09 August 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia

Jelang Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah
Proyek Kereta Cepat dan Awal Penghancuran Khilafah Utsmaniyah

...

  • portalsatu.com
  • 28 July 2020 09:00 WIB

Stasiun kereta api Damaskus-Hijaz yang dibangun pada zaman Khilafah Utsmaniyah. Foto/Ilustrasi/Wikipedia
Stasiun kereta api Damaskus-Hijaz yang dibangun pada zaman Khilafah Utsmaniyah. Foto/Ilustrasi/Wikipedia

Sultan Abdul Hamid II banyak memperhatikan lembaga-lembaga keagamaan dan ilmiah, serta memberikan bantuannya untuk memperbaiki Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, dan membangun masjid-masjid. Ini dilakukan untuk menarik hati bangsa-bangsa Islam. 

Prof Dr Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah menjelaskan Sultan berusaha untuk memikat kaum muslimin Arab dengan segala cara dan sarana. Maka dia pun membentuk pengawal khusus dari mereka dan mengangkat sebagian orang yang loyal padanya menduduki jabatan dan pos-pos penting. 

lzzat Pasya Al-Abid yang berasal dari Syam sangat beruntung, karena mendapat kepercayaan Sultan Abdul Hamid dan menjadi penasehatnya dalam hal yang menyangkut masalah-masalah Arab.

Proyek Kereta
lzzat Pasya Al-Abid antara lain memainkan peran yang sangat penting dalam pembangunan rel kereta api Hijaz, yang membentang dari Damaskus hingga Madinah Al-Al-Munawwarah.

Sultan Abdul Hamid menganggap proyek ini sebagai salah satu sarana yang akan mengangkat nama khilafah dan akan berfungsi untuk menyebarkan pemikiran Pan-Islamisme.

Proyek infrastruktur ini dimulai pada tahun 1900 M. Jalur ini sebagai ganti dari perjalanan darat kafilah yang biasanya ditempuh selama kurang lebih 40 hari, sedangkan dengan menggunakan jalur laut ditempuh dalam jangka waktu sekitar 12 hari dari pantai Syam menuju Hijaz. Bila menggunakan rel ini, perjalanan hanya ditempuh dalam jangka waktu sekitar empat sampai lima hari saja.

Tujuan dari dibangunnya rel ini, bukan semata-mata untuk memudahkan jamaah haji yang datang ke Baitullah Al-Haram atau agar mereka gampang sampai ke Makkah dan Madinah. 

Pembangunan ini memiliki tujuan politik dan militer. Dari sisi politik, pembangunan proyek ini di seluruh dunia Islam akan melahirkan semangat agama yang demikian tinggi, karena Sultan telah menyebarkan edaran yang menyerukan kaum muslimin di seluruh dunia untuk ikut andil dalam pembangunan proyek ini.

Sultan Abdul Hamid memulai pendaftaran para penyumbang dengan dimulai dari dirinya sendiri, yang memberikan sumbangan sebanyak 50.000 keping uang emas Utsmani yang berasal dari koceknya sendiri, kemudian dibayar juga uang sebanyak 100.000 keping uang emas Utsmani dari kas Negara. Beberapa lembaga sosial didirikan. Kaum muslimin dari berbagai penjuru berlomba-lomba untuk membantu pembangunannya, baik dengan harta atau jiwa.

Para pejabat penting dalam pemerintahan Utsmani memberikan sumbangan untuk lancarnya proyek ini. Seperti Perdana Menteri dan Menteri perang Husein Pasya, Menteri Perdagangan Dzahabi Pasya, juga Menteri pengelola perencanaan ‘lzzat Pasya.

Para pemilik perusahaan juga ramai-ramai ikut menyumbang, Seperti pegawai di perusahaan kelautan pemerintahan Utsmani, juga para pejabat yang mengurus pekerjaan umum. Semangat menyumbang ini juga terjadi pada pejabat-pejabat yang ada di pemerintahan wilayah seperti Beirut, Damaskus, Aleppo, Bursah dan lainnya.

Penguasa Mesir juga ikut serta dalam mengampanyekan pengumpulan dana ini. Di Mesir dibentuk satu tim sukses proyek ini dan mengumpulkan dana yang dipimpin oleh Ahmad Pasya Al-Masyanawi.

Media-media yang ada di Mesir juga ikut mengampanyekan proyek pembangunan rel kereta Hijaz ini dengan sangat antusias. Seperti apa yang dilakukan oleh surat kabar Al- Muayyid. Sedangkan surat kabar Al-Liwa telah menyumbang untuk proyek ini -pada tahun 1904 M sebanyak 3.000 lira Utsmani. Surat kabar itu dipimpin oleh Kamil Pasya. Sedangan Ali Kamil telah menghimpun dana sebanyak 2.000 lira Utsmani untuk proyek ini hingga tahun 1901 M.

Surat kabar Al-Manar juga ikut andil dalam kampanye proyek ini, demikian pula dengan surat kabar Al-Raid Al-Mishri. Panitia untuk proyek ini dibentuk di Kairo, Iskandariyah dan kota-kota lain di Mesir.

Sedangkan kaum muslimin di India adalah yang paling bersemangat untuk memberikan sumbangan dana terhadap proyek ini. Pemimpin Haidar Abad di India dan Syah Iran menyumbang 50.000 lira Utsmani. 

Walaupun proyek ini membutuhkan demikian banyak arsitek asing dalam membangun jembatan dan terowongan, namun Sultan tidak akan menggunakan mereka kecuali memang sudah sangat mendesak.

Perlu diketahui, bahwa orang-orang asing itu sama sekali tidak ikut serta secara mutlak dalam proyek ini sejak dimulainya stasiun Al-Akhdhar yang berjarak 760 kilometer di selatan Damaskus hingga proyek selesai. Sebab panitia proyek tidak membutuhkan tenaga asing dan mereka diganti oleh arsitek-arsitek Mesir.

Para pekerja yang bukan pakar pada tahun 1907 M berjumlah 7500 pekeria. Sedangkan total biaya proyek ini mencapai 4.283.000 lira Utsmani.

Proyek ini selesai dalam jangka waktu yang lebih cepat dan biaya yang lebih rendah dibanding jika dikerjakan oleh perusahaan asing di wilayah Utsmani.

Dirusak
Pada bulan Agustus tahun 1908 M, rel kereta itu telah sampai ke Madinah Al-Munawwarah. Seharusnya rel itu sampai ke Makkah, namun pekerjaan itu terhenti, sebab penguasa Makkah, Husein bin Ali, sangat khawatir pemerintahan Utsmani akan mengancam kekuasaanya di Hijaz. Maka dia segera bangkit melakukan upaya untuk mencegah pekerjaan pembangunan rel kereta itu ke Makkah yang merupakan tempat dia berkuasa. Maka jadilah akhir rel itu hanya sampai di Madinah.

Hingga tatkala terjadi Perang Dunia 1, Inggris membangun koalisi dengan kekuatan Arab yang dipimpin oleh Faishal bin Al-Husein bin Ali untuk menghancurkan rel kereta Hijaz ini. Sehingga rel itu tidak bisa dipergunakan.

Duta besar Inggris yang ada di Konstantinopel dalam laporan tahunannya pada tahun 1907 M, menyatakan tentang pentingnya rel kereta Hijaz ini.

Dia berkata, “Sesungguhnya di antara kejadian pada sepuluh tahun terakhir ada suatu sikap politik yang sangat menonjol. Yang paling penting adalah rencana Sultan Abdul Hamid yang demikian cemerlang, di mana dia mampu menampilkan dirinya sebagai khalifah di depan 300 juta kaum muslimin. Seorang khalifah yang menjadi pemimpin ruhani kaum muslimin. Dia mampu menampakkan bukti pada mereka, tentang komitmen, spirit, serta semangat keagamaannya dengan cara membangun rel kereta api Hijaz yang akan menjadi jalan utama dalam waktu tidak lama lagi, bagi kaum muslimin yang akan menunaikan ibadah haji ke tempat-tempat suci di Makkah dan Madinah. 

Tidak heran, jika kita dapatkan Inggris merasa tercekik dengan rencana Sultan yang keras ini. Dan mereka berusaha dengan segala upaya untuk mencegah jangan sampai hal ini terjadi. Mereka akan mencari momen yang tepat untuk menggagalkan rencana besar ini, untuk memotong jalan kekuatan-kekuatan Utsmani”.

Menurut Ash-Shalabi, kereta pertama yang sampai ke stasiun Madinah dari Damaskus di Syam terjadi pada tanggal 22 Agustus tahun 1908 M. Peristiwa ini bagi jutaan kaum muslimin di seantero dunia, dianggap sebagai realisasi dari mimpi panjang. Perjalanan kereta itu hanya memakan waktu selama tiga hari dengan menempuh jarak sekitar 814 kilometer.

Padahal sebelumnya perjalanan dari Damaskus ke Madinah harus ditempuh dalam jangka waktu lima minggu. Pada saat itu, hati orang-orang yang demikian merindukan untuk menunaikan ibadah haji yang suci demikian gembira dengan peristiwa yang sangat bersejarah ini.

Politik Islam Sultan Abdul Hamid demikian rapi dan terjaga. Dia menginginkan untuk menyatukan hati kaum muslimin berada bersamanya dalam posisinya sebagai khalifah kaum muslimin secara keseluruhan. Maka dibangunnya rel kereta antara Syam dan Hijaz ini, merupakan salah satu sarana yang demikian indah untuk merealisasikan tujuan itu.

Ash-Shalabi menyatakan Sultan Abdul Hamid sangat memperhatikan rel-rel kereta di semua wilayah pemerintahan Utsmani. Pembangunan ini memiliki tiga tujuan pokok:

Pertama, menghubungkan antara wilayah-wilayah Utsmani yang saling berjauhan sehingga akan sangat membantu untuk menebarkan pemikiran kesatuan pemerintahan Utsmani dan pemikiran Pan-lslamisme, serta agar mampu mengontrol semua wilayah yang membutuhkan pengawasan ketat dari pemerintah.

Kedua, memaksa wilayah-wilayah itu untuk masuk ke dalam naungan pemerintahan Ustmani, serta taat pada hukum dan undang-undang militer yang mewajibkan setiap wilayah untuk ikut serta membela pemerintahan khilafah dengan cara memberikan bayaran berupa harta dan mengirimkan pasukan.

Ketiga, mempermudah tugas pengamanan dan pertahanan khilafah dari pihak mana saja yang berusaha melakukan penentangan terhadap pemerintah. Sebab rel-rel ini akan sangat membantu untuk menyebarkan kekuatan secara cepat ke berbagai pelosok.

Rel kereta Hijaz adalah jalan paling penting yang dibangun pada pemerintahan Sultan Abdul Hamid II. 

Pan-Islamisme
Kruemer perwakilan lnggris di Mesir (1301-1325 H/1883-1907 M) adalah orang pertama yang memberi peringatan tentang bahaya Pan-lslamisme ini kepada negara-negara Eropa. Dia demikian semangat untuk membicarakannya dalam setiap laporan tahunan tentang Pan-lslamisme dengan kebencian yang begitu mendalam.

Pada saat yang sama, surat kabar Al-Ahraam yang terbit di Mesir menulis pernyataan terbuka dari seorang menteri Perancis yang bernama Hanatu yang dengan tegas menyerang Pan-lslamisme ini.

Serangan terhadap Pan-Islamisme berbuntut serangan pada pemerintahan Utsmani hingga akhirnya kesatuan negara-negara Islam itu kembali terpecah dalam rangka menghadapi serangan kolonialis yang telah memiliki agenda matang untuk memporak-porandakan kesatuan ini dan akan menjadi penghalang untuk bersatunya kembali kekuatan umat dalam bentuk kesatuan apapun, agar orang-orang kafir itu tetap berkuasa atas negeri-negeri Islam. Maka mereka pun mengambil langkah-langkah berikut ini:

Pertama, semakin gencarnya seruan regional khususnya mengenai nasionalisme, tanah kelahiran, kesukuan, dan keturunan.

Kedua, penciptaan pemikiran secara umum untuk memerangi kesatuan umat Islam.

Ash-Shalabi menyebut semua ini merupakan awal dari usaha dihancurkannya khilafah Utsmaniyah hingga ke akar-akarnya. Usaha ini mereka lakukan dengan cara bekerja sama dengan Zionisme internasional, juga dengan Yahudi Dunamah dan antek-anteknya dari kelompok-kelompok Turki Muda, serta Organisasi Persatuan dan Pembangunan.[]sumber:sindonews.com

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.