19 September 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Hadapi Kanker dengan Pola Hidup Sehat; Olah Pikiran dan Perasaan

...

  • PORTALSATU
  • 04 January 2019 15:30 WIB

PERNAH merasakan jatuh bangun menghadapi kanker payudara membuat Yesaya Fermindi Hohu memetik satu pelajaran penting. Medis memang menjadi salah satu cara mengobati kanker. Namun, kita tidak boleh lupa kalau tubuh ini bukan cuma soal fisik, juga hati dan pikiran.

Karena itu, wanita yang akrab disapa Yesa ini kemudian “berdamai” dengan kanker payudara yang sempat menghuni tubuhnya. Proses pengobatan penyakit tersebut menyisakan cerita yang tak terlupakan.

Yesa berkisah, pada 2014 mulai merasakan ada benjolan di payudaranya. Waktu itu ia berpikir wajar kalau sedang datang bulan, muncul benjolan“Saat itu beberapa kali terasa ada benjolan, saya abaikan, mikir-nya masih wajar,” kata Yesa kepada KORAN SINDO di kediamannya, kawasan Tangerang, Banten, beberapa waktu lalu.

Sampai akhirnya Yesa tibatiba lumpuh. Tanpa berpanjang waktu, ia langsung memeriksakan diri ke dokter. Saat itu hasil diagnosis dokter menunjukkan bahwa ada kanker payudara stadium 4 yang sudah menyebar sampai tulang belakang.

Tak hanya itu, sel kanker juga sudah sampai rahim, kelenjar getah bening, hati, hingga mengalami pembekuan di otak. Saat itu, tak ada pilihan lain selain melakukan pengobatan. Yesa pun mulai intensif menjalani kemoterapi sebanyak 18 kali. Kemo untuk hepar (hati) enam kali, kemo untuk tulang lima kali, dan radiasi. 

Setelah operasi kesembilan, lalu diadakan pula radiasi ulang untuk kelenjar getah bening. Meski harus menjalani serangkaian pengobatan yang panjang dan melelahkan, Yesa tetap ingin menularkan semangatnya kepada teman-teman yang tengah berjuang melawan kanker.

Kekuatan yang dirasakan Yesa tidak serta-merta ada, sebab ia pernah mengalami fase terpuruk manakala vonis kanker menghampirinya. Saat itu Yesa banyak merenung, berdialog dengan Tuhan melalui salat seraya meyakinkan diri bahwa ia mampu melalui ini semua. 

Ia tidak berpikir bahwa kanker menyeramkan. Namun, yang lebih terpikir justru bagaimana berjuang menghadapinya. Tak hanya itu, perempuan kelahiran Lam pung ini juga mengisi masa-masa pengobatannya dengan menulis catatan pengalaman hidupnya di media sosial.

Sampai akhirnya, seorang kawan terketuk ingin mem bantu menerbitkan kisah Yesa ini hingga kemudian terbitlah buku bertajuk It‘s Me vs Cancer: Diary Kocak Survivor Kanker. Kehadiran buku tersebut menjadi penyemangat untuk kesembuhan Yesa. Melalui buku itu, Yesa sekalian menyampaikan kepada khalayak betapa deteksi dini itu sangat penting. 

Kini, dia bergabung dalam komunitas YKPI yang fokus pada upaya Sadari dan Sadanis untuk mendeteksi dini kanker. “Menulis seolah menjadi terapi bagi diri sendiri. Dengan menulis, saya tidak lagi stres. Ditambah dukungan dari keluarga dan teman-teman yang tidak ada habisnya,” ungkap Yesa.

Yesa menambahkan, para warrior dan survivor kanker bukan hanya butuh semangat, juga naungan dan perhatian. “Kita semua punya hak untuk memperjuangkan hidup,” ujarnya. Tak hanya semangat yang dibutuhkan, Yesa mengaku, saat divonis dokter terkena kanker, perubahan pola makan juga ikut berpengaruh. 

Dia lebih memilih makanan yang sehat dan terjaga kebersihannya. “Meskipun harus menjaga makanan, terkadang saya masih suka ke pengin makanan lain seperti gorengan. Tapi, tetap saya imbangi dengan mengonsumsi sayuran. Terlebih lagi dokter menyarankan saya untuk mengonsumsi sayuran berwarna,” katanya.

Untuk mendapatkan kebutuhan sayuran segar, Yesa mengaku sering berbelanja di swalayan Hero. “Saya sering berbelanja di Hero, tepatnya di Mal Taman Anggrek yang kebetulan dekat dengan lokasi saya check-up. Soalnya Hero banyak sekali menyediakan sayuran segar dan kualitasnya benar-benar terjaga,” sebut Yesa.[]Sumber:sindonews

Editor: THAYEB LOH ANGEN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.