13 August 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Malu Minta Diselamatkan Allah, Nabi Yunus Hanya Bertasbih di Mulut Paus

...

  • OKEZONE
  • 29 October 2019 17:00 WIB

Ilustrasi ikan paus (Foto: Pixabay)
Ilustrasi ikan paus (Foto: Pixabay)

Saat kita lapar lalu makan kemudian kita menjadi sehat. Kita sakit, lalu berobat menjadi sembuh. Ingat, semua itu yang menyembuhkan adalah Allah SWT. Dalam saat krisis apapun, seseorang itu wajib menggunakan koneksinya kepada Allah SWT dengan cara bertasbih mengingat Allah. Sebagai contoh, dalam dakwah Nabi Yunus AS, sekian lama berdakwah dan kurang mendapat tanggapan masyarakatnya maka nabi ini tidak sabar, merasa tersinggung, lalu ia pergi dari daerahnya sendiri. 

Nabi Yunus pergi menyeberang lautan dengan kapal. Oleh Alquran dibahasakan dengan abaqa. Abaqa itu pergi tanpa pamit. Nabi Yunus pergi tanpa izin Allah meninggalkan area dakwah. I? abaqa ila al-fulki al-masy?ûn. Tapi Allah memberikan pelajaran bagi orang yang frustasi.

Seperti dilansir website Pondok Pesantren Tebuireng, ketika Nabi Yunus menyeberang lautan tidak ada ombak yang ganas, angin atau topan tetapi perahu itu terus oleng akan tenggelam. Tradisi zaman dahulu ketika alam masih akrab dan bisa diajak dialog, bagi nahkoda perahu itu menggunakan cara-cara ketuhanan.

Nahkoda berpikir pasti ada yang tidak beres di antara para penumpang. Buktinya perahu ini oleng mau tenggelam. Oleh karena itu si penyebab oleh harus dibuang daripada tenggelam semua menjadi korban, lebih baik dicari siapa di antara penumpang ini yang bermasalah.

Maka cara pendekatannya menggunakan pendekatan langit dengan cara diundi. Begitu diundi satu, dua, tiga, ternyata yang keluar adalah Nabi Yunus. Dialah yang mendapat undian untuk dilempar diceburkan ke dalam lautan.

Ketika Nabi Yunus dipaksa harus melompat dan terjun ke laut, sejatinya Allah Yang Maha Penyayang sudah menyiapkan peranti-Nya yakni hut alias ikan paus yang besar untuk menolongnya.

Menurut jurnal, di televisi, atau ilmu pengetahuan, ikan paus yang menyelamatkan Nabi Yunus dari tenggelam di lautan itu panjang sampai 35 meter atau sebesar 30 gajah Afrika.

Begitu masuk dalam mulut ikan paus, Nabi Yunus bertasbih. Nabi Yunus tinggal di rongga mulut si paus. Ia seperti duduk di ruangan yang ber-AC. Oksigennya mengikuti oksigen yang dipakai ikan paus itu, makanya dia bisa tinggal lama di sana.

Saat krisis itu, tinggal ketentuan Allah, berada di mulut bisa dimuntahkan atau ditelan terserah keputusan Allah. Nabi Yunus malu untuk meminta selamat, karena merasa bahwa dirinya berdosa, pergi dari medan dakwah. Beliau hanya bertasbih,

Malu meminta diselamatkan dan hanya membaca tasbih kebesaran Allah. Allah Yang Maha Mendengar itu disentuh, dihubungi, inconnecting dengan tasbih terus-menerus, dan Allah Maha Mendengar. Allah itu mengerti, tidak perlu dimintai dengan bahasa yang tegas, “Ya Allah selamatkanlah.” Tidak perlu diminta Allah sudah tahu keinginan hati manusia yang terdalam.

Nabi Yunus tidak minta selamat karena malu merasa punya salah, cukup memuji saja kebesaran Allah. Dengan pujian tasbih seperti itu, Allah Maha Mendengar dan mengerti keinginannya. Ikan paus itu lalu berenang ke tepi lautan lalu beliau dimuntahkan ke dekat pantai kemudian selamat.

Falaulâ annahû min al-musabbi??n, andai Nabi Yunus itu tidak bertasbih, lalabi?a f? ba?nih? ilâ yaumi yub´a?ûn, maka ikan itu akan menelan masuk dan hancur di situ seterusnya. Ini menunjukkan betapa sentuhan-sentuhan tasbih itu bisa didengar oleh Allah. Sebab memang sebelumnya manusia itu disentuh diberi peranti-peranti mendengar.

Sub?ânallâh, barangkali contoh ini terlalu besar. Terlalu teologis karena pelakunya adalah seorang nabi. Saat krisis seperti itu maka umat manusia diwajibkan menghubungi Allah dengan cara bertasbih memuliakan kebesaran-Nya.[]Sumber:okezone

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.