19 October 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Peduli

...

  • MUDIN PASE
  • 07 October 2019 11:30 WIB

ilustrasi. Foto: istimewa/net
ilustrasi. Foto: istimewa/net

"Di samping pagar rumah saya ada minimarket modern, tapi saya selalu cari kedai Aceh. Bagi saya ini juga jalan memberdayakan," cerita seorang pengusaha.

"Lucunya kelas menengah ke bawah kita cenderung memilih toko modern, seolah dengan begitu ada kebanggaan," timpal saya.

Sahabat!!!

Bayangkan di negeri ini. Data-data jelas menggambarkan. Bahwa hampir 90 persen perputaran uang dikuasai saudara kita Tionghoa. Salahkah mereka? Tentu tidak, mereka jago bisnis. Mereka punya ikatan dan isme sesama mereka yang kuat.

Masalah ada di kita kaum pribumi. Kita bermental pekerja. Konon lagi kita yang Muslim. Banyak anjuran-anjuran kaum agamawan tentang bahayanya mengejar kekayaan. Padahal, sejatinya bukanlah begitu. Kita wajib kaya selama jalannya sesuai ketentuan Islam.

Bukankah rasul dan para sahabat utama para pedagang. Islam yang sampai ke kita juga dibawa pedagang. Jadi, anjuran di atas bisa jadi demi melemahkan Islam. Tentu kita tidak menyadarinya.

Yang lebih berbahaya lagi. Kita yang berada di kelas menengah. Tidak lagi berbelanja di pasar tradisional. Padahal, itu juga jalan membantu sesama kita. Bukankah di pasar tradisional umumnya kaum pribumi. Mereka cari makan. Mereka tidak kaya. 

Sementara pemilik pasar modern adalah kaum kaya. Mereka berbisnis untuk memperbesar kekayaan mereka. Bukan sekadar cari makan seperti pedagang tradisional.

Membantu sesama tidak hanya memberi bantuan. Tapi juga membelanjakan uang kita dengan kaum lemah. Mereka pribumi dan saudara kita.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.