26 August 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Memikirkan Bintang hingga Matahari, Akhirnya Nabi Ibrahim Menemukan Allah SWT

...

  • OKEZONE
  • 12 August 2019 14:00 WIB

Surga, ilustrasi. @pinterest.com
Surga, ilustrasi. @pinterest.com

Nabi Ibrahim selama ini dikenal sebagai bapaknya para nabi. Sebab banyak nabi yang merupakan anak cucunya Nabi Ibrahim.

Sebagai seorang keturunannya dari Nabi Ismail, Nabi Muhammad SAW dengan kakeknya itu terpaut jarak ribuan tahun. Tetapi Nabi Muhammad sangat paham sejarah kakeknya, Nabi Ibrahim padahal beliau tak memiliki kemampuan membaca, menulis, apalagi sekolah.

“Dengan mendapatkan wahyu Alquran, Nabi Muhamamd mengerti tentang kisah-kisah para nabi,” jelas Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj kemarin.

Ia menegaskan, kehadiran Alquran menginventarisasi berbagai peristiwa penting di zaman dulu sehingga bisa lestari. “Dengan Alquran, sejarah dunia sejak lahirnya, sejak diciptakannya Adam sampai Nabi Muhammad lahir, sejarah lestari abadi dengan mukjizat Alquran,” katanya.

Nama Ibrahim, terang Kiai Said, terdiri dari dua kata, yakni Ib yang berarti bapak dan Rahim yang berarti umat. Nabi bapaknya umat itu mulanya memiliki seorang istri, yakni Sarah, sepupunya sendiri. Mereka hidup di daerah Babilonia atau saat ini berada di sebelah selatan Baghdad sejauh 10 km.

Ketika itu, lanjut Kiai Said, rajanya seorang diktator dengan mengajak rakyatnya agar menyembah berhala. Bahkan berhala menjadi bisnis dan menghasilkan uang, termasuk ayahandanya Ibrahim yang namanya Azar juga orang yang berbisnis berhala. “Bikin berhala kemudian dijual untuk mencari makan,” katanya.

Seperti dilansir NU Online, Nabi Ibrahim melalui akalnya yang cerdas tidak pernah mau menyembah berhala. Justru, Nabi Ibrahim menemui akidah tauhid setelah melalui perjalanan teologi yang penuh keadilan rasional mantiq.

“Walaupun lahir di tengah-tengah keluarga masyarakat musyrikin, tapi Nabi Ibrahim dengan akal yang cerdas pikiran yang jernih, hatinya yang bening dan bersih tidak pernah menjadi manusia yang menyembah berhala,” jelas kiai asal Cirebon itu.

Lalu dalam kegelisahan batinnya, Nabi Ibrahim pun mencari Tuhan yang sesungguhnya. Ia tak percaya Tuhan adalah batu yang diukir oleh ayahnya.

Lalu bagaimana cara Nabi Ibrahim menemukan Allah SWT?

Saat melihat bintang, bulan, hingga matahari di langit, mulanya ia merasa itu secara satu persatu adalah Tuhan. Namun, setelah mereka semua lenyap, ia sadar bahwa Tuhan tidak mungkin menghilang begitu saja.

“Demikian pula seperti bulan dan bintang, matahari pun hilang matahari pun berubah. Maka beliau mengatakan tidak mungkin ini Tuhan dan saya menemukan Tuhan adalah Yang Maha Satu, Yang Esa, Yang Tunggal, yang tidak punya sekutu, dan tidak mungkin berubah,” kata Ibrahim.

Sebab, dalam pemikiran Nabi Ibrahim, yang berubah berarti alam, berarti diciptakan. Jika diciptakan, berarti baru. Jika baru, berarti membutuhkan yang menciptakan. Sementara yang menciptakan tidak boleh berubah, tidak boleh baru, harus tetap langgeng dan lestari.

“Alam ini berubah. Setiap yang berubah itu mempunyai sifat baru. Setiap yang baru pasti membutuhkan yang menciptakan. Yang menciptakan tidak boleh berubah, yaitu Allah,” kata Kiai Said.

Dari situlah, Nabi Ibrahim as baru menemukan Tuhan sesungguhnya yang menciptakan langit bumi, bintang, bulan, dan matahari.[]Sumber:okezone

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.