15 December 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Potret Kreatif Seorang Mahasiswa

...

  • PORTALSATU
  • 18 September 2018 16:30 WIB

ilustrasi. Foto via id.oxforddictionariescom
ilustrasi. Foto via id.oxforddictionariescom

Oleh Taufik Sentana*

Sejak beberapa hari lalu saya sempat memandu seorang mahasiswa untuk program menulis kreatif. Awalnya saya ingin membuka program reguler atas nama Forum Literasi Indonesia. Berhubung perkara teknis dan waktu yang sempit maka saya urungkan. Sayapun hanya fokus pada usaha memandu atau membimbing mahasiswa yang saya maksudkan tadi. 

Ia mengenal saya lewat komunitas kampus dan sempat juga membaca beberapa tulisan ringan yang saya tulis. Niat baiknya untuk dipandu dalam hal menulis kreatif ini semakin menarik ketika ia mengaku belum pernah sama sekali menulis seperti yang ingin ia tulis kemudian.

Mahasiswa penuh semangat ini ingin mengikuti Lomba Cipta Cerpen Nasional yang bertemakan kebangsaan. Bila sekadar artikel atau opini, menurutnya, ia pernah ikut, tapi kalau menulis cerita pendek, ia mengaku buntu.

Yang belum saya tanyakan adalah, 'kenapa dia ingin mengikuti lomba ini, sementara ia tidak punya pengalaman dan wawasan seputar yang dilombakan'? Di sini kita tidak membahas motif-motifnya, anggap saja ia memang sedang termotivasi dan tertantang mempelajari hal-hal yang tak beririsan langsung dengan kuliahnya.

Idenya berawal dari hobi membaca buku

Pada pertemuan pertama, sekitar 60 menit, saya mengarahkan perhatiannya untuk memahami teknik cerpen secara umum, motivasi dan minat khususnya (membaca buku) yang mungkin berkaitan dengan tema lomba. Dari chatting awal lewat WA, mahasiswa ini sudah saya minta untuk membuat satu paragraf seputar lingkungan terdekatnya. Dengan pendekatan ini setidaknya saya dapat melihat kemampuannya menyampaikan gagasan, menyusun narasi dan unsur khas personalnya. Maka walaupun ia mengaku sangat gelap dalam menulis cerpen, dengan bekal kemampuan "menyajikan" yang tampak dari paragraf percobaannya, mahasiswa ini berpeluang bisa menyelesaikan cerita pendeknya.

Jadi dari pertemuan pertama di atas, mahasiswa tersebut telah menetapkan ide yang akan diangkat, tokoh, latar, konflik, alur dan penyelesaiannya. "Gambarkanlah cerita yang kita maksud ini di dalam benak khayalmu, hidupkan dengan dialog-dialog dan pastikan semua situasi di dalam cerita tampak nyata!" Pesan saya sebelum ia bergegas pulang.

Dalam pesan WA yang saya kirimkan, saya kembali menyemangati mahasiswa tadi agar ia terus pada rencana semula untuk mengikuti lomba sambil "menghidupkan" tokoh dan membangun alur ceritanya. 

Masih minus

Pada pertemuan yang kedua, apa yang dicapai oleh mahasiswa kita ini masih minim, di mana alur cerita belum ia tuntaskan, tokoh-tokoh dalam cerita belum ditonjolkan sepenuhnya, termasuk teknik penggambaran situasi dalam cerita yang ia angkat. Hanya ia sudah tahu bagaimana akhir dari cerpennya dan apa saja "tugas-tugas" tokoh yang akan ia tampakkan. Di sini saya membantunya menghidupkan situasi cerita, melebarkan tokoh, memerhatikan dialog dan tetap menjaga "rasa ingin tahu pembaca". Untuk keperluan yang terakhir ini, kami sepakat memulai dari memberikan judul lebih dinamis dan merangsang rasa untuk membaca. "Senyum anak pedalaman" agaknya lebih menarik daripada "Seratus buku untuk anak pedalaman".

Selang beberapa hari, selepas saya pulang dari luar kota, saya sempatkan untuk membimbing kembali mahasiswa tersebut. Pada pertemuan ini, sang mahasiswa tampaknya lebih fresh karena sudah menyelesaikan ceritanya sesuai rencana, tanpa ada perubahan yang drastis. Saya hanya membantunya dalam membuat paragraf dialog yang tepat, memperbanyak dialog yang relevan dan efisien serta menjamin agar ceritanya berakhir dengan elegan dan tak dipaksakan. Saya rencanakan di pertemuan selanjutnya kami hanya fokus untuk memperbaiki beberapa ejaan dan tanda baca untuk kemudian memastikan cerpen si mahasiswa tadi bisa dikirim tepat waktu. 

Dengan riset, cerpen jadi lebih kaya

Berdasarkan pemahaman dasar dan praktik langsung yang dilakukan mahasiswa tadi, serta tekadnya untuk menyelesaikan cerita, saya meyakinkan dirinya bahwa ia sudah dapat menulis cerita lain atau mengembangkan cerpennya menjadi novel singkat. Bahkan, dengan sedikit riset, ia dapat menghadirkan cerpen yang lebih kaya dan variatif.

Begitulah sekelumit jejak dan potret kreatif seorang mahasiswa yang terdorong untuk menulis cerpen dengan kemampuan dasar yang minim. Akan tetapi, ia berupaya menghidupkan imajinasinya dalam membangun ide, mengenalkan tokoh, menyusun alur dan menyelesaikan ceritanya. 

Lewat pengalaman, mahasiswa ini akan menyadari bahwa dengan bercerita banyak sekali nilai moral-kehidupan tersampaikan. Yang pasti, nilai-nilai tersebut melebihi manfaat emosional dan finansial yang ia terima kemudian.[]

*Taufik Sentana, dari Forum Literasi Indonesia. Pernah bergabung di Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh periode awal. Mengkhususkan diri pada penulisan kreatif, esai sosial dan pendidikan. Di antara karya terbarunya adalah "Rembulan Jatuh di Taman".

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.