26 September 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Yang Terindah dalam Kehidupan Dayah

...

  • portalsatu.com
  • 02 August 2020 09:00 WIB

@Istimewa
@Istimewa

__Bila kita urut, maka keindahan itu bisa kita awali dari keindahan dalam menuntut dan mengkaji ilmu. Sebab, secara formal-akdemik inilah tujuan kita ke dayah, sejurus dengan itu adalah akhlak, ibadah dan latihan hidup__


Oleh: Taufik Sentana*

Setiap orang tentu memiliki waktu terbaiknya. Sampai sekarang, waktu terbaik itu selalu terselip selama kita siasati dengan baik. Walau kita belum sadar bahwa waktu terbaik itu memang ada, sampai akhirnya waktu itu hilang.

Kehidupan dayah/pesantren menjadi bagian dari waktu terbaikku, bahkan terindah. Memang terasa sulit dan berat bagi diri dan perekonomian orangtua saat itu (1990-1996 dan mengabdi s/d 2003). Biayanya setara dengan anak kuliahan saat itu. Tapi alhmdulillah, masa masa itu menjadi masa terindah.

Aku selalu meminta agar setiap amalan pada masa itu diterima oleh Allah, termasuk amalan ayah bunda dan para guru serta mereka yang berjasa pada masa itu.

Bila enam tahun pertama (sejak 1990) adalah masa belajar dan didikan.Maka periode selanjutnya adalah masa mengajar dan mengabdi (1996 sd 2003).
Keduanya menyimpan keindahan sendiri dan pergulatan sendiri pula.

Keindahan yang dimaksud disini, tentu tak sama gambarannya dengan orang lain. Namun rasa dan nuansanya bisa saja sama. Itulah keindahan dan hal terbaik yang menjadi ingatan dan lentera dalam menempuh hidup ke depan.

Bila kita urut, maka keindahan itu bisa kita awali dari keindahan dalam menuntut dan mengkaji ilmu. Sebab, secara formal-akdemik inilah tujuan kita ke dayah, sejurus dengan itu adalah akhlak, ibadah dan latihan hidup.

Keindahan dalam menuntut ilmu ini tidak hanya sebatas materi ilmu yang diterima. Namun juga dari interaksi dengan para guru/asatiz: penghormatan, khitmad, bahkan kekesalan, menjadi ramuan kecintaan (romantisme) tersendiri.

Kita selalu meyakini bahwa ilmu adalah cahaya. Ilmu apapun yang mengilhami kebaikan akan menjadi cahaya,dikotomi ilmu agama dan ilmu Islam hanyalah pengaburan sejarah Islam.

Selama di dayah (bukan klasik murni), kami mempelajari lebih dari 24 cabang ilmu, selain yang ekskul dan praktis: kepemimpinan, pidato, agrobisnis, komputer,  keterampilan seni/skill dan sejenisnya, sesuai tingkatan kelas, minat dan bakat.

Apa favoritku?, Bahasa Arab, Tafsir, Hadis, Usulfiqh, dasar ilmu tarbiyah, sosiologi (ilmu sosial umumnya) Seni, public speaking, menulis. 

Belakangan baru disadari bahwa keindahan semua itu adalah saat kita bisa melampaui rasa lelah dan bosan dalam menempuhnya. Atau saat ilmu itu menjadi amalan dan selalu diperlukan dalam kehidupan sehari hari (autentik dan relevan).

Selain interaksi dengan materi ilmu dan para guru, keindahan dayah yang paling berkesan adalah keaslian dan kemurnian lingkungannya. Ini berbeda dengan kekumuhan. Namun iklim dan kondisi yang mendukung aspek pendidikan: tertib, rapi, disiplin, penuh kegiatan dan kebersamaan, kesederhanaan serta keikhlasan. 

Di poin ini, sistem harian di kehidupan dayah/pesantren menjadi "sistem nilai" yang akan terekam oleh alam bawah sadar, menjadi lubang kerinduan untuk mengulangi masa itu.

Tapi, hakikat waktu akan terus melaju hingga jeda menuju keabadian. Yang lalu tak akan bisa kita lalui kembali, namun kita tetap bisa merefleksikannya dan mengingatnya dengan segenap rasa syukur.[]

*Belajar di Darul Arafah dan mengabdi di Yusriyah Langkat serta Misbahul Ulum Lhokseumawe. Kini menetap di Aceh Barat, bergabung di Jaringan Sekolah Islam Terpadu Indonesia.

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.