26 November 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Jangan Sepelekan Perkara Makan

...

  • portalsatu.com
  • 25 October 2020 20:00 WIB

@kompas.com
@kompas.com

Oleh: Taufik Sentana*


Makan adalah proses yang panjang. Bukan kegiatan sederhana. Walau tampak biasa, karena sudah terlalu lama kita melakukannya. Sebagaian dari proses makan itu terjadi dalam mekanisme ilahi, automatis, setelah kita mencerna di mulut, selanjutnya menjadi kerja organ lain dalam tubuh, tanpa kita perintahkan, lalu makanan itu dicerap saripatinya dan disalurkan ke seluruh tubuh, sebagian kecil dibuang, menjadi sampah, menjadi kotoran.

Sebelum makanan itu kita santap, prosesnya juga panjang. Dari tangan petani, nelayan, industri, distribusi, pasar dan dapur kita, lalu tiba di hadapan kita dalam rupa yang beragam: nasi, sayur,lauk pauk, roti dan termasuk minuman. 

Karena pentingnya perkara makan, ada ayat di Alquran yang khusus menyebutkan untuk "memperhatikan apa yang kita makan". Ini bukan hanya memperhatikan baik-buruk dan halal-tidaknya. Tapi juga indikasi kebesaran Allah dalam proses makan dan mekanismenya.
Bahwa dengan memperhatikan makan ini, seseorang bisa cukup merasa bahagia. Atau seseorang bisa merasa bersyukur dan bertambah khusuk.Apalagi bila hatinya dapat melihat  kenyataan tentang orang orang yang lapar, entah karena kesulitan ekonomi atau perang dan konflik.

Maka kegiatan makan, idealnya adalah ritus-fisikis yang penting. Yang terikat dengan sikap spiritual dan ketuhanan, bisa menjadi "ibadah". Sehingga kita dianjurkan membaca basmalah dan hamdalah. Sungguh, bukanlah makanan yang membuat kita bahagia dan gembira. Tetapi cara kita menyikapinya yang berbeda. Cobalah lihat orang yang sakit, tentu tiada selera padanya atau ada banyak pantangan baginya, sehingga makanan yang di hadapannya belum menjamin kebahagiaan dan kesehatannya.

Ada lagi yang tak boleh terlupa, bahwa apapun yang kita makan membutuhkan "air". Saat diproses di usus juga butuh air. Petani butuh air, nelayan butuh air, memasak di dapur butuh air. Dalam minyak gorengpun butuh "air", sebab awalnya ia hanyalah (misalnya) biji biji sawit yang banyak sekali membutuhkan air dalam perkembangannya.

Begitulah perihal makan kita, bukan sesuatu yang sederhana dan sepele. Bahkan itu tak lepas dari keberadaan air, yang sering kita anggap biasa.
Untuk itu, mari kita selalu bersyukur dan meyakini kecukupan Allah atas apa yang kita terima, Dialah Ni'mal Kaafi(Sebaik baik Yang Mencukupi), Alhamdulillah.[]

*Peminat literasi sosial dan dakwah
Ikatan Dai Indonesia.Aceh Barat.

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.