15 December 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Kisah Orang Mandailing di Malaysia (1)

...

  • portalsatu.com
  • 16 November 2019 10:00 WIB

Rumah godang atau rumah besar di Perak keluarga keturunan Mandailing di Malaysia. @@BBC.COM/Hafizah Kamaruddin
Rumah godang atau rumah besar di Perak keluarga keturunan Mandailing di Malaysia. @@BBC.COM/Hafizah Kamaruddin

Antara Melayu dan Jawa atau suku-suku lain Indonesia. Semua disebut Melayu, dan otomatis semua Islam. Bahkan keturunan Jawa di sana tampak heran ketika dituturkan bahwa di Jawa banyak orang Jawa tak beragama Islam. “Bagaimana mungkin ada orang Melayu yang bukan Islam?” Toh orang kita di Malaysia bukan cuma keturunan Jawa. Ada yang lain, yang cukup menonjol, yaitu orang Mandailing. Mereka juga Islam, tentu saja.

Seperti orang Jawa, kedatangan mereka di Malay¬sia yang pertama kali pun tak diketahui benar. Sejarah tak mencatatnya. Hanya, diduga bahwa para pemulanya adalah perantau temporer yang melakukannya karena adat.
Ketika negara-negara Hindu berkembang di pulau-pulau Selat Malaka, orang Sumatera merintis jalan ke Malaya. Tapi arus dua arah ini berkurang setelah berlangsung islamisasi Malaya di bawah Kerajaan Malaka, abad ke-15. Orang Mandailing, Tapanuli Selatan, secara budaya tak termasuk Melayu.

Baru pada abad ke-19, selama berlangsungnya Perang Paderi (1816-1830) di Sumatera, tatkala masyarakat Mandailing memeluk Islam, mereka “di melayukan”.

Kejadiannya dimulai oleh Belanda, yang dengan pelan tetapi mantap mencengkeramkan kukunya di Sumatera. Belanda-Belanda ini dimintai bantuan oleh raja-raja Mandailing yang waktu itu berperang melawan kaum Paderi Minang.

Belanda mengirim pasukan, dan mereka menang. Tetapi-para raja Mandailing harus membayar mahal setelah perang selesai, Belanda membuka kantor-kantor pemerintahan dan menjalankan fase baru proses kolonisasi. Termasuk meminta tenaga buruh dan hasil panen yang lebih banyak.

Bersama dengan ekonomi yang bobrok karena perang, tindakan penjajah itu meresahkan penduduk. Maka, mulailah arus pendatang Mandailing ke Malaya. Mereka pergi bersama para guru agama Minangkabau yang tinggal di Mandailing setelah Perang. Orang Minang, yang sudah banyak berdiam di Malaya sebagai penambang emas, menjadi ikutan mereka.

Jadi, tak mengherankan jika diketahui bermukimnya orang Mandailing di Malaysia pertama kali tahun 1870-an. Ketika itu muncul Kampung Kerinci dekat. Apalagi dengan adanya Belanda di daerah mereka.

Untungnya, orang Mandailing telah menyerap ilmu dari penjajahnya, yaitu mengolah perkebunan. Tanam Paksa di Sumatera, menurut Donald Tugby, orang Australia yang meneliti masyarakat Mandailing di Malaysia, yang diberlakukan dalam waktu singkat, telah membuat rakyat Mandailing terlatih dalam produksi tanaman keras. Itulah yang lalu mereka praktekkan di tanah air mereka yang baru.

Sekitar 20 tahun setelah dua perkampungan pertama di Perak itu, seorang guru agama membentuk lagi sebuah masyarakat Mandailing. Antara 1899 dan 1916, kembali terbentuk 24 kelompok di sebelah barat negeri. Sebagian besar merupakan kelompok kecil di lokasi baru. Tetapi lima lainnya bergabung dengan permukiman lama.

Sejak saat itu, sampai meletusnya PD II, di Malaya hanya terdapat lima kelompok baru masyarakat Mandailing. Semua merupakan perpindahan dari kampung lain yang mungkin telah penuh. Setelah berakhirnya PD II, sampai 1968, tercatat empat kelompok dipindahkan ke permukiman baru. Semuanya dilakukan selama periode darurat perang yakni ketika perlawanan komunis sedang hebat-hebatnya. Jadi, ini merupakan kebijaksanaan penguasa baru untuk membawa masyarakat yang hidup jauh terpencil ke dalam pengawasan pasukan keamanan, agar tidak sampai dipengaruhi gerilya ko¬munis.

 
MASJID JAMI REJOSARI, RENGIT, BATU PAHAT Kuala Kampar, dengan penghuni enam atau tujuh tukang besi. Tempat lainnya di Perak, Sungai Siput, yang juga tak jauh dari Kuala Kampar, yang terkenal dengan hasil produksinya pisau dan parang, juga desa-desa baru dengan sawahnya di Sungai bawah Changkat, Perak.

Menurut Leech, orang Eropa pengamat sejarah, penduduk sekitar situ sangat tergantung pada “orang-orang Melayu asing” yang ternyata Man¬dailing. Yap Ah Loy, kapitan Cina berpengaruh yang ikut mengembangkan Kuala Lumpur menjelang akhir abad ke-19, disebut-sebut ikut membujuk pemukim di perkampungan Mandailing dari Ulu Langat di Selangor untuk menanam padi.
Dengan cepat orang Mandailing menjadi makmur, dan tak berminat untuk pulang ke daerah asal.


Salah satu kampung Mandailing itu adalah Krangai, 125 km sebelah tenggara Kuala Lumpur. Sedikit pun tak terasa suasana Tapanuli di kampung itu. Rumah mereka,. semuanya berbentuk panggung, seperti juga rumah-rumah si Jawa Melayu. Rumah-rumah itu berjajar di sebelah kanan jalan tunggal desa yang sudah beraspal. Ada pula rumah yang sampai melahap punggung bukit di belakangnya.

Di sebelah lain jalan, agak menjorok ke dalam, terbentang hutan karet luas. Itulah sumber utama penghidupan penduduk yang berjumlah 300 jiwa. Dari hutan itu setiap bulan setiap orang bisa menyadap sampai 400 kg getah. Cukup untuk makan, menyekolahkan  anak,  dan  keperluan lain.

Suasana Tapanuli baru terasa ketika mendengarkan percakapan mereka. Semuanya menggunakan bahasa Mandailing, termasuk anak-anak yang di sekolah berbicara Melayu. Ini sungguh berbeda dengan suku-suku Sumatera lain yang tinggal di Malaysia suku-suku lain itu umumnya sudah tak tahu lagi bahasa datuk-datuknya. Bahkan ketika berbicara Melayu, lidah Mandai¬ling ini masih terdengar tebal.

“Tentu saja tebal lidah Bataknya,” kata Nyonya Suhaimi Nasution, yang bermukim di Kampung Baru Kuala Lumpur dan masih warga negara Indo¬nesia. “Mereka bergaul hanya dengan sesama mereka.” Lebih dari itu, bahasa Mandailing mereka konon lebih asli ketimbang yang di daerah asal mereka sendiri.

Sifat mereka yang tertutup itulah yang menyebabkan bahasa itu masih tetap sama dengan yang dipakai kakek-kakek mereka lebih 100 tahun lalu. Nyonya Nasution, ketika berkunjung ke Krangai dua tahun lalu, kadang-kadang tak mengerti beberapa perkataan yang mereka ucapkan, meski sama-sama berasal dari Mandailing Godang. Menurut dia, di daerah aslinya itu kata-kata itu sudah tak dipakai lagi. Sudah bercampur dan berubah mengikuti zaman.

Jika bahasanya masih murni, sebagian kebudayaan dari daerah asal mereka justru sebaliknya. Di Krangai, suling Batak tak pernah lagi dimainkan. Yang tersisa hanya upacara perkawinan, yang tampaknya masih asli. Menurut Abdulmaki Hasibuan, kopral polisi dari kampung itu, begitu selesai upaca¬ra perkawinan, pengantin wanita bersama barang-barang miliknya langsung diboyong ke rumah lelaki seperti biasanya adat Mandailing. Orang tua dan keluarga kedua mempelai, seperti adat asli, satu demi satu memberi nasihat bagi kerukunan pasangan baru itu, sementara sanak keluarga pengantin perempuan meratap karena sang putri akan mening¬galkan mereka.

Dalam saat-saat seperti itu berbagai bunga adat dipertunjukkan. Misalnya marcilek, silat juga upah-upah, sesajen untuk memuja semangat alias roh. Adat yang kedua ini juga dijalankan jika ada orang sakit atau meninggalkan kampung halaman. Sebaliknya, jika ada sanak yang datang dari jauh, upacara marjamu dilakukan.

Toh ada pula perbedaan pada upacara perkawinan itu. Pengantin tidak lagi duduk di tikar berlapis tiga seperti pada adat asli. Anak-anak mudanya ternyata lebih suka duduk di kursi. Meski demikian, masih saja ada yang membuat tikar pelaminan. Entah untuk apa.[]

<!--StartFragment-->(Sumber: Majalah TEMPO, 19 Januari 1985, “Selingan” yang berjudul “Orang Kita di Semenanjung’ halaman 33 – 43.  Laporan ini diongkoskan ketik pada kedai rental dengan biaya T.A. Sakti).<!--EndFragment-->

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.