21 July 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia

Roza Georgiyevna Shanina
Kisah Sniper Cantik Mematikan Uni Soviet, Berperang Sampai Titik Darah Terakhir

...

  • Intisari Online
  • 19 December 2018 13:00 WIB

Roza Georgiyevna Shanina. Foto via intisari.grid.id
Roza Georgiyevna Shanina. Foto via intisari.grid.id

Uni Soviet sebagai salah satu negara dengan kekuatan perang terhebat, terkenal memiliki banyak angkatan bersenjata. Uni Soviet punya pasukan sniper atau penembak jitu yang cukup hebat. Di antara para sniper itu, ada regu sniper wanita.

Salah satu sniper terhebat yang dimiliki Uni Soviet pada masa Perang Dunia II bernama Roza Georgiyevna Shanina. Sniper andalan Uni Soviet ini baru berusia 19 tahun dan sudah membunuh 59 lawannya selama periode PD II.

Shanina sepertinya memang terlahir dengan kemampuan militer yang baik. Remaja ini baru bergabung dengan militer pada tahun 1941 setelah kematian kakaknya dalam perang.

Awalnya Shanina menjadi relawan di bagian pelayanan umum saat perang dan tidak terjun langsung dalam perlawanan.

Kala itu, wanita yang berperang, apalagi menjadi penembak jitu adalah hal yang dianggap tabu. Namun Shanina ingin menjadi penembak jitu di garis depan dan akhirnya dia mendapat izin untuk beraksi.

Shanina selalu bisa mengenai personel musuh dan membunuhnya dengan sekali tarikan senapan. Dia juga mendapat pujian karena mampu berulang kali melakukan double hit (menembak dua lawan dengan dua peluru yang ditembakkan secara berurutan).

Pujian tak hanya datang dari Uni Soviet, tapi juga dari Kanada. Tahun 1944 sebuah surat kabar Kanada menggambarkan Shanina sebagai "teror gaib dari Prusia Timur".

Berkat kemampuan menembaknya, Shanina menjadi sniper wanita Soviet pertama yang mendapat penghargaan Order of Glory.

Shanina terus meningkatkan kemampuan menembak jarak jauhnya. Pada 9 Juni 1944, potret manisnya ditampilkan di halaman depan surat kabar Soviet Unichtozhim Vrage.

Sayangnya, saat Operasi Bagration dimulai pada 22 Juni 1944, seluruh unit penembak jitu perempuan Soviet ditarik kembali ke pangkalan.

Shanina mengajukan permohonan agar bisa tetap hadir di garis depan, tapi ditolak mentah-mentah oleh komandannya.

Remaja ini nekat pergi ke garis depan untuk membantu negaranya berperang, tapi malah dibawa ke pengadilan karena nekat melanggar aturan.

Nahas, pasukan batalion Shanina nyaris semuanya terbunuh pada tanggal 16 Januari 1945.

Kala itu peperangan melawan Jerman dan anggota batalion Shanina yang hanya berjumlah 78 orang hanya tinggal tersisa 6 orang termasuk Shanina.

Shanina terluka parah pada 27 Januari 2945 saat melindungi perwira lain yang terluka. Bagian dada Shanina tertusuk dan terluka lebar, dan dia tak bisa diselamatkan.

Sniper muda ini benar-benar pergi untuk selamanya dan dimakamkan di bawah pohon pir di tepi Sungai Alle.

Kehidupan asmara Shanina

Sebagai seorang remaja yang beranjak dewasa, Shanina jelas mengalami masa jatuh cinta. Dia jatuh cinta pada seorang pria bernama Nikolai, pria biasa yang menurut Shanina tidak bersinar dalam hal apa pun tapi dia menyukainya.

"Aku tidak berpikir lebih, tidak pula menginginkan pernikahan. Ini bukan waktunya dan aku masih harus berada di medan perang," begitu bunyi tulisan tangan Shanina.

Kisah cintanya kandas begitu saja karena Nikolai tidak mau menerima Shanina yang seorang penembak jitu.

Shanina begitu patah hati. Dia merasa tidak lagi berguna bagi siapa pun saat itu.

Kumpulan catatan harian Shanina pernah diterbitkan menjadi buku untuk mengenang tentara muda berbakat dari Soviet ini.

(Aulia Dian Permata)[]Sumber: intisari.grid.id

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.