10 July 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Aceh Hari Ini: Suami Pertama Cut Nyak Dhien, Teuku Ibrahim Lang Nga Syahid

...

  • ISKANDAR NORMAN
  • 29 June 2020 08:32 WIB

Pejuan Aceh pada zaman kolonial [Repro: The Dutch Colonial War in Aceh]
Pejuan Aceh pada zaman kolonial [Repro: The Dutch Colonial War in Aceh]

Pada 29 Juni 1878Teuku Ibrahim Lam Nga, suami pertama Cut Nyak Dhien syahid bersama beberapa pengikutnya dalam sebuah pertempuran dengan pasukan Belanda di lembah Beuradeun Gle Tarom, Kemukiman Montasik, Sagi XXII Mukim.

Pasukan Teuku Ibrahim Lang Nga berkumpul di Glee Taron untuk mempersiapkan pengepungan kembali Krueng Raba. Ketika tengah malam, 29 Juni 1878 pasukan Belanda yang dipimpin Jenderal van der Heijden menyerbu tempat tersebut hingga menyebabkan Teuku Ibrahim Lam Nga, Teuku Rajoet, dan Panglima Nyak Man meninggal dunia. Ketiga syuhada ini dimakamkan di Mesjid Montasik, Aceh Besar

Teuku Ibrahim Lam Nga adalah putra dari Teuku Ujong Arun atau sering dipanggil dengan Imum Lamnga, Uleebalang dari Mukim 13 Sagi XXVI. Kekuasaan Teuku Ujong Arun ini membentang hingga ke ujung Pulau Weh, Sabang.

Teuku Ibrahim Lam Nga sudah terlibat dalam peperangan sejak Belanda pertama kali mendarat di Aceh pada 26 Maret 1873 di Pante Ceureumen, Uleelheu. Ia berjuang bersama Teuku Along, Teungku Imum Lueng Bata, Teuku Nanta Setia, Teuku Rajoet (abang Cut Nyak Dhien), dan Panglima Nyak Man. Perjuangan itu terus berlangsung hingga kedatangan Habib Abdurrahman dari Pulau Penang bersama 2.000 pasukannya.

Perjuangan mereka membuahkan hasil dengan berhasil merebut kembali Krueng Raba, Lhoknga pada awal bulan Februari 1878 dan sempat membuat pasukan Jenderal van der Heijden menjadi berantakan. Sayangnya perebutan wilayah itu tidak berlangsung lama karena adanya pengkhianatan dari Teuku Nek Meuraksa yang mendukung Belanda.

Pada tanggal 27 April 1874, Teuku Ibrahim Lam Nga memimpin rakyat Teuku Nanta Seutia yang ada di 6 mukim dan menyerbu Meuraksa melalui Kuala Cangkoi dan Krueng Neng. Mereka menyerang kawasan itu Teuku Nek Meuraksa telah bekerja sama dengan Belanda. Tapi pada penyerangan itu Teuku Nek Meuraksa dibantu oleh pasukan Belanda sehingga Teuku Ibrahim Lam Nga dan pasukannya terpaksa menyingkir kembali ke 6 Mukim.

Pada 30 Desember 1875, seluruh kampung di perbatasan 9 Mukim dan 6 Mukim telah ditaklukkan oleh Belanda. Benteng-benteng di dekat Bitai dan Lamjamee yang berada di bawah pimpinan Teuku Nanta Seutia juga telah dikepung oleh Belanda. Sekitar pukul tujuh pagi, pasukan Belanda bergerak dari 9 Mukim menuju Peukan Bada, ibu kota dari 6 Mukim. Teuku Ibrahim Lam Nga juga segera mempersiapkan keluarganya untuk mengungsi ke arah barat melalui Lampageu dan Lamteungoh dengan tujuan Pegunungan Paro dan Blang Kala, bahkan jika perlu ke arah 4 Mukim. Sedangkan perjuangan Teuku Ibrahim Lam Nga sendiri terus berlanjut dengan memimpin pasukannya di daerah Peukan Bada, Lammanyang, Lampadang, Ajun, Lam Hasan bahkan hingga ke Glee Bruek Aceh Barat.[**]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.