24 March 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Perbedaan Pendapat Lokasi Turunnya Nabi Adam

...

  • INILAH.com
  • 10 March 2019 07:00 WIB

KETERANGAN yang disebutkan dalam alquran, bahwa Allah menurunkan Adam dari surga ke bumi, setelah dia memakan pohon larangan. Allah berfirman, Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan. (QS. al-Baqarah: 36)

Sementara mengenai tempat di mana Adam diturunkan, tidak ada keterangannya sama sekali dalam alquran. Dan kami juga tidak menjumpai adanya hadis shahih yang menyebutkan hal ini. Memang ada beberapa hadis yang menyebutkan tempat turunnya Adam di Bumi, namun statusnya dhaif. Seperti hadis, "Adam turun di India dan beliau merasa asing." Hadis ini diriwayatkan Ibnu Asakir dalam Tarikh Damaskun (7/437), dan statusnya dhaif. Sebagaimana keterangan dalam as-Silsilah ad-Daifah.

Hanya saja, ada beberapa keterangan para ulama mengenai tempat turunnya Adam. Namun karena tidak didukung dalil, keterangan mereka beraneka ragam. Al-Hafidz Ibnu Katsir menyebutkan sekitar 4 pendapat mengeai hal ini,
(1) Adam diturunkan di India, sedangkan Hawa diturunkan di Jedah. Ini pendapat Hasan al-Bashri
(2) Adam dan Hawa keduanya diturunkan di India.
(3) Adam diturunkan di satu daerah namanya Dahna, antara Mekah dan Thaif. Ini keterangan dari Ibnu Abbas sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Abi Hatim. Sementara diriwayatkan Imran bin Uyainah, Dahna adalah satu tempat di India.
(4) Adam diturunkan di Shafa dan Hawa diturunkan di Marwah. Ini merupakan keterangan Ibnu Umar menurut riwayat Ibnu Abi Hatim.
(Tafsir Ibnu Katsir, 1/237).

Terlepas dari semua pendapat di atas, kajian masalah ini masuk dalam ranah kajian masalah gaib. Sementara kita tidak boleh berbicara masalah ghaib kecuali sebatas informasi yang diberitakan oleh pemilik kabar gaib, Allah taala atau melalui wahyu Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam. Di samping mempelajari masalah ini tidak memberikan pengaruh yang berarti bagi ketakwaan kita.

Allahu alam. [Ustadz Ammi Nur Baits].[]Sumber:inilah.com

Editor: THAYEB LOH ANGEN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.