10 April 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Kisah Said Abubakar dan Misi Intelijen Jepang di Aceh

...

  • ISKANDAR NORMAN
  • 23 February 2020 08:52 WIB

Jendral Fujiwara pemimpin Kolone Kelima Fujiwarakikan [Repro: Hasjmy]
Jendral Fujiwara pemimpin Kolone Kelima Fujiwarakikan [Repro: Hasjmy]

Said Abubakar diantar dengan kepala Jepang dari Singapura untuk masuk ke Sumatera, tapi ditangkap di perairan Brandan dan dijebloskan ke penjara. Sebuah telegram dia kirim ke Aceh, sebuah misi rahasia Fujiwarakikan, misi mengusir Belanda dengan bantuan Jepang.

Prof Ali Hasjmy dalam buku Semangat Merdeka halaman 95 menjelaskan, Fujiwarakikan ini disebut juga sebagai Kolone Kelima (Vijfde Kolone) di Asia Tenggara. Untuk masuk ke Aceh, Kepala Intelijen Jepang  Mayor Fujiwara membangun hubungan secara rahasia dengan Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) melalui perantara Said Abubakar, mereka kemudian mendirikan Gerakan Fujiwarakikan di Aceh untuk melawan Belanda. Tugas-tugas mereka melakukan sabotase dan perang urang saraf, serta perang fisik.

Tapi Said Abubakar yang melakukan kerja sama dengan Jepang setelah pertemuan di Singapura, ia diantar dengan sebuah kapal untuk masuk ke Sumatera. Tapi ia bersama 30 kawannya ditangkap di perairan Pangkalan Brandan dan ditahan di oleh polisi Sektor Barat.

Said Abubakar kemudian mengirim surat ke Aceh, memberitahukan tentang penahanannya itu. Surat itu dibahas oleh para pemimpin gerakan di Aceh. Mereka mengetahui ada misi rahasia antara intelijen Jepang dan Said Abubakar. Maka dari Aceh diutuslah Ahmad Abdullah dan Teuku Zainul Abidin Samalanga untuk berangkat ke Medan menjenguk Said Abubakar dalam penjara.

Kepada Ahmad Abdullah dan Teuku Zainal Abidin diceritakan tentang “kerja sama” dengan Jepang untuk melawan Belanda. Dari Medan Ahmad Abdullah dan Teungku Zainul Abidin Samalanga kembali ke Aceh membawa misi rahasia Said Abubakar tersebut.

Ahmad Abdullah kemudian menjumpai Teungku Abdulwahab di Seulimuem untuk memperluar gerakan, mereka kemudian naik kereta api menuju Sigli menjumpai Ketua Umum PUSA Teungku Muhammad Doad Beureu’eh. Lalu dari Sigli kembali lagi ke Banda Aceh bersama Teungku Muhammad Daod Beureueh, Teungku Abdulwahab Seulimuem untuk menjumpai Teuku Nyak Arif di kediamannya di Lamnyong. Mereka membicarakan tentang pembentukan Kolone Kelima Fujiwarakikan, gerakan ini akan digunakan untuk mengusir Belanda di Aceh. Setelah pertemuan di Lamnyong itu didirikanlah “Barisan F” di seluruh Aceh.

Tak lama kemudian Said Abubakar dan rekan-rekannya dibebaskan dari penjara. Pembebasan itu juga karena polisi memastikan bahwa mereka lari dari kekejaman Jepang, alasan yang sesuai dengan kondisi saat itu. Meski kenyataannya kapal Jepang yang mengantar mereka ke perairan Branda sebelum menuju darat dengan sekoci.

Bebasnya Said Abubakar dengan rekan-rekannya dari tahanan, membuat gerakan Fujiwarakikan dan “Barisan F”. Keberhasilan pertama Said Abubakar setelah lepas dari tahanan adalah melaukan serangan ke pangkalan Lhoknga, Aceh Besar yang ditempati oleh Angkatan Udara Australia dan tentara Hindia Belanda asal pribumi (KNIL).

Gerakan Kolone Kelima Fujirawakikan ini terus meluas ke seluruh Aceh, mereka melakukan serangan-serangan terhadap Belanda, serta menyiapkan pendaratan Jepang di Aceh.[**]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.