12 November 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Aceh Hari Ini: PRI Aceh Rekrut Pejuang, Injo Beng Goat Ajak Etnis Tionghoa

...

  • ISKANDAR NORMAN
  • 23 October 2019 11:05 WIB

Ali Hasymi dan Syamaun Gaharu [foto: Repro Talsya]
Ali Hasymi dan Syamaun Gaharu [foto: Repro Talsya]

Pada 23 Oktober 1945, Pemimpin Pusat Pemuda Republik Indonesia (PRI) daerah Aceh mengeluarkan maklumat, memanggil pemuda-pemuda Aceh yang berusia 18 tahun ke atas, supaya mendaftarkan diri menjadi anggota PRI di daerah masing-masing, untuk memperkuat pasukan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Para pemuda tersebut akan dilatih secara militer oleh PRI. Isi maklumat tersebut seperti kutipan di bawah ini:

Segala pemuda Indonesia yang berumur 18 tahun ke atas, minta dicatat namanya untuk menjadi Pemuda Republik Indonesia di kantor cabang PRI di tiap-tiap wilayah, atau dengan perantara kantor-kantor ranting PRI yang tersebar di berbagai-bagai Mukim.

PRI mengarahkan dan mempersatukan tenaga pemuda-pemuda Indonesia guna menyokong Komite Nasional yang berdiri sebagai tulang punggung Republik Indonesia.

Sadar, bersatu, dan bersiaplah!

Kemerdekaan tanah air tidak didapat dengan jalan mengemis, tetapi ia harus ditempa oleh tangan putranya sendiri.

Hidup Indonesia, bahagia Indonesia

Merdeka.

Pemimpin Pusat PRI Daerah Aceh

Ketua I: A Hasymi

Setia Usaha: Tuanku Hasjim

Pada hari yang sama, tokoh muda Cina di Jakarta, Injo Beng Goat menulis surat khusus kepada masyarakar etnis Tionghoa di seluruh Indonesia. Kopian surat itu juga dibagi-bagikan kepada masyarakat etnis Tionghoa di Aceh.

Injo Beng Goat merupakan antan Hopredaktur surat kabar Keng Po yang terbit di Jakarta. Ia beberapa tahun mendekam dalam penjara ketika Jepang berkuasa. Dalam suratnya, ia menyerukan agar etnis Tionghoa ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari rongrongan Belanda dan sekutunya.

Daam suratnya Injo Beng Goat juga mengutip sejarah semangat perjuangan Sut Yat Sen dalam menentang penjajahan di Cina. “Jangan bersikap setengah-setengah, secara dagang melihat untung rugi,” tulisnya dalam surat itu.

Surat Injo Beng Goat itu mampu memperngaruhi sikap sebagian orang Cina di Aceh. pada 21 Desember 1945, kelompok etnis Tionghoa di Banda Aceh menyumbang uang tunai untuk perjuangan kemerdekaan sebesar f.37.495. Pada hari yang sama kelompok masyarakat etnis Tamil/India juga menyumbang sebesar f.8.035,50.

Meredamnya sentiment anti Cina di Aceh kemudian juga membuat para pedagang Cina bisa berbisnis dengan baik. Malah pada 3 Februari 1946, para pedagang etnis Tionghoa membuat perkumpulan Hua Chiau Chung Hui (Gabungan Perkumpulan Tionghoa Perantauan) di Banda Aceh.

Perkumpulan ini diketuai oleh Liong Jaw Hiong, saat peresmian di dinding kantor perkumpulan ini dipasang foto pemimpin Cina Dr Sun Yat Send an Chiang Kai Shek berdampingan dengan foto presiden Soekarno.Kemudian pada 26 Desember 1946, Liong Yaw Hiong selaku pemimpin etnis Tionghoa seluruh Aceh kembali menegaskan keberpihakan mereka kepada perjuangan bangsa Indonesia, dalam rapat akbar bangsa asing (etnis minoritas) di Banda Aceh.

Lebih jelas tentang itu bisa dibaca dalam buku Batu Karang di Tengah Lautan, Modal Perjuangan Kemerdekaan, dan buku Sekali Republiken Tetap Republiken. Ketiga buku ini dalam bagian-bagian tertentu juga membahas tentang keberadaan etnis Tionghoa di Indonesia pada masa perjuangan. Ketiga buku tersebut ditulis oleh pelaku sejarah perjuangan kemerdekaan di Aceh, Teuku Alibasjah Talsya.

Surat Injo Beng Goat itu disebarkan karena Sikap etnis Tionghoa (Cina) pecah soal perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Ada yang netral, ada yang mendukung perjuangan kemerdekaan, ada juga yang menjadi milisi bersenjata Sekutu melawan kelompok pejuang kemerdekaan.

Perbedaan sikap dan pandangan etnis Tionghoa ini bukan hanya terjadi di Batavia (Jakarta), tapi juga menjalar ke berbagai daerah. Seperti di Banda Aceh misalnya. Pada 13 Oktober 1945, para pemuda etnis Tionghoa dari Seutui, Peunayong dan daerah sekitar, berkumpul kemudian berkonvoi ke Ulee Lheu untuk menyambut masuknya Sekutu dan tentara Koumintang dari Cina.

Sepanjang jalan mereka mengolok-ngolok pejuang kemerdekaan dengan spanduk dan poster provokatif, “Tentara kami akan mendarat di sini, mereka prajurit-prajurit pilihan.” Pemuda Cina sangat mendukung masuknya Sekutu ke Aceh setelah Jepang kalah.

Sebaliknya, rakyat Aceh tidak menginginkan hal tersebut. Ribuan rakyat Aceh membuat pertahanan di sepanjang pantai. Dan sampai beberapa hari kemudian tentara Koumintang dari Cina yang disebut-sebut akan masuk Aceh bersama tentara Sekutu tidak pernah tampak batang hidungnya. Sejak itu sentimen anti Cina di Aceh mulai bangkit.

Sementara di Sumatera Timur etnis Tionghoa terlibat konfrontasi dengan kaum pribumi, setelah para pemuda Cina membentuk kelompok Poh An Tui, milisi bersenjata yang dilatih oleh Sekutu untuk melawan kelompok pejuang kemerdekaan.

Poh An Tui didirikan pada 1 April 1946, atas persetujuan mantan Gubernur Hindia Belanda di Sumatera AJ Spits, sebagai kelanjutan dari kesepakatan dengan Belanda dengan Inggris (Sekutu) pada 26 November 1945, yang memberi wewenang kepada pasukan Inggris untuk penaklukan Sumatera. Hal ini yang membuat sentiment anti Cina di Sumatera semakin parah.[**]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.