15 December 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Ma Bue (Mamak Monyet)

...

  • portalsatu.com
  • 17 November 2019 09:00 WIB

Ilustrasi. Seorang perempuan turis bercengkrama dengan dua ekor monyet di Hutan Monyet Sacred Monkey Forest Sanctuary di Ubud, Bali. @dictio.id
Ilustrasi. Seorang perempuan turis bercengkrama dengan dua ekor monyet di Hutan Monyet Sacred Monkey Forest Sanctuary di Ubud, Bali. @dictio.id

Dulu, ada seorang perempuan tua (sudah nenek-nenek), hampir setiap sebulan sekali mucul di pasar kami, Keude Ulee Gle (Sekarang Pidie Jaya). Perempuan tua itu setiap ia datang selalu membawa 2 atau 3 ekor monyet yang sangat jinak dan pintar-pintar.

Monyet monyet itu kelihatan sangat patuh pada perempuan tua itu. Seakan monyet tersebut sangat mengerti dengan apa yang diperintahkan oleh sang nenek itu sebagai majikannya.

Sehingga perempuan tua itu dimana-mana dikenal masyarakat dgn nama Ma Bue (mamak monyet). Kami yang masih kelas-kelas sekolah dasar saat itu, bila Ma Bue ini datang di pasar Ulee Gle, kami anak selalu mengikuti perempuan tua ini dari belakang, untuk melihat monyetnya yang sangat pintar-pintar dan sangat patuh pada perempuan tua itu.

Kadang kami dimarahi oleh sang perempuan tua itu bila mengganggu monyetnya. Tapi kami anak anak tetap membuntutinya dari belakang. Karena tertarik dengan monyet-monyrnya yang lucu-lucu.

Kayaknya perempuan tua itu bukan orang Aceh. Tampilannya tidak pernah rapi, rambutnya yang sebatas bahu bercampur uban, dibiarkan lepas di acak-acak oleh monyet-monyet yang kadang selalu duduk di atas bahu dan kepalanya.

Sehingga ada istilah dalam masyarakat di Aceh saat itu, bila seorang anak dara yang malas mengurus rambutnya, ibu mengatakan "kasugot ok keuh ilee hai dara, bek tapeugot droe keuh lagee Ma Bue". (Kamu sisir rambutmu dulu, jangan seperti rambut Mamak Monyet).

Konon kemudian perempuan tua yang dikenal masyarakat bue ini, entah betul atau tidak, adalah ibu dari seorang pengusaha di kota Medan, anaknya itu tidak sanggup melarang untuk berpergian ke mana-mana dengan monyet-monyetnya.

Dan kabarnya, Ma Bue ini bila berpergian ada beberapa bus bebas ia naik, tidak dipungut ongkos, karena semua ongkos itu dibayar oleh anaknya di Medan. Dan semua awak bus saat itu sudah sangat kenal dengan Ma Bue ini.

Tapi perempuan tua yang dikenal dengan Ma Bue ini, juga punya bisnis sendiri, yaitu menjual minyak kayu putih, dan minyak kayu putih yang dijual secara door to door (pintu ke pintu) ini adalah minyak kayu putih asli, dan hanya orang-orang tertentu saja yang tahu membeli minyak kayu putih asli sama Ma Bue ini.[]Sumber:facebook.com/nabbahany.as

Penulis: Nab Bahany As, budayawan.

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.