31 March 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Aceh Hari Ini: Saudagar Aceh Diminta Untuk Tidak Loba

...

  • ISKANDAR NORMAN
  • 19 February 2020 08:14 WIB

Saudagar dan tokoh Aceh di Perwakilan Penang, Malaysia [Repro: Talsya]
Saudagar dan tokoh Aceh di Perwakilan Penang, Malaysia [Repro: Talsya]

Di tengah kemelut perang mempertahankan kemerdekaan, para pengusaha Aceh diminta untuk tidak menimbun barang dan logistik kebutuhan masyarakat. Para saudagar Aceh diminta untuk tidak bersikap kapitalis dan menghilangkan sifat loba.

Permintaan itu disampaikan melalui Maklumat Nomor 4 Ketua Bagian Kemakmuran Markas Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) Daerah Aceh pada 19 Februari 1946. Pada hari itu Belanda juga masih melakukan provokasi ke Aceh, baik melalui serangan laut maupun udara.

Benteng-benteng pertahanan rakyat disiapkan di beberapa titik strategis untuk menghalau masuknya kembali tentara Belanda ke Aceh melalui pasukan Sekutu/NICA. Untuk menghadapi segala kemungkinan buruk, maka para saudagar Aceh diminta tidak melakukan penimbunan barang kebutuhan rakyat, tapi tetap menjualnya dengan harga pasar.

Dalam maklumat itu dijelaskan bahwa para saudagar juga bagian dari prajurit negara yang harus siap sedia melatih diri, menghilangkan sifat loba dan tamak, membina para pengusaha baru untuk membangun perekonomian yang sehat.

“Mengalirnya barang-barang atau makanan, pakaian, beras dan lain-lain ke satu jurusan (tangan) serta disimpan untuk spekulasi (menunggu-nunggu naik harga untuk keuntungan yang lebih besar) adalah sifat kapitalis yang mesti disingkirkan untuk menciptakan kemakmuran negara dan rakyat,” tulis maklumat tersebut.

Pada hari yang sama, 19 Februari 1946, Ketua Komisi Harta Benda Negara meminta kepada barangsiapa yang mengetahui di mana beradanya harta-harta negara dan orang-orang yang menyimpannya supaya segera memberitahukan ataupun menyerahkannya kepada pihak yang berwajib.

Mereka yang melakukan penyerahan dengan cara sukarela tidak akan dilakukan tuntutan, sebaliknya barang siapa yang sengaja menyembunyikan, menghilangkan ataupun merusakkannya, pihak Komisi Harta Benda Negara tidak akan bertanggungjawab apabila terjadi sesuatu hal.

Lebih jelas tentang itu bisa dibaca dalam buku Batu Karang di Tengah Lautan halaman 249-250. Buku ini ditulis oleh pelaku pejuang kemerdekaan di Aceh Teuku Alibasyah Talsya dan diterbitkan oleh Lembaga Sejarah Aceh (LSA) pada tahun 1990 atas bantuan Menteri Kopersi, Bustanil Arifin yang juga pelaku pejuang kemerdekaan di Aceh.[**]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.