26 February 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Aceh Hari Ini: 16 Marsose Dibunuh di Meurandeh Paya

...

  • ISKANDAR NORMAN
  • 26 January 2020 07:42 WIB

Patroli pasukan Marsose Belanda di pedalaman Aceh [Repro: The Dutch Colonial War In Aceh]
Patroli pasukan Marsose Belanda di pedalaman Aceh [Repro: The Dutch Colonial War In Aceh]

Pada 26 Januari 1905, pasukan patroli Belanda dengan kekuatan 16 orang pasukan di bawah pimpinan Sersan Vollaers berpatroli untuk memburu gerilyawan Aceh. Mereka dibunuh ketika beristirahat di Meunasah Meurandeh Paya, Aceh Utara.

HC Zentgraff dalam buku Atjeh mengungkapkan, Sersan Vollaer sudah sangat berpengalaman dalam dalam patroli di wilayah Aceh, karena itu ia tidak melakukannya di malam hari. Setelah melakukan patroli sehari penuh, Vollaers dan pasukannya mencari tempat yang dianggap aman untuk beristirahat. Mereka beristirahat di Meunasah Gampong Meurandeh Paya yang halamannya cukup luas sehingga dapat digunakan untuk mendirikan bivak.

Pasukan Belanda itu istirahat di dalam bivak, sementara Vollaers istirahat di dalam meunasah sambil membaca buku. Karena merasa aman beristirahat di situ, mereka membiarkan orang-orang Aceh keluar masuk dalam perkarangan bivak, termasuk ke dalam meunasah tempat pedagang buah-buahan, telur ayam, dan sejumlah makanan dan menawarkannya kepada pasukan Belanda tersebut.

Akan tetapi di balik semua itu, masing-masing “pedagang” itu dibekali dengan kelewang dan rencong. Setelah mereka masuk dan situasi memungkinkan, salah satu di antara mereka memberikan komando untuk menyerang. Dari 17 tentara Belanda hanya satu yang selamat setelah melarikan diri, 16 lainnya tewas dicincang dengan pedang. Tentang penyerangan di bivak itu, Zentgraaff menulis:

“Dengan suatu gerakan yang sangat cepat, semua orang Aceh yang ada di tempat itu memainkan kelewang dan rencongnya, menusuk dan menebas leher serdadu Belanda. Sasaran pertama adalah Vollaers sendiri yang sedang tidur-tiduran di dalam meunasah sambil membaca buku. Dari 17 orang pasukan Belanda itu, 16 orang tewas dan satu orang dapat melarikan diri melalui kampung menuju Lhokseumawe. Begitu mengetahui peristiwa itu, dengan satu pasukan militernya dan tergesa-gesa Kapten Swart segera menuju ke Meurandeh Paya. Tapi di sana yang mereka temukan tinggal 16 jenazah yang tercincang secara mengerikan. Mayat sersan Vollaers itu terdapat di atas meunasah dengan buku bacaan tergeletak di sampingnya.”

Belanda kemudian melakukan penyelidikan. Hasilnya diketahi bahwa penyerangan itu tidak dilakukan secara tiba-tiba, tapi sudah direncanakan jauh-jauh hari. Dan otak di balik serangan itu diyakini oleh Belanda adalah Teuku Chik Di Tunong, suami kedua Cut Mutia. Belanda kemudian menangkap Teuku Chik Di Tunong pada 5 Maret 1905 ketika menuju ke Lhokseumawe. Ia ditangkap oleh Letnan Van Vuuren dan dijebloskan ke dalam penjara.

Hasil penyelidikan Belanda terhadap keterlibatan Teuku Chik Di Tunong dalam penyerangan tersebut kemudian terbukti. Pemerintah Belanda kemudian menjatuhkan hukuman mati dalam bentuk hukuman gantung kepada Teuku Chik Di Tunong. Tapi karena sepanjang pemerintahan Belanda di Aceh belum pernah memberlakukan hukuman gantung, Gubernur Militer Van Daalen yang menggantikan Van Heutsz mengubahnya menjadi hukuman tembak mati, sebagai penghargaan terhadap Teuku Chik Di Tunong sebagai pejuang yang berhak mati secara terhormat.[**]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.