19 October 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Aceh Hari Ini: Abu Beureueh Membentuk Yayasan Baitul A’la Lilmujahidin

...

  • ISKANDAR NORMAN
  • 09 October 2019 09:08 WIB

Pada 9 Oktober 1979, Tgk Muhammad Daod Beureueh membentuk Yayasan Baitul A’la Lilmujahidin sebagai badan hukum untuk mengelola masjid dan pendidikan di komplek masjid Baitul A’la Lilmujahidin di Beureunun. Sebagai ketua yayasan ditunjuk M Nur El Ibrahimy, sementara Tgk Muhammad Daud Beureueh sebagai Ketua Kehormatan. Masjid ini kini dikenal sebagai Masjid Abu Beureueh.

Masjid Baitul A’la Lilmujahidin merupakan salah satu karya Tgk Muhammad Daod Beureueh di Beureunuen. Sekretaris pribadi Abu Daod Beureueh yakni Abu Mansor menceritakan tentang tentang Masjid Baitul A’la Lilmujahidin yang dikenal sebagai Masjid Abu Beureueh itu.

Masjid Baitul A’la Lilmujahidin, dibangun atas prakarsa Abu Daod Beureueh  pada tahun 1950. Pembangunannya sempat tertunda sampai sepuluh tahun akibat konflik DI/TII di Aceh. Saat itu Abu Daod Beureueh sendiri naik gunung memimpin pemberontakan terhadap pemerintah pusat yang dinilainya telah ingkar janji terhadap masyarakat Aceh.

Setelah pemberontakan reda, pada tahun 1963, pembangunan masjid itu dilanjutkan, dengan dana bantuan masyarakat. Figur Abu Daod Beureueh yang karismatik dan disegani, membuat masyarakat berbondong-bondong menyumbangkan hartanya untuk pembangunan masjid itu, meski hanya beberapa butir telur dan segenggam beras. Sampai akhirnya mesjid itu kokoh berdiri, dan diresmikan pemakaiannya pada tahun 1972.

Abu Daod Beureueh pula yang kemudian menabalkan nama Baitul A’la Lilmujahidin sebagai nama mesjid tersebut. Namun nama itu seolah tak dikenal, karena masyarakat lebih suka menyebut masjid itu sebagai Masjid Abu Beureueh. Dari sumbangan materi masyarakat dalam bentuk infaq, dan sedekah, Abu Beureueh kemudian berinisiatif mendirikan sebuah lembaga pendidikan (dayah) di komplek masjid itu.

Namun akibat eskalasi konflik Aceh yang kembali meningkat, dengan lahirnya Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Pada tahun 1979 Abu Beureueh ”diculik” dan dipindahkan ke Jakarta, karena khawatir GAM akan menggunakan pengaruh Abu Beureueh dalam pergerakannya.

Setahun kemudian, beberapa tokoh Aceh berinisiatif mendatangi Abu Beureueh yang ”dipenjara” dalam sangkar republik di Jalan Wijaya Kusuma nomor 6, Jakarta, untuk membicarakan beberapa hal, termasuk soal pengurusan masjid Baitul a’la Lilmujahidin.

Hadir dalam pertemuan itu, M Nur El Ibrahimy, Drs Ma’mun Dawud, Tgk Hasballah Haji, Tgk H M Nur Syik, Tgk Adnan Saud, Tgk H A Wahab Yusuf, Tgk Said Ibrahim, Cekmat Rahmani, Zaini Bakri, Ishak Husein, dan Tgk H Yacob Ali.

Hasil pertemuan itu, pada 9 Oktober 1979, dibentuklah Yayasan Baitul A’la Lilmujahidin sebagai badan hukum untuk mengelola masjid dan pendidikan di komplek masjid tersebut. Sebagai ketua yayasan ditunjuk M Nur El Ibrahimy, sementara Tgk Muhammad Daud Beureueh sebagai Ketua Kehormatan.

Harta kekayaan masjid pun kemudian diinventarisis. Semua harta itu oleh Abu Beureueh tidak dinyatakan sebagai milik yayasan. Sebaliknya milik  Allah dan masyarakat muslim yang harus dimanfaatkan untuk kepentingan ummat di bawah pengelolaan yayasan.[**]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.