07 July 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Aceh Hari Ini: Belanda Menangkap Teungku Chik Di Tunong

...

  • ISKANDAR NORMAN
  • 05 March 2020 08:25 WIB

Patroli tentara berkuda Belanda [sumber: The Dutch Colonial War In Aceh]
Patroli tentara berkuda Belanda [sumber: The Dutch Colonial War In Aceh]

Suami kedua Cut Meutia, Teungku Chik Di Tunong ditangkap Belanda pada 5 Maret 1905 ketika menuju Lhokseumawe. Ia ditangkap oleh Letnan Van Vuuren dan kemudian diekekusi tembak mati di pantai.

Teungku Chik Di Tunong yang bernama asli Teuku Cut Muhammad merupakan Uleebalang Keureutoe wilayah selatan, ia diangkat oleh raja Aceh, Sultan Muhammad Daodsyah untuk memimpin Keureuto, tapi wilayah utara dikuasai oleh Teuku Syamsyarif abangnya Teungku Chik Di Tunong yang diangkat oleh Belanda. Praktis pada masa itu Keureutoe memiliki dua pimpinan, satu yang diangkat oleh Belanda satu diangkat oleh Sultan Aceh.

Menariknya, Teuku Syamsyarif merupakan suami pertama Cut Meutia yang difasah (diceraikan) oleh Cut Meutia karena tunduk kepada Belanda. Cut Meutia kemudian menikah dengan Teuku Cut Muhammad yang tak lain adalah adik iparnya sendiri, penguasa wilayah selatan Keureutoe yang masih setia pada perjuangan melawan Belanda, karena wilayahnya di selatan maka ia lebih dikenal dengan panggilan sebagai Teungku Chik Di Tunong, seorang uleebalang yang juga ulama.

Penulis Belanda, HC Zentgraaff dalam buku Atjeh menjelaskan, dalam masa tahun 1903 sampai 1905, Teuku Chik Di Tunong melakukan konsolidasi terhadap para pengikutnya dan tetap merencanakan perlawanan kepada Belanda. Di awal tahun 1905 terjadi lagi suatu penyerangan yang amat dahsyat dan memilukan bagi Belanda. Pada 26 Januari 1905, sebuah pasukan patroli Belanda dengan kekuatan 16 orang pasukan di bawah pimpinan Sersan Vollaers berpatroli untuk memburu gerilyawan Aceh.

Vollaer sudah sangat berpengalaman dalam dalam patroli di wilayah Aceh, karena itu ia tidak melakukannya di malam hari. Setelah melakukan patroli sehari penuh, Vollaers dan pasukannya mencari tempat yang dianggap aman untuk beristirahat. Mereka beristirahat di Meunasah (surau) Gampong Meurandeh Paya yang halamannya cukup luas sehingga dapat digunakan untuk mendirikan bivak. Pasukan Belanda itu istirahat di dalam bivak, sementara Vollaers istirahat di dalam meunasah sambil membaca buku.

Karena merasa aman beristirahat di situ, mereka membiarkan orang-orang Aceh keluar masuk dalam perkarangan bivak, termasuk ke dalam meunasah tempat pedagang buah-buahan, telur ayam, dan sejumlah makanan dan menawarkannya kepada pasukan Belanda tersebut. Akan tetapi di balik semua itu, masing-masing “pedagang” itu dibekali dengan kelewang dan rencong. Setelah mereka masuk dan situasi memungkinkan, salah satu di antara mereka memberikan komando untuk menyerang. Dari 17 tentara Belanda hanya satu yang selamat setelah melarikan diri, 16 lainnya tewas dicincang dengan pedang. Tentang penyerangan di bivak itu, Zentgraaff menulis:

“Dengan suatu gerakan yang sangat cepat, semua orang Aceh yang ada di tempat itu memainkan kelewang dan rencongnya, menusuk dan menebas leher serdadu Belanda. Sasaran pertama adalah Vollaers sendiri yang sedang tidur-tiduran di dalam meunasah sambil membaca buku. Dari 17 orang pasukan Belanda itu, 16 orang tewas dan satu orang dapat melarikan diri melalui kampung menuju Lhokseumawe. Begitu mengetahui peristiwa itu, dengan satu pasukan militernya dan tergesa-gesa Kapten Swart segera menuju ke Meurandeh Paya. Tapi di sana yang mereka temukan tinggal 16 jenazah yang tercincang secara mengerikan. Mayat sersan Vollaers itu terdapat di atas meunasah dengan buku bacaan tergeletak di sampingnya.”

Belanda kemudian melakukan penyelidikan. Hasilnya diketahi bahwa penyerangan itu tidak dilakukan secara tiba-tiba, tapi sudah direncanakan jauh-jauh hari. Dan otak dibalik serangan itu diyakini oleh Belanda adalah Teuku Chik Di Tunong.[**]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.