16 December 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Mutia Wardah, Sipir Cantik Asal Manyak Payed

...

  • CUT ISLAMANDA
  • 26 July 2018 09:40 WIB

Mutia Wardah. @dok. pribadi
Mutia Wardah. @dok. pribadi

LHOKSUKON - Mendengar kata penjara, kita pasti membayangkan sebuah tempat yang tidak menyenangkan dengan tembok tinggi dan jeruji besi. Di dalamnya dikurung para pelanggar hukum, mulai pelaku korupsi, narkoba, kekerasan, pencurian, asusila, pembunuhan, dan kejahatan lainnya.

“Menyeramkan!” Itu hal yang dibayangkan Mutia Wardah saat pertama menginjakkan kakinya di Rumah Tahanan Cabang Lhoksukon, Aceh Utara. Namun, siapa sangka, setelah menjalani tugas sebagai sipir ternyata penjara itu tidak seseram yang dibayangkannya.

“Saya masih ingat betul, awal Februari 2018 ketika pertama kali bertugas di pemasyarakatan ini, rasanya agak deg-degan dan takut. Setelah saya jalani malah biasa saja. Ternyata Rutan itu tidak mengerikan seperti yang saya bayangkan,” ujar Mutia Wardah, ditemui portalsatu.com di Rutan Lhoksukon, Selasa, 24 Juli 2018.

Di Rutan itu, Mutia bertugas meminta identitas setiap tamu yang ingin membesuk narapidana atau tahanan. Perempuan 21 tahun ini juga bertugas memeriksa barang bawaan tamu dan menggeledah badan pengunjung wanita.

“Saya juga bertugas apel Warga Binaan Pemasyarakatan atau WBP dan melakukan penggeledahan kamar tahanan wanita, serta pengajian bersama WBP wanita. Saat masuk blok (kamar tahanan) awalnya takut, tapi sekarang sudah terbiasa karena WBP di dalam juga baik dan tidak ada sikap yang aneh-aneh,” ucap gadis asal Gampong Sampaimah, Kecamatan Manyak Payed, Aceh Tamiang itu.

Hampir saban hari, Mutia melihat para tahanan digiring dengan tangan diborgol saat akan mengikuti persidangan di Pengadilan Negeri Lhoksukon. “Melihat wajah-wajah mereka yang akan disidang lengkap dengan baju tahanan rasanya bukan takut, tapi iba karena diborgol bersama. Namun ya itu konsekuensi dari perbuatan mereka yang melanggar hukum. Jika tidak dirantai pasti kaburlah,” kata Mutia.

Gadis cantik berhidung mancung itu menyebutkan, menjadi sipir bukanlah cita-citanya, melainkan sebuah keberuntungan yang membawa berkah. “Saya tidak pernah berpikir atau bercita-cita menjadi sipir Rutan. Saat kuliah di Universitas Samudra Prodi Teknik Informatika, pada pertengahan semester teman-teman mengajak mendaftar sebagai CPNS Kemenkum HAM dengan ijazah SMA. Di awal seleksi berkas dan pengukuran tinggi badan lulus. Berlanjut ke seleksi ujian pengetahuan berbasis sistem Computer Assisted Test (CAT) dan seleksi lanjutan di Samapta, ternyata juga lulus. Saya melihat itu sebuah keberuntungan, karena di antara teman-teman yang mendaftar bersama, hanya saya yang lulus,” ungkap Mutia.

Mengikuti seleksi CPNS Kemenkum HAM merupakan sebuah perjuangan baginya. Mutia harus bolak-balik Aceh Tamiang – Banda Aceh sendirian dan menumpang tidur di tempat kos temannya.

“Dukungan dari keluarga begitu besar, orangtua selalu menyemangati dan mengingatkan untuk latihan fisik termasuk lari pagi dan sore hari. Saat saya malas lari sendirian keliling kampung, orangtua terus memberi semangat. Saat itu orangtua saya sempat bernazar, jika saya lulus akan melaksanakan salat sunah di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Alhamdulillah, saya lulus dan nazar telah ditunaikan. Saya melihat kelulusan saya karena dukungan dan doa dari orangtua. Saya bersyukur, karena sekarang bisa ikut membantu keluarga juga,” kata anak kedua dari empat bersaudara itu.[]

Editor: IRMANSYAH D GUCI

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.