15 November 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Kisah Maimun Saleh Si Penerbang dari Aceh

...

  • BOY NASHRUDDIN
  • 24 March 2016 22:45 WIB

Monumen Maimun Saleh di Aneuk Galong, Sibreh, Aceh Besar. @Boy Nashruddin Agus
Monumen Maimun Saleh di Aneuk Galong, Sibreh, Aceh Besar. @Boy Nashruddin Agus

Monumen ini merupakan wujud terima kasih Angkatan Udara Republik Indonesia kepada masyarakat Aceh.

TT-1216 masih terlihat gagah. Badannya masih utuh. Sepasang amunisi, peluru ledak dan detonator juga terlihat nangkring di kiri dan kanan sayapnya. Pesawat tempur Hawk 200 milik TNI Angkatan Udara (AU) tersebut terlihat hebat bercokol di atas beton di Simpang Aneuk Galong, Kecamatan Sukamakmur, Sibreh, Aceh Besar. Saban harinya, Hawk 200 ini diam seribu bahasa menyaksikan moda transportasi darat hilir mudik di jalan Banda Aceh-Medan.

Ka trep di sinan. Sengaja dipeuduk untuk mengenang Maimun Saleh, pilot pertama dari Aceh aseuli dari Gampong Aneuk Galong. Dia juara manuver, carong di peu pho pesawat (Sudah lama di sana. Sengaja ditempatkan di situ untuk mengenang Maimun Saleh, pilot pertama dari Aceh asli dari Gampong Aneuk Galong. Dia pandai menerbangkan pesawat),” ujar Ibrahim, salah satu warga setempat, medio pertengahan Maret 2016. Saat itu, Ibrahim sedang menyeruput kopi di salah satu warung dekat gapura Gampong Aneuk Galong Titi. Terpaut selemparan batu dari Monumen Maimun Saleh.

Maimun Saleh yang dimaksud adalah putra Aceh yang lahir di Aneuk Galong, Sibreh, Aceh Besar pada 14 Mei 1929. Ia menempuh pendidikan di Sekolah Taman Siswa dan Sekolah Menengah Islam di Koetaradja (Banda Aceh sekarang).

Maimun Saleh berhasil menjadi siswa penerbangan di Banda Aceh pada Agustus 1949. Dia kemudian dipindahkan ke Sekolah Penerbang di Kalijati pada 1950.

Setahun kemudian, tepatnya 1 Februari 1951, Maimun Saleh berhasil memperoleh ijazah penerbang kelas 3. Putra daerah Aneuk Galong ini kemudian masuk Squadron IV sebagai pengintai darat dan turut serta dalam semua operasi yang dijalankan.

Namun nahas, Sersan Maimun Saleh gugur dua tahun usai kelulusannya. Tepatnya pada 1 Agustus 1952, sekitar pukul 09.25 WIB, pesawat intai Auster IV-R-80 yang dikemudikannya mengalami kecelakaan di Pangkalan Udara Semplak, Bogor.

Informasi yang didapat dari situs TNI AU menyebutkan Sersan Maimun Saleh tewas seketika dalam kecelakaan tersebut. “Peristiwa yang sangat menyedihkan itu terjadi ketika diadakan latihan rutin di atas Komando Pangkalan Udara Semplak dan apa yang menyebabkan terjadinya kecelakaan tersebut belum dapat diketahui.”

Maimun Saleh gugur di usia relatif muda. Umurnya baru saja mencapai 25 tahun. Jasadnya dikebumikan di Gampong Aneuk Galong pada 2 Agustus 1952.

TNI AU kemudian mengabadikan nama Maimun Saleh sebagai lapangan terbang militer di Lhoknga. Namanya juga disematkan sebagai Detasemen AURI Banda Aceh pada 9 April 1954.

+++

PELETAKAN Pesawat TT-1216 Hawk 200 di Aneuk Galong dilakukan setelah puluhan tahun tragedi yang menimpa Maimun Saleh. Prosesi peletakan ini dipimpin Danlanud SIM Letkol Pnb Fachri Adamy yang dibantu oleh sejumlah personel Landasan Udara atau Lanud Sultan Iskandar Muda. Penempatan pesawat tempur buatan Inggris di atas monumen tersebut memakan waktu selama tiga jam. Sekitar pukul 17.30 WIB, pesawat itu bercokol dengan gagah di atas tugu.

Peletakan pesawat tempur di Aneuk Galong ini merupakan persembahan AURI kepada masyarakat Aceh untuk dijadikan sebagai monumen sejarah. Gagasan tersebut disampaikan oleh putra Aceh, Marsekal Udara Teuku Syahril yang saat itu menjabat sebagai Komandan Operasi Angkatan Udara I.

Pemberian pesawat ini juga sebagai bentuk terima kasih dan ikatan batin antara Angkatan Udara dengan masyarakat Aceh. Sebab, masyarakat Aceh yang pertama sekali membelikan pesawat terbang kepada Indonesia, yaitu Seulawah. “Dulu kan masyarakat Aceh yang pertama beli pesawat untuk Indonesia,” ujar Danlanud SIM Letkol Pnb Fachri Adamy seperti dirilis Serambi Indonesia edisi Selasa, 18 Januari 2011.

Hawk 200 yang diletakkan di Aneuk Galong ini merupakan pesawat asli dan bukan replika. Hal ini termasuk empat amunisi yang terdapat di bagian sayap pesawat, detonator dan peluru ledaknya. Sebenarnya jet tempur tipe Hawk 200 ini dibawa ke Aceh pada 2003 lalu. Pesawat ini mengalami kecelakaan saat melakukan penerbangan di Pekanbaru. Dalam kecelakaan itu mengakibatkan beberapa bagian pesawat retak, sehingga tidak bisa digunakan lagi untuk penerbangan.

“Secara fisik semuanya masih bagus, tapi tidak bisa terbang lagi karena retak,” kata Fahcri.

Dengan keberadaan TT-1216 Hawk 200 di Aneuk Galong ini, Aceh telah memiliki tiga monumen pesawat terbang. Dua sisanya adalah monumen pesawat RI-001 Seulawah yang berada di lapangan Blang Padang Banda Aceh dan pesawat jenis A4 SkyHawk TT-0435 buatan Amerika dari Skuadron 11 Makassar yang sekarang ditempatkan di apron Lanud Iskandar Muda Blang Bintang, Aceh Besar sebagai monumen kedirgantaraan.[]

Editor: BOY NASHRUDDIN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.