuk tujuan luhur. Dari kegiatan sosial, hiburan edukatif, perlombaan, penelitian, jelajah alam dan seterusnya dengan disupervisi" (dan didukung penuh) oleh para profesional, lembaga daerah dan citivitas kampus khususnya.

Demikianlah pembaca, sedikit uraian tentang upaya mengubah paradigma generasi strawberi yang cenderung lembek, manja, serba mudah dan mudah diserang "penyakit". Usaha kita untuk mereka akan berdampak jangka panjang yang berbuah kemajuan dan peradaban.[]

*Taufik Sentana
Peminat kajian sosial-budaya.
Guru di MTs Harapan Bangsa. Staf pengembang program SMPIT Teuku Umar Meulaboh.
Bergabung dalam Ikatan Dai Indonesia.

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.