13 December 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Aceh Hari Ini: Perang Merebut Pangkalan Udara Jepang di Lhoknga

...

  • ISKANDAR NORMAN
  • 30 November 2019 07:50 WIB

Kuburan massal pejuang Aceh yang tewas dalam perang Lhoknga [Repro: Talsya]
Kuburan massal pejuang Aceh yang tewas dalam perang Lhoknga [Repro: Talsya]

Pada 30 November 1945, Lhoknga mendadak ramai dengan para pejuang yang berdatangan dari berbagai arah baik Kabupaten Aceh Besar maupun dari kota Banda Aceh. Dalam pertempuran itu 84 serdadu Jepang tewas dan 37 pejuang Aceh gugur.

Perang rakyat Aceh dengan Jepang di Pangkalan Udara Lhoknga, merupakan salah satu faktor penentu yang kemudian membuat Aceh menjadi satu-satunya daerah di Indonesia yang tidak bisa dimasuki Sekutu/NICA, karena persenjataan Jepang di Aceh dilucuti oleh Residen Aceh. Di daerah lain senjata Jepang dilucuti oleh Sekutu/NICA.

Sejarah perang ini bermula dari usaha rakyat Aceh untuk memperoleh persenjataan yang lebih banyak guna menghadapi Sekutu/NICA yang kemungkinan akan masuk ke Aceh. Para pejuang yang datang dari berbagai desa di Aceh Besar, melakukan penyerbuan ke lapangan terbang dan pusat perbekalan Jepang di Lhoknga, Aceh Besar.

Pertempuran besar terjadi antara tentara Jepang yang menggunakan senjata modern, dengan sekitar 5.000 lebih pejuang Aceh bersenjatakan senapan, rencong, kelewang, dan tombak. Pertempuran itu juga diperkuat oleh satu regu pasukan bersenjata dari Angkatan Perang Indonesia/Tentara Keamanan Rakyat (API/TKR).

Redaktur surat kabar Semangat Merdeka, Teuku Ali Basjah Talsya dalam tulisannya mengungkapkan, pertempuran dimulai sejak pukul 09.00 pagi hingga pukul 14.00 siang. Setelah banyak jatuh korban dari kedua belah pihak, pihak Jepang mengajukan gencatan senjata dengan isyarat melambaikan bendera putih.

Tentara Jepang di pangkalan Lhoknga memberitahu tentang penyerangan tersebut kepada Gunseibu (Pemerintah Jepang) di Banda Aceh. Seorang opsir Kempeitai (polisi militer) Jepang kemudian melaporkan hal tersebut kepada Residen Aceh, Teuku Nyak Arief.

Para pejabat Aceh yang bersama pejabat Jepang kemudian menuju Pangkalan Lhoknga. Dari pihak Aceh hadir Residen Aceh Teuku Nyak Arief, Wakil Residen Teuku Muhammad Ali Panglima Polem, Ketua Komite Nasional Daerah Aceh Tuanku Mahmud, Ketua Pemuda Republik Indonesia (PRA) Ali Hasymi, Ketua Dewan Penerangan PRI Said Ahmad Dahlan, tokoh masyarakat Teuku Ali Lamlagang, serta beberapa perwakilan masyarakat lainnya.

Kepala Pemerintahan Jepang di Aceh (Aceh Syu Chokang) S Iino meminta kepada para pejabat dan tokoh masyarakat Aceh tersebut untuk mengendalikan suasana dan menghentikan perang.

Rombongan pejabat Jepang dan pejabat Residen Aceh baru tiba di pangkalang Lhoknga sekitar pukul 15.30. Perjalanan dari Banda Aceh ke Lhoknga berjalan lambat karena sepanjang jalan banyak pohon yang ditumbangkan oleh masyarakat untuk mencegah tentara Jepang dari luar Lhoknga masuk ke pangkalan.

Ketika rombongan pejabat kedua belah pihak sampai di sana, dilakukan perundingan. Teuku Nyak Arief selaku Residen Aceh mengatakan menyetujui usulan perundingan yang diajukan pihak Jepang dengan syarat Jepang harus menyerahkan pangkalan udara Lhoknga tersebut kepada Residen Aceh.

Pihak Jepang menolak syarat tersebut, suasana perundingan menjadi tegang kembali dan hampir tidak ada jalan keluar. Jepang berusaha mempertahankan pangkalan udara Lhoknga karena pangkalan tersebut merupakan pangkalan angkatan udara Jepang terkuat di bagian barat Indonesia.

Pangkalan udara Lhoknga juga merupakan basis pertahanan Jepang paling tangguh di Sumatera, setiap hari diterbangkan pesawat-pesawat tempur Jepang untuk menggempur Sekutu pada saat perang Pasifik (perang Asia Timur Raya) berlangsung. Karena penolakan Jepang tersebut, perang kembali terjadi. Baru pada pukul 17.00 sore perundingan dilanjutkan kembali.

Hasilnya, Jepang menyetujui menyerahkan pangkalan udara Lhoknga kepada Residen Aceh. Pasukan Jepang di pangkalan tersebut akan dipindahkan ke pangkalan udara Blangbintang. Tapi, untuk pemindahan tersebut Jepang meminta waktu 4 sampai 5 hari. Selama proses pemindahan tersebut Jepang meminta Residen Aceh menjamin keselamatan pasukan Jepang.

Residen Aceh menyanggupi jaminan keselamatan bagi tentara Jepang, syaratnya, setiap tentara Jepang yang pindah dari Lhoknga ke Blang Bintang tersebut hanya boleh membawa pakaian beserta satu senjata ringan baik pistol maupun senapan. Segala jenis senjata milik Jepang lainnya di pangkalan Lhongka akan dikuasai oleh rakyat Aceh. Jepang tidak bisa berbuat banyak, mereka merelakan semua jenis persenjatan mereka di pangkalan Lhoknga tersebut jatuh ke tangan pejuang Aceh.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.