22 August 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Kisah Stanislav Kurilov: Disebut 'Pengkhianat Tanah Air' hingga Habiskan 3 Hari di Laut

...

  • Intisari Online
  • 03 February 2019 15:00 WIB

Stanislav Kurilov, seorang lelaki yaStanislav Kurilov, seorang lelaki yang mungkin melakukan pelarian paling berani dari USSR. (Rbth.com)
Stanislav Kurilov, seorang lelaki yaStanislav Kurilov, seorang lelaki yang mungkin melakukan pelarian paling berani dari USSR. (Rbth.com)

Ilmuwan Stanislav Kurilov ingin menjelajahi dunia, tetapi di bawah pemerintahan Soviet dia tidak bisa meninggalkan negara itu. Sehingga dia terpaksa mengambil risiko berbahaya.

Pada 13 Desember 1974, kapal pesiar Sovetsky Soyuz berlayar di perairan Samudra Pasifik. Di atas kapal ada turis Soviet yang bersenang-senang dan minum, namun ada seorang pria sendirian mencurigakan yang memegang handuk.

Dia berjalan tenang di sepanjang geladak menuju buritan, di mana memakai topeng snorkeling, dan tabung pernapasan dari bawah handuknya lalu melompat ke laut!

Nama pria itu adalah Stanislav Kurilov, seorang ahli kelautan Soviet, praktisi yoga, dan "pengkhianat Tanah Air" di masa depan.

Lompatannya bukan upaya bunuh diri atau lelucon mabuk. Dia hanya ingin meninggalkan negara asalnya.

Jalan menuju samudra

Di Soviet, Kurilov adalah orang yang tidak biasa, dari masa mudanya dia berlatih yoga, bermeditasi, dan menjalani diet kelaparan selama 40 hari.

Dia juga memiliki karier yang mengesankan dengan bekerja sebagai psikolog, navigator laut, penyelam, dan aquanaut.

Kurilov, yang jatuh cinta pada laut, sedih dengan satu hal: ketidakmungkinan bekerja di luar negeri dengan ahli kelautan terkemuka dunia. 

Pada akhirnya, Kurilov memutuskan untuk melarikan diri dari Uni Soviet.

Sebuah peluang muncul pada 1974 ketika dia membaca iklan tentang kapal pesiar yang disebut "Dari musim dingin ke musim panas."

Kapal laut Sovetsky Soyuz akan berangkat dalam perjalanan 20 hari dari Vladivostok ke Khatulistiwa dan kembali, tanpa menghubungi pelabuhan asing.

Kurilov naik bersama para wisatawan. "Di belakang pintu masing-masing kabin ada musik, tangisan mabuk, tawa ... Para turis menjalaninya setiap hari selama liburan mereka yang berharga," tulis Kurilov dalam buku hariannya.

Demi keamanan, dirinya ikut serta dalam acara kumpul-kumpul umum. Tapi pada kenyataannya menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengintip ke laut, mengamati bintang-bintang, dan mempelajari kapal.

Antara Hidup dan Mati

Setelah terjun ke laut dan muncul di permukaan laut, Kurilov merasa ngeri. "Di sebelahku ada lambung kapal yang sangat besar dan baling-baling besarnya berputar-putar hebat!"

Malam pertama dia berenang menggunakan lampu kapal yang menghilang. Kemudian, mengutuk dirinya sendiri karena tidak mengambil kompas. Kurilov pun mengandalkan bimbingan bintang-bintang di malam hari dan menyimpang dari jalur pada siang hari.

Kurilov berenang berjam-jam tanpa henti di bawah samudera yang sangat dicintainya yang terbentang tanpa batas:

"Lautan bernafas seperti makhluk yang hidup, penuh kasih, dan baik hati. Aku hanya perlu menundukkan kepalaku ke dalam air, dan dunia berpendar yang fantastis akan terbuka di depan mataku ..."

Diakui, kemudian ia mengalami perasaan yang berbeda: "Wajah, leher, dan dada saya yang terbakar matahari sangat menyakitkan. Saya menderita demam dan merasa semakin mengantuk. Kadang saya kehilangan kesadaran untuk waktu yang lama ..."

Keselamatan

Baru pada hari ketiga ketika Kurilov hampir tidak sadarkan diri, gelombang besar melemparkannya ke darat di pulau kecil Siargao, Filipina. Dia kemudian dideportasi ke Kanada di mana ia diberikan kewarganegaraan Kanada.

Pada awalnya, Stanislav bekerja di restoran pizza dan kemudian untuk perusahaan oseanografi di Kanada, Amerika, Hawaii, dan Samudra Arktik. Pada musim semi 1986, dia pindah ke Israel dan menemukan pekerjaan sebagai ahli kelautan di Universitas Haifa.

Dia meninggal pada 29 Januari 1998. Ketika melakukan pekerjaan menyelam, ia terjerat dalam jaring.

Penulis: Muflika Nur Fuaddah.[]Sumber: intisari.grid.id

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.