21 April 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Hidup dan Matinya Abu Jahal, Si Penentang Rasulullah SAW (1)

...

  • REPUBLIKA
  • 12 February 2019 10:00 WIB

Dakwah Nabi Muhammad SAW selama di Makkah menghadapi banyak penentang dari para pemuka Quraiys. Di antara yang paling terkemuka adalah Abu Lahab alias Abdul Uzza, Abu Jahal, Umar bin Khaththab (sebelum memeluk Islam), Abu Sufyan bin Harb (sebelum menjadi Muslim), dan Ummu Jamil (istrinya Abu Lahab).

Kebencian Abu Jahal alias Amr bin Hisyam terhadap Rasulullah SAW begitu masyhur. Seperti diceritakan KH Moenawar Khalil dalam Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad(Vol 1), suatu kali Abu Jahal melihat Nabi SAW pergi ke masjid. Tiba-tiba, dia langsung menghardik dan melarang beliau SAW untuk mengerjakan shalat.

“Muhammad, apakah engkau marah dan berang kepadaku? Apakah engkau berani mengancam aku? Tidakkah engkau tahu bahwa aku ini seorang yang berharta banyak dan punya banyak kawan? Beranikah engkau padaku?” ketus Abu Jahal.

Rasulullah SAW bersikap sabar terhadapnya. Tidak menjawab sepatah kata pun. Turunlah wahyu dari Allah SWT, surah al-Alaq ayat 6-14.

Artinya, “Ketahuilah, sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas; Karena dia melihat dirinya serba cukup; Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali(mu); Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang; Seorang hamba ketika mengerjakan shalat; Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di atas kebenaran; Atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)?; Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling?; Tidaklah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?”

Keesokan harinya, Abu Jahal bertindak lebih parah. Dia mengangkut sebuah batu besar dari atas bukit, untuk kemudian dijatuhkannya ke muka masjid. Setelah itu, pemuka musyrikin ini menunggu Nabi SAW datang.

Rasulullah SAW tiba di lokasi dan tidak paham apa maksud Abu Jahal dengan perbuatannya itu. Beliau SAW lalu shalat di samping Ka’bah, tepatnya di Maqam Ibrahim.

Bak orang yang kalap, Abu Jahal lantas maju, hendak menjatuhkan batu tadi ke atas kepala Nabi SAW yang sedang sujud dalam shalatnya. Namun, belum sempat dia melakukan itu, tubuhnya tiba-tiba bergetar ketakutan.

Sebab Turunnya Ayat Allah SWT

Abu Jahal pun lari pontang-panting, sementara kawan-kawannya melihat dari kejauhan. Mereka menghampirinya dan bertanya, “Abul Hakam, mengapa tidak jadi melemparkan batu itu?”

Pertanyaan mereka dijawab Abu Jahal dengan suara parau, “Karena tiba-tiba di mukaku ada seekor unta yang amat besar, rupanya putih, yang telah membuka mulutnya di dekat kepalaku. Seumur hidupku belum pernah aku melihat unta sebesar itu, sebuas itu. Aku lari, takut bila unta itu memburuku.”

Dalam riwayat lain, Abu Jahal hendak menginjak tengkuk Nabi SAW ketika utusan Allah SWT itu bersujud dalam shalatnya. Namun, sebelum tindakan bodoh itu tuntas, yang bersangkutan sudah dicekam ketakutan, sehingga lari sekuat tenaga.

“Antara aku dan Muhammad ada sebuah parit dari api dan ada pula beberapa sayap,” kata Abu Jahal kepada kawan-kawannya kemudian.

Itulah asbabun nuzul surah al-Alaq ayat 15-19: “Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian), niscaya Kami tarik ubun-ubunnya; (Yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka; Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya); kelak Kami akan memanggil malaikat Zabaniyah; Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya, dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan).”

Mengejek Rasulullah Saw

Kisah lainnya terjadi ketika Nabi SAW sedang berada di masjid bersama dengan beberapa sahabat. Ketika lewat, Abu Jahal mendapati beliau SAW sedang shalat. Dia pun segera menemui teman-temannya, “Apa tidak ada di antara kalian yang memiliki kotoran dari sembelihan binatang yang sudah lama dan membusuk?” tanya dia.

Uqbah bin Abi Mua’ith, yang ada di antara mereka, lalu membawakan kepadanya kotoran yang dimaksud. Abu Jahal lalu melemparkan kotoran ke atas kepala Nabi SAW, yang sedang sujud di masjid. Melihatnya, orang-orang musyrikin itu tertawa terbahak-bahak.

Waktu itu, keadaan kaum Muslimin masih sangat lemah. Mereka tidak berani melawan Abu Jahal dan komplotannya. Seorang sahabat Nabi SAW kemudian berinisiatif pergi ke rumah beliau SAW untuk mengabarkan kejadian itu.

Fathimah dengan tergopoh-gopoh mendatangi masjid. Putri Rasulullah SAW itu langsung membuang kotoran dari atas kepala ayahandanya. Sesudah itu, barulah Nabi SAW mengangkat kepalanya dari sujudnya, seraya berdoa, “Ya Allah, hanya kepada Engkau aku menyerahkan keadaan kaum Quraisy.”

Mendengar doa itu, Abu Jahal dan kawan-kawan justru semakin keras tertawa. Mereka mengejek Rasulullah SAW. Nabi SAW memilih tidak meladeninya, untuk kemudian pulang ke rumah.[]Sumber:republika

Editor: THAYEB LOH ANGEN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.