07 December 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Kisah Orang Mandailing di Malaysia (2)

...

  • portalsatu.com
  • 17 November 2019 10:00 WIB

Rumah godang atau rumah besar di Perak keluarga keturunan Mandailing di Malaysia. @@BBC.COM/Hafizah Kamaruddin
Rumah godang atau rumah besar di Perak keluarga keturunan Mandailing di Malaysia. @@BBC.COM/Hafizah Kamaruddin

“Orangtua saya dulu sangat marah kalau mendengar anaknya mempunyai atau menyetel radio,” kata Nyonya Alimudin Lubis boru Pane. Menurut pengakuan istri ketiga kepala kampung ini, ia dan saudara-saudaranya tak takut diancam begitu macam. Mereka, kaum muda itu, tetap saja menyetelnya. Sampai akhirnya ayahnya bosan sendiri, dan membiarkan saja.

Di kampung Mandailing itu ada pula seorang pemuda yang terang-terangan tak mau mengikuti petuah para sesepuh kampung. Dia kawin dengan wanita Melayu bu¬kan Mandailing. “Kami warga negara Malaysia juga bangsa Malaysia. Tak boleh menutup diri dari orang luar, karena ini negeri multirasial,” katanya dengan yakin.

Tampaknya, keterbukaan semacam ini masih susah bagi umumnya penduduk Kampung Krangai, meski penduduknya menyatakan bahwa mereka tidak begitu. Wanita-wanita Krangai, terutama yang tua, akan menyelinap bersembunyi begitu melihat kemunculan seorang asing.

Bukti lain ketertutupan adalah   tak   adanya   orang   non Mandailing yang umumnya  bermarga Nasution, Lubis, Harahap, Siregar, Pulungan, Batubara, Daulay, Hasibuan, Pa¬ne tinggal di situ.  Kopral Hasibuan sendiri punya dalih. Kata dia, faktor bahasalah penyebabnya.  Masih  banyak orang tua di situ yang cuma bisa bahasa Mandailing. Pemuda yang kawin dengan wanita Melayu tadi tak mau tinggal di Krangai. Padahal, menurut adat, dia   harus   tetap   tinggal   di kampung  setidak-tidaknya sang istri.

Orang Kampung Krangai yang bekerja di “dunia luar” pun sedikit. Di antaranya beberapa orang menjadi guru, dan dua orang masuk perguruan tinggi, seorang di antaranya wanita belajar di AS. Ini betul-betul keistimewaan biasanya, begitu anak wanita menginjak usia sembilan tahun, ia diharuskan mengenakan tutup kepala.

Tetapi mewajibkan tutup kepala itu bukan adat. Di Mandailing sendiri, menurut Ny. Suhaemi Nasution, tak ada aturan seperti itu. Mungkin itu terjadi karena ketaatan kepada agama yang lebih terasa di Malay¬sia. Dalam banyak hal, agama memang membentuk mereka. Misalnya, mereka menolak program keluar¬ga berencana yang dijalankan pemerintah. Kopral Abdulmaki sendiri punya 18 anak dari dua istrinya.  

Yang luar biasa, Mandailing Malaysia ini menolak untuk manortor, menari tortor, yang sangat khas itu. Alasannya sama bertentangan dengan agama, yang melarang laki-laki dan perempuan yang bukan mahram bersentuhan. Meski begitu, upah-upah toh tetap dilakukan. Menurut pengakuan H. Yusuf Na¬sution, sekretaris jenderal Ikatan Kebajikan Mandai¬ling Malaysia (Iman), upah-upah tetap dilakukan karena dianggap hanya sebagai doa selamat dalam kenduri.

Kampung Krangai sebenarnya baru berusia sekitar 50 tahun. Kampung itu dibuka oleh Tuan Syekh Abdul Karim, guru agama vang datang ke Malaya bersama para pengikut. Mula-mula Tuan Syekh masuk Sungai Bil di Perak, setelah itu pindah ke Kampung Palang, tak jauh dari istana Yang Dipertuan Besar Negeri Sembilan di Sri Menanti. Karena kampung itu tak begitu luas untuk berkebun, Tuan Syekh lalu minta izin mengolah tanah lain. Diizinkan. Dan mereka memperoleh lahan di hutan perawan di daerah bukit sekitar 25 km dari Sri Menanti. Kampung itu lalu diberi nama Langkap.

Lama-kelamaan Tuan Syekh tak betah lagi. Tidak cuma karena terlalu jauh dari pekan di kota, tetapi juga karena tanah makin sempit dengan semakin bertambahnya orang Mandailing yang datang. la meminta tempat lain lagi kepada Yang Dipertuan. Dikabulkan. Dan ia pun membuka kampung baru itulah Krangai.

Orang Mandailing yang tinggal di Krangai, menurut Tengku Rahim pemuka adat yang bergelar Raja Malim Bendahara, kepala kampung dan cucu Tuanku Syekh berasal dari Kampung Tonggabesi, Sehepeng, Rokan, yang termasuk lingkungan Man¬dailing Codang. Karena Tuan Syekh terbilang pelopor, di samping menjadi guru agama, keturunannya diangkat sebagai kepala kampung mulai dari Tengku Alias, ayah Tengku Rahim.

Tetapi tak seorang pun tahu asal-usul gelar tengku yang dipakai keturunan Tuan Syekh. Gelar itu di Malaysia berarti keturunan raja atau bangsawan.

Yusuf Nasution, Sekjen Iman, juga tak bisa menerangkannya. Hanya, ada dugaan, gelar itu berasal dari tuanku, yang di Tapanuli Selatan dan Aceh biasa dipakai para guru agama.

Tengku Alias dikenal sebagai pembuka ranting Organisasi Kebangsaan Melayu Bersatu (UMNO) di kampung itu. Jabatan ketua kemudian diwariskannya kepada putranya, ketua yang sekarang, Tengku Rahim. Keanggotaan UMNO ini konon membawa keberuntungan. Misalnya meski kampung ini terpencil, beberapa kemudahan diperoleh dari pemerintah. Jalan raya beraspal, listrik, air minum, kredit, pupuk, langgar, masjid. Saat ini sebuah masjid jami yang lumayan besar sedang dibangun dengan biaya pemerintah.

Di Malaysia jumlah orang Mandailing kira-kira 35.000. Semuanya terdaftar dalam Iman. Mereka tinggal di Cubadak Selayang, Sungai Cincin di Gombak Selangor, Kedah, Perak, dan Pahang. Hanya yang di Negeri Sembilan yang belum terpengaruh tradisi luar.

Kampung lain, Tambah Tin, yang terletak tak begitu jauh dari kampung Tuan Syekh yang pertama, Langkap, yang kini tak dihuni lagi. Kampung ini bertetangga dengan Krangai. Penduduknya cuma sekitar 100 jiwa. Karena itu, kampung itu digabungkan dengan Kra¬ngai di bawah satu kepala kampung.

Yang luar biasa, penduduk Tambah   Tin   sangat   dihargai penduduk Melayu di sekitarnya, terutama karena ketekunan mereka. Ny. Saadiah H. Ali, misalnya,  yang   rumahnya di Kampung   Talang,  sekitar 20 km di bawah Langkap, mengakui  orang-orang Mandailing ini sangat besar jasanya dalam menyediakan bahan  pangan bagi  penduduk sekitar. Ibu hajjah itu sendiri bukan orang Mandailing, ia keturunan Pagaruyung, Minangkabau.

Lebih jauh Ny. Saadiah berkisah “Kalau ada sawah kami yang kurang subur,  kami biasanya mengupah orang Mandailing untuk mengerjakannya. Dalam waktu singkat sawah kami menjadi cantik.” Soalnya, menurut ibu hajjah tadi, kalau sudah bekerja, orang Mandailing hanya beristirahat untuk makan dan sembahyang. Baik pria maupun wanitanya, semuanya pekerja yang kuat dan rajin, tak suka membuang waktu. Senjatanya cuma cangkul dan beliung.

Mereka, menurut Nyonya Saadiah lagi, juga sangat tertarik pada penemuan baru. “Seorang wanita Mandailing pernah menanyakan kepada saya tempat membeli beras ketan kuning. Katanya dia pernah makan ketan seperti itu, dan rasanya sangat lezat,” kata Ny. Saadiah. Setengah ketawa sang nyonya memberitahu bahwa ketan semacam itu tak ada. Yang ada ketan biasa, cuma dimasak dengan santan dan kunyit. Orang Mandai¬ling itu manggut-manggut paham, dan dengan cepat mencobanya bahkan kemudian menjadikannya tradisi.

Bahkan tradisi yang seperti punya merekalah yang dipakai Iman untuk melestarikan kebudayaan Man¬dailing di Malaysia. H. Yusuf Nasution, sang sekjen, malah tak berhenti sampai di sini. la juga berusaha mengembalikan adat istiadat yang telah punah, dengan jalan memasukkan lagi ketentuan adat asli yang di daerah asal tidak lagi berlaku.

Pemerintah Malaysia memang menyokong usaha semacam itu. Pemerintah kebetulan sedang berusa¬ha menghidupkan kembali kebudayaan suku-suku Melayu. Mereka takut, kalau dibiarkan saja, kebu¬dayaan itu akan hilang atau tercemar kebudayaan lain.  Seorang peneliti Australia, Donald Tugby, berpendapat bahwa kebudayaan Mandailing di Malaysia ternyata “sudah luntur”. Donald, yang pernah tinggal di daerah Mandailing pada 1955-1956, mulai mengadakan survei di permukiman Mandailing di Malaysia tahun 1962, dan diulangi tahun 1968, 1971, 1972, 1973, dan 1974. Penelitian itu ditulisnya dalam buku Cultural Change and Identity: Mandailing Immigrants in West Malaysia.

Dia tadinya berharap akan menemukan sistem sosial Mandailing pra-PD II masih berlaku pada masyarakat Mandailing di Malaysia. Ternyata, dari 32 ... ( ada yang hilang, tapi terjumpai lagi di bawah!).

 Itu tentang Tambah Tin. Ada pula desa lain yang masih tergolong murni pula. Namanya Lanjut Manis. Penduduknya juga sangat dihargai rakyat sekitar.

Yang agak berbeda adalah sejarahnya. Kampung itu dibuka setelah perlawanan komunis sesaat setelah Jepang pergi. Laskar komunis ini, yang terkenal dengan nama Gerakan Bintang Tiga, sempat berkuasa di Malaysia selama tiga hari. Setelah Inggris masuk lagi, mereka ditumpas. Banyak komunis yang lari ke hutan sekitar Kampung Langkap, yang susah dijangkau komunikasi. Mereka mengancam penduduk kampung dan minta disediakan bahan makanan.

Tak ada pilihan lain penduduk memenuhinya. Maka, pemerintah, yang mendapat info, segera memindahkan orang-orang Mandailing itu ke perkampungan baru. Lahirlah Kampung Lanjut Manis. Tradisi mereka pun masih asli.
kelompok masyarakat yang diselidikinya, tak satu pun yang masih melaksanakan sistem itu. Bahkan ternyata mereka telah betul-betul “kehilangan kebu¬dayaan” yang dibawa dari daerah asal.

Perubahan ini, menurut Tugby, terjadi karena berbagai sebab. Yang pertama, kemauan penduduk sendiri. Berikutnya, karena pembangunan ekonomi, seperti pembukaan tambang-tambang timah. Dan terakhir, karena kegiatan pemerintah, terutama da¬lam pembangunan pedesaan.

Tugby menilai, cuma tinggai beberapa kelompok Mandailing yang tak begitu berubah. Mereka tinggal di daerah-daerah sawah basah dan perkebunan karet, misalnya Krangai, Tambah Tin, dan Lanjut Manis.
Karena itu, tiga kampung ini agaknya kampung Mandailing yang istimewa di Malaysia. Selebihnya baraneka sudah melebur.

(Sumber: Majalah TEMPO, 19 Januari 1985, “Selingan” yang berjudul “Orang Kita di Semenanjung’ halaman 33 – 43.  Laporan ini diongkoskan ketik pada kedai rental dengan biaya T.A. Sakti).

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.