10 April 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Aceh Hari Ini: Rakyat Aceh Keluar dari Sabang

...

  • ISKANDAR NORMAN
  • 24 March 2020 06:55 WIB

Kapal SS Jan Pieterszoon di Pelabuhan Sabang pada masa kolonial [Foto: Collectie Tropenmuseum]
Kapal SS Jan Pieterszoon di Pelabuhan Sabang pada masa kolonial [Foto: Collectie Tropenmuseum]

Pada 24 Maret 1947 sebanyak 42 orang rakyat Aceh keluar dari Pulau Weh, Sabang yang sudah diduduki Sekutu/NICA sejak 25 Agustus 1945. Mereka diantar dengan kapal Jansen milik Belanda ke Belawan, kemudian diserahkan ke Residen Aceh di perbatasan Aceh dengan Sumatera Timur.

Meski jarak Sabang dengan pelabuhan Uleelheu hanya satu jam perjalanan kapal laut, Belanda tidak berani mengantar 42 rakyat Aceh itu ke daratan Aceh, tapi membawanya ke Belawan, karena sejak Sekutu/NICA menduduki Sabang, setiap kapal Belanda yang mendekati perairan Aceh selalu ditembaki dengan meriam, begitu juga dengan pesawat Belanda yang melakukan provokasi di udara Aceh, dalam seminggu dua pesawat Belanda ditembak jatuh oleh pejuang Aceh dengan meriam sisa-sisa peninggalan tentara Jepang.

Serah terima 42 rakyat Aceh di perbatasan itu dilakukan oleh pejabat militer Belanda kepada Residen Aceh yang diwakili oleh pimpinan beberapa badan dan laskar pejuang. Mereka disembut dengan penuh haru dan disebut sebagai “Republiken Sejati” yang tidak tunduk kepada kekuasaan Sekutu/NICA di Sabang.

Anwar, salah satu dari 42 rakyat Aceh yang meninggalkan Sabang itu mengatakan, mereka rela meninggalkan keluarganya di Sabang karena tidak mau hidup di bawah kekuasaan Sekutu/NICA. Kehidupan di Sabang saat itu sangat terbelenggu, apa lagi setelah orang-orang pro republik dicatat dan didata oleh Belanda.

Anwar mengatakan setiap hari menyaksikan kesibukan di pangkalan angkatan udara di Cot Bak U, Sabang, kegiatan kapal-kapal perang Belanda menyiapkan serangan ke daratan Aceh dan memburu tongkang-tongkang pengangkut barang ke Aceh.

“Jika keadaan itu kami saksikan terus-menerus tanpa mencari jalan keluar untuk menyatukan diri dengan saudara-saudara di Aceh, berarti kami tidak setia. Oleh karena itulah maka kami beramai-ramai meminta kepada penguasa Belanda di Sabang supaya dibenarkan pindah ke Aceh. Syukurlah permintaan kami dipenuhi dan sekarang kami telah berada di tengah saudara-saudara,” kata Awar.

Anwar bersama rekan-rekannya yang baru pindah dari Sabang itu juga meminta diberi tugas dalam laskar dan badan perjuangan, untuk ikut serta dan dilibatkan dalam perjuangan di Aceh. Lebih jelas tentang itu bisa dibaca dalam buku Modal Perjuangan Kemerdekaan yang ditulis oleh Teuku Alibasjah Talsya, terbitan Lembaga Sejarah Aceh (LSA) tahun 1990.[**]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.