09 April 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Bukan Buatan Manusia, Ahli Imunologi Buktikan Corona Terbentuk Alami

...

  • portalsatu.com
  • 23 March 2020 11:00 WIB

@CNN
@CNN

Desas-desus yang menyebutkan bahwa Virus Corona COVID-19 adalah buatan manusia yang dibuat di labotarium Wuhan atau pekerrjaan Militer Amerika Serikat dibantah oleh hasil riset.

Para ahli menganalisis susunan genetik atau genom dari virus yang menyebabkan Covid-19 untuk penelitian baru, yang diterbitkan dalam jurnal Nature Medicine, Selasa, dan menetapkan bahwa tidak ada bukti bahwa virus itu dibuat di laboratorium atau direkayasa secara lain. 

BACA JUGA: Rasa Sakit Mengerikan Ini Dirasakan Penderita Infeksi Corona.

Mereka mengklaim bahwa dengan membandingkannya dengan jenis virus korona yang dikenal lainnya termasuk Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS) 2003 dan Sindrom Pernafasan Timur Tengah (MERS) 2012 yang mereka dapat pastikan Covid-19 berasal secara alami.

Salah satu penulis utama penelitian ini, Dr Kristian Andersen, seorang profesor imunologi dan mikrobiologi di Scripps Research, mengatakan: "Dengan membandingkan data sekuens genom yang tersedia untuk strain coronavirus yang diketahui, kita dapat dengan tegas menentukan bahwa SARS-CoV-2 berasal melalui proses alami . " tuturnya seperti dilansir dari The Sun Minggu (22/3/2020). BACA JUGA: Ilmuwan Wuhan Ingatkan Pemilik Golongan Darah Ini Mustahil Selamat dari Corona

Sebelumnya, sebuah Jurnal Ilmiah Nature yang diterbitkan pada tahun 2017 lalu tentang sekelompok ilmuan China membangun laboratorium tingkat keamanan hayati baru 4.

Ahli biologi molekuler Richard Ebright dari Rutgers University, Piscataway, mengungkapkan kekhawatiran tentang infeksi yang tidak disengaja, yang dia perhatikan berulang kali terjadi dengan pekerja laboratorium yang menangani SARS di Beijing.

Ebright sendiri seorang ilmuan yang memiliki sejarah panjang mengibarkan bendera merah tentang studi dengan patogen berbahaya, bahkan dia pada tahun 2015 mengkritik percobaan di mana modifikasi dibuat untuk virus mirip SARS yang beredar di kelelawar China untuk melihat apakah itu berpotensi menyebabkan penyakit pada manusia.

Ebright mempertanyakan keakuratan perhitungan Bedford bahwa setidaknya ada 25 tahun jarak evolusi antara RaTG13 dan virus yang disimpan di lembaga virologi Wuhan dan menteror pada tahun 2019 itu jenis nCoV, dengan alasan bahwa tingkat mutasi mungkin berbeda ketika dilewatkan melalui host yang berbeda sebelum manusia.

" Data Virus Corona 2019-nCoV adalah konsisten dengan masuk ke populasi manusia baik sebagai kecelakaan alami atau kecelakaan laboratorium." tutur Ebright kepada ScienceInsider

Bahkan Ebright menuding tim peneliti dari Institut Virologi Wuhan dan Aliansi EcoHealth telah menjebak kelelawar di gua-gua di seluruh China, seperti yang ada di Guangdong, untuk mengambil sampel virus Corona.

" Kelompok ini selama 8 tahun telah menjebak kelelawar di gua-gua di sekitar China untuk mencicipi kotoran dan darah mereka dari virus. 10.000 kelelawar dan 2000 spesies lainnya," tutur Ebright

Menurut Ebright, mereka telah menemukan sekitar 500 coronavirus baru, sekitar 50 di antaranya jatuh relatif dekat dengan virus SARS pada silsilah keluarga, termasuk RaTG13.

Bahkan kelompok ini telah mengambil sampel kotoran kelelawar yang mereka kumpulkan pada 2013 dari sebuah gua di Moglang di provinsi Yunnan," tegas Ebright.[]Sumber:sindonews.com

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.