11 July 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Kisah Para Mualaf Dunia Bersyukur Bisa Umrah Sebelum Pandemi Covid-19

...

  • OKEZONE
  • 03 June 2020 12:00 WIB

Pasangan mualaf Hanan Sandercock dan suaminya John Smith. (Foto: Dok Hanan Sandercock/BBC News Indonesia)
Pasangan mualaf Hanan Sandercock dan suaminya John Smith. (Foto: Dok Hanan Sandercock/BBC News Indonesia)

DUA pasangan mualaf asal Inggris dan Jepang ini membagikan cerita bisa melakukan perjalanan umrah sebelum terjadinya pandemi corona virus disease (covid-19). Mereka pun bersyukur bisa menjalankan undangan ke rumah Allah Subhanahu wa ta'ala ini.

Hanan Sandercock dan suaminya John Smith serta Kaiji Wada dan istrinya Yussane Pitaloka termasuk di antara sekira 100 mualaf dari seluruh dunia yang melakukan ibadah umrah pada akhir Desember 2019.

Arab Saudi kemudian pada awal Maret 2020 menutup perbatasan untuk mencegah persebaran virus corona, termasuk menghentikan sementara aktivitas ibadah umrah.

"Kami sudah sangat bersyukur menjadi bagian dari kelompok ini. Ketika ditutup, kami tambah bersyukur karena dengan lancar beribadah pada bulan Desember dan kembali dengan selamat pada bulan Januari. Alhamdulilah," kata Hanan yang tinggal di Cardiff, Wales, Inggris Raya, dikutip dari BBC News Indonesia, Rabu (3/6/2020).

"Sebagian dari kami sakit dan saat itu kami curiga apakah mereka terinfeksi covid, tapi ternyata bukan," tambah perempuan yang masuk Islam 25 tahun lalu ini.

Sementara Kaiji –yang menambahkan nama Kadir setelah masuk Islam pada 2017– mengatakan keputusan Pemerintah Arab Saudi itu membuatnya sedih.

"Karena banyak orang tidak bisa beribadah. Tapi itu sudah jalan yang paling baik yang diambil Pemerintah Saudi. Namun, kita juga bersyukur sekali masih bisa umrah dengan aman," tuturnya.

"Saya hampir menangis saat melihat Kakbah untuk pertama kalinya. Ini karena momen saat saya bisa merasakan kebesaran dan hidayah Allah Subhanahu wa ta'ala," ungkapnya kepada wartawan BBC News Indonesia Endang Nurdin.

"Beberapa tahun sebelumnya saya hanyalah pria Jepang biasa yang sekuler. Kehidupan saya waktu itu sangat jauh dari ajaran Islam. Siapa yang bisa membayangkan orang seperti saya berdiri di depan rumah Allah Subhanahu wa ta'ala? Tak ada yang bisa mengaturnya kecuali Allah. Satu hal yang tak akan saya lupakan," terangnya. 

Satu hal lagi yang menurut dia paling diingat adalah saat melantunkan Talbiyah (bacaan setelah berniat umrah atau haji) dalam perjalanan ke Masjidil Haram.

"Emosi saya begitu tinggi dan hampir menangis karena perasaan yang bercampur antara khawatir, senang, dan perasaan penuh harapan," beber Kaiji tentang pengalaman dua minggu menjelang akhir tahun lalu.

Hanan mengatakan hal serupa. "Sulit saya jelaskan namun tak ada bandingannya."

Ia juga menyebut momen mendengar azan Subuh ketika di Madinah menjadi pengalaman yang disebut begitu indah dan membuat hati penuh ketenangan.

"Pengalaman luar biasa yang tidak akan pernah saya alami lagi, khususnya bersama para mualaf lain di seluruh dunia," tambah Hanan.

Sabri Shiref dari European Muslim Forum, badan amal yang menyelenggarakan umrah untuk mualaf dari seluruh dunia sejak 2015, mengatakan tujuan kegiatan ini adalah memberikan pengalaman ibadah di Kota Makkah dan Madinah.

"Kami membuka pendaftaran dan juga menerima rekomendasi, namun kami melakukan seleksi. Intinya yang kami ajak, mereka yang berpandangan moderat," jelasnya.

Tetap Menikmati Hidup walau Sedih

Kaiji Wada –yang menikah dengan perempuan Indonesia bernama Yusanne Pitaloka– mengatakan mulai mempelajari agama Islam ketika ikut dalam program pertukaran pelajar di Brunei.

"Waktu ketemu orang Islam lain, mereka hidupnya bisa bahagia tanpa minum alkohol. Meski sedih, tetap bisa menikmati. Beda dengan orang Jepang yang kalau sudah stres bisa bunuh diri. Waktu bertemu mereka, saya bisa merasakan kedamaian dan lebih bisa mengontrol diri," cerita Kaiji saat mulai mempelajari Islam.

Saat ini ia bekerja sebagai pengajar sekolah Jepang di Bandung dan berencana kembali ke Tokyo pada Juli mendatang. 

Sementara Hanan Sandercock mengatakan keputusannya menjadi mualaf pada 25 tahun lalu karena apa yang dia sebut mengisi kekosongan hidup.

"Tidak ada momen khusus yang membuat saya pindah agama. Semua bermula karena ketidakpuasan dan perasaan hampa dan kosong karena tak ada keyakinan (agama) apa pun sampai kemudian saya tertarik untuk bertemu rekan-rekan Muslim untuk bertanya tentang Islam," kata Hanan yang saat ini bekerja di satu sekolah dasar di Cardiff, Wales, Inggris Raya.

"Saat itu umur saya 27 tahun, saya lebih banyak pergi sendiri. Orangtua saya saat itu bingung karena mereka tinggal di daerah mayoritas kulit putih (di Cornwall, Inggris Selatan) dan hanya sedikit Muslim. Mereka baik dan tertarik (mengetahui lebih lanjut), walaupun ayah saya tak suka saya pakai jilbab. Ibu saya percaya kepada Tuhan, jadi dia bisa melihat banyak persamaan," kata ibu empat anak ini.

Hanan –yang dahulu bernama Donna– melanjutkan perguruan tinggi di Cardiff pada 1990-an dan bertemu sejumlah teman Muslim. Walau tak ada momen khusus yang memicunya pindah agama, Hanan menyebut satu peristiwa saat ia berjalan bersama temannya ke Palestina.

"Ketika saya mengunjungi daerah Palestina yang diduduki pada 1990-an, saya dan teman saya tersesat di Wadi, dan saat itu tengah hari, panas dan sepi. Kami tak punya telepon genggam dan hampir kehabisan air. Saya khawatir kami akan meninggal di sana. Saat itu tak ada yang bisa ditelepon dan saya buat 'perjanjian' dengan Tuhan dan saya katakan kalau kami selamat dari sini, saya akan menjadi Muslim," tutur Hanan.

"Di dalam hati saya, saya sudah sadar Islam adalah agama yang tepat untuk saya, namun saya belum mengungkapkannya," cerita dia. 

Sekembalinya ke Wales, Hanan membaca berbagai hal tentang Islam dan bertanya ke orang-orang yang dikenal sebelum mengucapkan syahadat, di depan almarhum Imam Sheikh Said, yang ibunya juga orang Wales yang mualaf.

Ia mengatakan langsung merasa lega karena mendapat semua jawaban yang dicari. Hanan mengatakan kondisi masyarakat di Inggris berbeda pada 1990-an.

"Tak banyak saat itu orang yang jadi mualaf karena tak banyak berita negatif di media. Namun setelah serangan 11 September (pada 2001 di New York), saya takut untuk pergi keluar sendiri dengan anak-anak. Saya tidak lagi pakai abaya dan menggunakan baju biasa. Alhamdulillah saya tidak mengalami ejekan dan saya masih pakai jilbab."

Dalam 25 tahun terakhir ini Hanan menyatakan mengalami banyak perubahan, namun menekankan ingin menunjukkan identitas sendiri.

Ia menyebut contoh kepada mereka yang pindah agama setelah menikah dengan komunitas tertentu dan berpakaian mengikuti kebiasaan komunitas itu.

"Saya ingin menunjukkan identitas saya sebagai Muslim Inggris, tanpa perlu menghilangkan apa yang saya miliki sebelumnya," ujar Hanan menutup ceritanya.[]Sumber:okezone

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.