05 April 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Aceh Hari Ini: Tentara Jepang dan Hantu-hantu Blang Bintang

...

  • ISKANDAR NORMAN
  • 16 February 2020 07:23 WIB

Upacara pemberangkatan pasukan dari Aceh ke perang front Medan Area [foto: Talsya]
Upacara pemberangkatan pasukan dari Aceh ke perang front Medan Area [foto: Talsya]

Pangkalan Blang Bintang, Aceh Besar merupakan salah satu basis kekuatan Jepang di bagaian barat Indonesia. Namun setiap malam mereka “diteror” bayangan putih. Mereka pun kemudian pindah ke Uleelheu, Banda Aceh.

Kisah hantu-hantu Blang Bintang ini bisa dibaca dalam buku Batu Karang di Tengah Lautan halaman 244-245. Buku ini ditulis pelaku perjuangan kemerdekaan di Aceh, Teuku Alibasyah Talsya, dan diterbitkan Lembaga Sejarah Aceh (LSA) pada tahun 1990.

Talsya menulis bahwa pada 16 Februari 1946 mulai pukul 08.00 pagi di Banda Aceh digelar latihan perang TRI Divisi Aceh terdiri dari Resimen Banda Aceh, Resimen Meulaboh dan Resimen Bireuen. Latihan perang itu disaksikan langsung Residen Aceh Teuku Nyak Arief bersama para perwira, opsir-opsir, staf divisi dan pejabat pemerintah Residen Aceh.

Hadir pula saat itu Zainal Arifin Abbas selaku ketua bidang pengarang majalah Rentjong yang terbit di Binjai, Sumatera Timur (kini Sumatera Utara). Zainal Arifin menulis tentang penarikan 6.000 tentara Jepang ke pangkalan Blang Bintang.

Di Pangkalan Blang Bintang terdapat banyak persenjataan, baik senjata berat maupun ringan. Blang Bintang pada masa pendudukan Jepang merupakan pangkalan terkuat tentara Jepang di bagian barat Indonesia.

Sekitar pangkalan Blang Bintang ditanami ranjau dan pagar berduri. Akan tetapi, setiap malam tentara Jepang yang dikumpulkan di pangkalan itu melihat bayangan putih di sekitar pangkalan. Ketika ditembaki, jumlah bayangan yang muncul mendekati pangkalan semakin banyak.

Teror bayangan putih itu membuat tentara Jepang ketakutan, mereka akhirnya meningalkan pangkalan Blang Bintang menuju Uleelhee, Banda Aceh, untuk menunggu jemputan kapal yang akan membawa mereka meninggalkan Aceh.

Jepang memilih untuk tidak menunggu tentara Sekutu/NICA ke Aceh. Bila di daerah lain tentara Jepang dilucuti oleh Sekutu/NICA setelah kalah perang, tidak dengan Aceh, teror dan penyerangan terhadap Jepang membuat Jepang mempercepat meninggalkan Aceh, karena Sekutu/NICA tak pernah bisa masuk ke Aceh.

Karena itu persenjataan Jepang sebagian besar diambil oleh pejuang Aceh, termasuk lima pabrik senjata di berbagai daerah di Aceh, alat angkut, meriam penangkis serangan udara, meriam penangkis serangan laut dan berbagai persenjataan berat lainnya.

Tapi kemudian tentara Sekutu/NICA yang sudah masuk ke Indonesia dan menguasai hampir seluruh wilayah Indonesia, memerintahkan tentara Jepang di Medan untuk kembali ke Aceh mengambil kembali persenjataan yang sudah diserahkan kepada rakyat Aceh, hal yang tidak bisa dilakuka oleh Jepang dan Sekutu/NICA.

Dengan berbekal senjata rampasan dari Jepang itu, Aceh memperkuat Resimen Istimewa Medan Area (RIMA) sebuah pasukan dari Aceh yang dikirim ke perang Front Medan Area untuk membebaskan Sumatera Utara dari pendudukan Sekutu/NICA serta menghalau tentara Sekutu/NICA agar tidak masuk ke Aceh.

Sejarah kemudian membuktikan, Aceh sebagai satu-satunya daerah di Indonesia yang tidak bisa dimasuki oleh tentara Sekutu/NICA. Karena itu pula Presiden Soekarno kemudian menjuluki Aceh sebagai daerah modal kemerdekaan Republik Indonesia.[**]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.