09 April 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Nadia La Tsaniya Mengedukasi Anak-Anak Mengejar Mimpi Melalui Dongeng

...

  • OKEZONE
  • 24 March 2020 22:30 WIB

Nadia La Tsaniya. @Okezone
Nadia La Tsaniya. @Okezone

SOSOK wanita sedang asik bercerita sambil memegang sebuah boneka yang digerakkanya dihadapan belasan anak-anak yang mengelilinginya. Nadia La Tsaniya, sebut saja Nadia, pendiri komunitas dongeng keliling. Awalnya, Nana -sapaan Nadia- selalu mempunyai kebiasaan bercerita untuk menemani adiknya tidur. Tak disangka, cerita yang disampaikan anak ketiga dari empat bersaudara ini sangat disukai oleh adik bungsunya.

Nana kemudian mulai mewujudkan mimpinya menjadi pendongeng. Kini dia sudah dikenal sebagai pendongeng oleh masyarakat Solo dan Yogyakarta.

Dengan lihai ia memainkan boneka yang dipegangnya sambil bercerita dihadapan anak-anak. Cerita dongeng yang dia bawakan tentang seekor komodo yang tidak mau menari, boneka yang ia mainkan diberi nama Modo. Modo adalah seekor Komodo yang dibuat fabel oleh Nadia La Tsaniya dihadapan puluhan anak-anak yang mengelilinginya. Nadia mengemas cerita bertajuk ‘Modo Tak Mau Menari’ dengan gaya dan ekspresi yang apik sehingga menarik perhatian audience yang didominasi anak-anak.

“Itu adalah kali pertama saya tampil mendongeng. Awalnya degdegan, tetapi setelah melihat anak-anak antusias jadi semangat,” aku perempuan kelahiran Bandung 1996 itu.

Pentas pertama Nadia saat itu bukanlah event yang direncanakan. Nadia mengaku hanya menggantikan seniornya yang berhalangan hadir. Meski hanya sebagai pengganti, dia tak mau melewatkan pengalaman tersebut. Dia hanya memiliki waktu sepekan untuk berlatih. Semaksimalnya dia gunakan untuk mengasah kemampuan. Mulai dari mendongeng di depan cermin, bercerita di depan teman-temannya hingga belajar ekspresi dimanapun.

Setelah debut itu, Nadia mulai asyik dengan dunia dongeng. Penerima manfaat Beasiswa Aktivis Nusantara Dompet Dhuafa 8 ini lantas mengajak teman-temannya untuk bergabung di Doing Project. Tak butuh waktu lama untuk mendapatkan respon dari kawan-kawan yang sevisi.

Anggotanya adalah penerima beasiswa yang sama. Niat awal didirikannya dongeng keliling adalah mendongeng untuk siapapun dan dimanapun. Sasaran awal memang anak-anak. Mereka dianggap sebagai generasi yang wajib menerima dongeng sebagai asupan sehari-hari.

Menurut Nadia teknologi yang berkembang saat ini sudah menggeser keberadaan cerita-cerita rakyat yang harusnya bisa menjadi nilai kebudayaan yang bisa dilestarikan kepada generasi muda-muda kita. Namun sayangnya kini orang tua lebih memilih memberikan gadget kepada anak sebagai hiburan.

Gadget memang hadir untuk mempermudah aktivitas manusia, namun dalam perjalanannya Menurut nadia gadget memberikan beberapa dampak negatif, salah satunya membuat anak menjadi apatis yaitu dewasa sebelum waktunya, membuat anak kurang memiliki kesopanan yang lebih tua.

“Tidak sedikit dari orang tua lebih memilih memberikan gadget terhadap anaknya dengan alasan agar anaknya bisa diam dan tak menangis”ujar Nadia.

Dari kegelisahan yang Nadia amati selama ini terhadap lingkungan anak-anak yang kini membuat cemas, Nadia berinisitif mendirikan “Doing Project” yaitu Komunitas Dongeng keliling.

Dongeng keliling project merupakan solusi yang ditawarkan Nadia La Tsaniya. “Doing Project adalah program social yang concern dengan secara konsisten menggelar berbagai kegiatan seperti belajar dan sharing dongeng bersama, workshop dongeng, dan dongeng keliling “ ujar wanita kelahiran 1996 itu.

Mengapa dongeng harus tetap dilestarikan? menurut Nadia karena dongeng adalah satu cara yang dapat digunakan untuk mengedukasi anak tanpa harus menggurui atau menasehati secara langsung.

Tujuan ‘Doing Project” yang Nadia bangun adalah untuk mengembalikan anak kepada dunia anak yang seharusnya dengan mengurangi intensitas bermain gadget , untuk menanamkan nilai luhur dan karakter kepada anak melalui storing telling dan yang terakhir untuk mengajak kaula muda yang tertarik dengan dongeng ikut serta melestarikan dongeng.

Rencana program Doing Project yang Nadia La Tsaniya ciptakan ialah pertama, belajar dan sharing dongeng bersama, minimal 1 minggu sekali, selanjutnya workshop dongeng dengan mendatangi pendongeng 1 bulan sekali, dan yang terakhir dongeng keliling dengan beberapa komunitas peduli anak di kota Solo.

Yang dibutuhkan doing project adalah buku anak atau buku dongeng, dan boneka karakter.“Pembiayaan doing project tidaklah banyak yang paling penting pemenuhan buku anak dan boneka karakter” ujar mahasiswi jurusan Bimbingan dan Konseling , Universitas Sebelas Maret tersebut.

Untuk pemenuhan buku anak, Nadia mengajukan proposal kepada penerbit buku anak dan membuka donasi buku anak sebagai bahan pembelajaran dongeng bagi komunitas dongeng keliling. Nadia La Tsaniya juga ikut mendonasi 20 persen keuntungan penghasilan karya WPAP yang dirintis olehnya untuk kelancaran program ini.

Tak hanya anak-anak, Doing Project juga berbagi kecerian terhadap anak-anak difabel dan gangguan jiwa serta kaum lansia di panti jompo di Solo.

Doing Project juga menggaet komunitas dongeng dalam pagelarannya, seperti Rumah Dongeng Mentari dari Jogja dan Komunitas Dongeng Kinciria dari Solo sebagai penutur dalam pagelaran ini.

Nadia dan panitia lainnya berharap, melalui dongeng ini masyarakat tetap menularkan cinta dan budaya bertutur melalui dongeng kepada orang – orang sekitar untuk menebar kebaikan.

“Teknologi yang berkembang saat ini tidak bisa menggantikan kontak fisik dan kontak hati, seperti mendongeng secara langsung” ujarnya.

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.