25 June 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia


Penembak Jenderal Kohler Itu Bernama Teuku Nyak Raja

...

  • BOY NASHRUDDIN
  • 04 June 2017 22:20 WIB

Oh God, ik ben getroffen.” Demikian kalimat yang diucapkan Jenderal JHR Kohler saat timah panas menembus jantungnya, setelah sebelumnya menghujam lensa teropong. Saat itu, petinggi militer Belanda ini sedang memberikan instruksi kepada pasukannya yang berkumpul di bawah pohon geulumpang, di depan Masjid Raya Baiturrahman, 14 April 1873.

Belanda saat itu baru saja menembus garis pertahanan Kerajaan Aceh Darussalam di Ulee Lheue. Mereka berupaya menguasai Masjid Raya yang semula diduga sebagai basis pertahanan pasukan kerajaan Aceh, dalam serangan pertama pada 26 Maret 1873.

Lima ribu pasukan Belanda terkesima saat pimpinannya, Kohler, tersungkur. Darah segar mengucur dari balik dadanya. Pasukan Belanda tidak mengetahui persis bagaimana Jenderal mereka tertembak di tengah ramainya prajurit di sana. Peristiwa yang menghebohkan Eropa ini kemudian menjadi misteri. Tidak diketahui siapa yang melepaskan timah panas ke arah Kohler, saat itu. Hingga akhirnya, seabad berlalu, keturunan Teuku Nyak Raja Imum Lueng Bata, Nukman, buka suara.

Nukman yang sudah berusia renta itu pernah mengungkapkan bahwa kakeknya, Teuku Nyak Raja yang menembak Kohler. Dia merupakan pimpinan pasukan sniper Kerajaan Aceh Darussalam yang mengendap di lokasi Masjid Raya Baiturrahman, usai pasukan Aceh dipukul mundur Belanda. Teuku Nyak Raja pada saat kejadian diketahui baru berusia 19 tahun. Darah mudanya masih panas dan jiwa patriotiknya begitu tinggi untuk tanah air, Aceh.

Nukman pun menyebutkan jarak antara Teuku Nyak Raja yang menembak Kohler tidak begitu jauh. Hanya 100 meter.

+++

TEUNGKU Imum Lueng Bata atau Teuku Nyak Raja memang dikenal sebagai salah satu pejuang Aceh di masa agresi Belanda era 1873. Ia merupakan seorang pemimpin kemukiman Lueng Bata atau seorang uleebalang putra Teungku Chik Lueng Bata. Kemukiman Luengbata kala itu dikenal sebagai daerah bibeuh (bebas). Ini pula yang membuat kawasan ini memiliki garis komando langsung ke Sultan Aceh, yang berbeda dengan Sagi XXV, XXVI, dan XXII Mukim. Meskipun demikian, status kedudukan pimpinan kemukiman ini setara dengan panglima tiga sagi lainnya.

Tidak ada referensi kuat yang membenarkan kisah Nukman ini. Meskipun demikian, fakta sejarah membenarkan bahwa Jenderal Kohler tewas terbunuh oleh senjata sniper di Aceh.  “Dua hal yang menggemparkan internasional saat itu, pertama kasus terbunuhnya Cornelis de Houtman oleh Laksmana Malahayati, dan kedua tewasnya Kohler,” ujar Nab Bahany As, salah satu budayawan dan penulis sejarah Aceh, kepada portalsatu.com, Jumat, 2 Juni 2017 malam.

Dia menyebutkan, sebenarnya ada satu bab khusus yang membahas peranan Teungku Imum Lueng Bata dalam Kerajaan Aceh Darussalam dan perang melawan Belanda. Hal tersebut ditulis secara lengkap oleh Prof. Dr. Din Madjid, dalam bukunya “Catatan Pinggir Sejarah Aceh.”

“Din Madjid merupakan salah satu tokoh arsip nasional. Ini pula yang membuat tulisannya penuh dengan data, termasuk dalam sejarah Teungku Imum Lueng Bata,” kata Nab Bahany.

Sama halnya dengan sumber lainnya, Nab Bahany tidak mengetahui secara persis bagaimana Teuku Nyak Raja Imum Luengbata meninggal dunia. Pun demikian, dia menduga Teungku Imum Luengbata tewas dalam pertempuran melawan Belanda yang lokasi kuburannya hingga sekarang belum diketahui.

“Ada yang menyebutkan di kawasan Gleumpang Payong, Pidie,” kata Nab Bahany lagi.

Meskipun demikian, Nab Bahany menyebutkan bahwa Teungku Imum Luengbata sangat layak mendapat penghormatan dari Pemerintah Republik Indonesia sebagai pahlawan nasional. “Beliau sangat layak diangkat sebagai pahlawan nasional. Ini perlu kita perjuangkan bersama,” ujarnya.[]

Editor: BOY NASHRUDDIN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.