28 October 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Penanganan Wabah Penyakit Menurut Ilmuwan Muslim Klasik (3-4)

...

  • REPUBLIKA
  • 14 March 2020 10:30 WIB

Praktik kedokteran Islam tempo dulu (ilustrasi).(wordpress.com)
Praktik kedokteran Islam tempo dulu (ilustrasi).(wordpress.com)

Andalusia (Spanyol) pada abad ke-14 juga ikut terimbas the Black Death. Hanya saja, para sarjana Muslim setempat lebih lanjut meneliti apa penyebab dan bagaimana metode penanganannya. Di antara mereka adalah Ahmad bin Ali bin Kha timah. Ilmuwan dari Almeria itu menulis Tahsil al-Gharad al-Qasid fii Tafil al-Marad al- Wafid sekitar tahun 1349. Ibnu Khatimah menduga buruknya kualitas udara sebagai pemicu persebaran wabah.

Terkait the Black Death, ia menduga beberapa faktor penyebabnya. Misalnya, musim yang datang tak menentu sehingga mengubah drastis suhu udara, curah hujan, atau kecepatan angin. Selain itu, ia mengatakan, hawa tak sedap yang muncul dari bangkai-bangkai atau jasad yang dibiarkan terbuka juga turut memperparah persebaran wabah. Belakangan, pendapatnya tentang musim yang fluktuatif itu dibantah Ibnu al-Khatib.

Ilmuwan lainnya yang juga menelaah ihwal wabah berasal dari Granada, Spanyol. Dialah Muhammad bin Ali asy-Syaquri. Ia menulis Tahqiq an-Naba 'an Amr al-Waba'. Isinya terutama berkaitan dengan metode penanganan korban wabah. Sarjana Muslim berikutnya adalah Lisanuddin bin al-Khatib (1313-1374). Ibnu al-Khatib mengarang kitab Muqni'at al-Sail 'an al-Marad al-Hail. Di dalamnya, sosok asal Granada itu menjelaskan hipotesis tentang transmisi atau penularan penyakit.

Gagasan al-Khatib belakangan diadopsi oleh ahli biolog Prancis, Louis Pasteur, ratusan tahun kemudian. Ibnu al-Khatib memaksudkan Muqniat sebagai bantahan terhadap Ibnu Khatimah. Baginya, perlu penelitian yang lebih intens untuk menemukan penyebab suatu wabah. Tidak bisa ilmuwan hanya menduga-duga tanpa eksperimen, misalnya, dugaan menyebut perubahan musim sebagai musababnya. Dols mengutip salah satu uraian Muqni'at mengenai antisipasi wabah: Kebanyakan orang-orang yang telah mengadakan kontak dengan seorang penderita wabah akan meninggal dunia.

Sementara itu, mereka yang tidak begitu akan tetap sehat. Pakaian atau keranjang (yang sebelum nya dipakai penderita wabahRed) boleh jadi membawa penyakit ke dalam rumah; bahkan, sebuah anting sekalipun dapat berakibat fatal bila dipasang pada telinga seseorang (yang sehat). Penyakit itu dapat mun cul dari suatu rumah di suatu kota, kemudian ia menyebar dari orang ke orangtetangga, saudara, atau tamu rumah itu.

Suatu pelabuhan yang tadinya bebas dari wabah dapat ikut terjangkit setelah seorang pengidap berlabuh di sana. Bahkan, sekalipun ia berlayar dari kota lain yang jauh sekali dari pelabuhan itu. Al-Khatib juga menekankan keutamaan menjauhi keramaian atau tetap berada dalam rumah kecuali memang benar-benar perlu keluar. Hal itu dinilainya penting dilakukan kala wabah menerjang. Dia menutur kan suatu bukti, yakni seorang tokoh bernama Ibnu Abi Madyan.

Ulama yang tinggal di Sale tersebut, al-Khatib mengatakan, selama wabah berlangsung, hanya meng habiskan waktu di dalam rumahnya. Ia pun memasok persediaan kebutuhan sehari-hari serta melarang keluarganya untuk keluar rumah terlalu sering. Ketika banyak warga kota tempat tinggalnya terpapar wabah penyakit, Ibnu Abi Madyan dan keluarganya ternyata tetap sehat walafiat.

Contoh lainnya, lanjut al-Khatib, ialah narapidana di Barak Seville. Meskipun mayoritas Kota Seville lumpuh diterpa wabah, para tahanan di sana semua tak ikut sakit. Al-Khatib juga menuturkan kasus lain yang dilaporkan kepadanya, yakni orang-orang nomaden di Afrika Utara. Mereka diketahui hanya mengalami gejala ringan di tengah situasi wabah. Sebab, lanjut al-Khatib, tenda tempat tinggal mereka memiliki sirkulasi udara yang bagus. Alhasil, embusan angin dari luar tak lamalama terkurung di dalamnya.

Kesaksian Ibnu Battuta Syamsuddin Abdullah Muhammad bin Abdullah al- Lawati ath-Thanjiy bin Bathutha atau Ibnu Battuta (1304-1369) juga menulis tentang wabah. Berbeda dengan kalangan ilmuwan kedokteran, ia cenderung mencatatkan kesannya mengenai persebaran wabah di daerah-daerah yang didatanginya. Dalam catatan perjalanannya, Rihlah, ia menuturkan kejadian yang dialami nya di Halab (Aleppo), Suriah.

Waktu itu, Juni tahun 1348, ia sedang mengikuti pertemuan dengan para ulama setempat. Tiba-tiba, datanglah seseorang yang mengabarkan, suatu wabah penyakit menyeruak dari arah Mesir dan kini tiba di Gaza. Ross E Dunn dalam the Adventures of Ibn Battuta: A Muslim Traveler of the 14th Century (2012) menjelaskan perihal ini. Begitu Ibnu Battuta mendengar keterangan dari musafir tersebut, ia justru memutuskan untuk kembali ke selatan.

Baru sampai di Kota Homs, ia menyadari persebaran wabah sudah merebak di mana-mana. Ia mencatat, tak kurang dari 300 orang warga setempat meninggal dunia akibat penyakit pes. Ibnu Battuta pun meneruskan langkah kakinya ke Damaskus. Di sana, ia mendapati jumlah korban jiwa sudah mencapai dua ribu jiwa per hari. Kota itu pun lumpuh. Aktivitas sehari-hari menjadi terhenti sama sekali. Dalam suatu bagian dari Rihlah-nya, Ibnu Battuta menuturkan kesaksian yang cukup memilukan.

Orang-orang di sini berpuasa tiga hari berturut-turut. Akhir hari puasa itu adalah Kamis. Pada akhir ma sa puasa itu, seluruh amir, syarif, qadi, dan dokter ser ta seluruh elemen masyarakat berkumpul di Masjid Raya (Damaskus). Begitu masjid itu penuh orang, sepanjang Kamis malam itu mereka menghabiskan waktu dengan mengaji dan berdoa bersama. Keesokan harinya, setelah shalat subuh berjamaah  mereka semua keluar dari masjid.

Setiap orang memegang mushaf Alquran bahkan amir (kepala negara) keluar dengan telanjang kaki. Semua penduduk itu melakukan eksodus semua: laki-perempuan, anak-anak hingga dewasa. Orang Yahudi ikut dengan membawa kitab sucinya masingmasing; orang Kristen juga dengan Alkitabnya; ibu menggandeng anak-anaknya; semua orang larut dalam tangisan; semua memohon belas kasihan Tuhan melalui kitab suci dan nabi masing-masing.

Waktu itu, orang-orang tak memahami penyebab wabah tersebut. Mereka hanya bisa pasrah kepada Yang Maha Kuasa. Uniknya, Dunn meneruskan, Ibnu Battuta dapat melewati perjalanan dari Damaskus itu dengan kon disi sehat walafiat. Padahal, gempuran wabah menge pungnya di mana-mana. Ia melanjutkan lang kahnya hingga tiba di Makkah pada 22 Sya'ban 749 atau 16 November 1348. Di sana, ia melakukan umrah, lalu menunggu hingga musim haji tiba.[]Sumber:republika.co.id
 

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.