07 December 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Farrisa Safira, Gadis Bireuen yang Meraih Penghargaan Mahasiswi Terbaik Kemenkes 2019

...

  • portalsatu.com
  • 09 November 2019 14:00 WIB

Farissa Safira berfoto dengan Wakil Ketua TP PKK Aceh, Dyah Erti Idawati usai menerima penghargaan Mahasiswi Terbaik Kemenkes 2019 di ICE BSD, Serpong, Tangerang Selatan, 8 November 2019. (Foto: Saifullah S/BPPA)
Farissa Safira berfoto dengan Wakil Ketua TP PKK Aceh, Dyah Erti Idawati usai menerima penghargaan Mahasiswi Terbaik Kemenkes 2019 di ICE BSD, Serpong, Tangerang Selatan, 8 November 2019. (Foto: Saifullah S/BPPA)

JAKARTA - Gumuruh tepuk tangan pecah di Hall 10 ICE BSD, Serpong, Tangerang Selatan, Jumat, 8 November 2019, ketika salah seorang perempuan berkulit putih mengenakan jilbab merah maron dan mata bersinar ceria naik ke panggung. Dia bersama sejumlah orang lainnya dari berbagai profesi dinobatkan sebagai salah satu orang yang akan menerima penghargaan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI.

Namanya Farissa Safira (20) asal Bireuen. Anak dari pasangan Idris Usman dan Ummatun Marhumah itu tampak gembira. Dia meraih penghargaan juara III dari Kemenkes sebagai Mahasiswa Berprestasi Tahun 2019 setelah bersaing dengan 33 provinsi lainnya. Awal mula, Farissa tidak menyangka bahwa dirinyalah yang akan mewakili pelombaan pada tingkat nasional, apalagi saat itu dirinya belum secara maksimal melakukan persiapan. 

Farissa mengatakan, penghargaan yang diraihnya telah melalui berbagai tahapan. Setiap kampus Poltekkes di seluruh Indonesia, kata dia, wajib mengirimkan salah satu wakilnya untuk dilombakan pada tingkat nasional. "Alhamdulillah saya terpilih dari kampus untuk mengikuti lomba tingkat nasional lalu saya melakukan penelitian," ujar Farissa saat diwawancarai selesai menerima penghargaan.

Terpilihnya Farissa Safira menjadi kabar baik bagi dunia penelitian Aceh. Farissa mencoba meneliti pertumbuhan Staphylococcus Aureus dengan cara menguji jus umbi gadung ungu menggunakan Nutrien Agar (NA), sebuah media umum yang digunakan oleh peneliti untuk melihat pertumbuhan bakteri pada objek yang diuji coba.

"Tujuannya adalah untuk melihat daya hambat jus umbi gadung ungu terhadap pertumbuhan bakteri. Dan setelah diteliti, hasil yang kita dapatkan adalah umbi gadung ungu berkhasiat sebagai antibakteri karena memiliki kadar antosianin yang tinggi,"ujar perempuan kelahiran Juli Bireuen, 29 Agustus 1999 itu.

Namun, tambahnya, sifat umbi itu juga sebagai antibiotik sintetis dan memiliki dampak resiko resistensi yang tinggi apabila tidak memiliki pola konsumsi yang teratur.

Dari informasi yang didapatkan, rupanya Farissa juga bukan kali ini saja telah mendapatkan penghargaan bergengsi. Sebelum meraih penghargaan Juara III dari Kemenkes sebagai Mahasiswa Berprestasi Tahun 2019, dia juga memperoleh berbagai prestasi antara lain:

Mahasiswa Berprestasi 2 Tingkat 2 Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Aceh dengan IPK 4, Duta Favorit Poltekkes Kemenkes Aceh 2018, Delegasi Poltekkes Aceh dalam Ajang Debat Nasional NHPEDC 2018, Juara 1 Debat Bahasa Inggris Katagori Novice Tingkat Nasional pada Ajang NHPEO 2019, dan Pembicara Terbaik 2 pada Debat Bahasa Inggris Katagori Novice Tingkat Nasional NHPEO 2019.

Meski banyak mendapatkan penghargaan, namun Farissa mengaku masih banyak ilmu yang harus ia pelajari. Apalagi, kata dia, Aceh masih tertinggal jauh dari daerah lain. Pun demikian, ujar Farissa, dia meminta agar generasi muda Aceh jangan berkecil hati karena Aceh pun pantas bersaing di kancah nasional.

"Buktinya, hari ini banyak penghargaan yang diperoleh oleh daerah kita Aceh, termasuk penghargaan yang saya raih dan juga yang diraih oleh bapak dan ibu lainnya dari Aceh," jelas dia bangga.

Atas apa yang diraihnya, Farissa mengaku generasi Aceh punya potensi sangat besar dalam berbagai hal karena memiliki sumber daya manusianya yang bagus. Sehingga, dia yakin generasi Aceh dapat bersaing dengan siapapun. Cuma, jelas dia, yang perlu dilakukan oleh pemerintah dan generasi Aceh adalah meningkatkan dan memaksimalkan potensi yang ada.

Hari beranjak siang ketika Farissa meminta izin meninggalkan lokasi acara untuk melakukan foto bersama dengan tim yang selama ini mendukung dirinya hingga keluar sebagai salah satu juara tersebut. Wajahnya yang sumrigah tak dapat disembunyikan seolah ingin mengatakan bahwa generasi Aceh harus berani melewati berbagai tantangan untuk mendapatkan hasil yang memuaskan.

Tercatat, meskipun terlahir dari keluarga sederhana, namun sosok Farissa menjadi simbol kemajuan Aceh masa kini. Dia berharap jejak yang telah ditorehkan dirinya mampu diikuti oleh generasi milenial Aceh. Menurut dia, sudah saatnya generasi muda Aceh mempelajari ilmu ilmiah (penelitian) guna meningkatkan pengetahuan pada bidang yang digelutinya.[](rilis)

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.