21 July 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Ilmu Agama Terbatas Mudah Terjebak Paham Radikal

...

  • portalsatu.com
  • 10 January 2018 00:37 WIB

BANDA ACEH - "Saat ini kita menyaksikan banyak tindakan radikalisme dan terorisme yang dilakukan mengatasnamakan ajaran dan dalil-dalil agama. Padahal tindakan tersebut bertentangan sama sekali dengan ajaran agama." 

Demikian disampaikan Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Ar-Raniry, Dr Lukmanul Hakim, M.Ag dalam sambutannya saat membuka seminar nasional Pencegahan Terorisme di Aula lantai 3 Biro Rektor UIN Ar-Raniry, Selasa, 9 Januari 2018. Acara bertemakan “Pemuda Sebagai Perisai Melawan Radikalisme dan Terorisme" tersebut merupakan hajatan Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry.

Dalam kesempatan tersebut, Dr Lukmanul Hakim juga mengatakan, pemuda-pemuda yang memiliki keterbatasan ilmu agama sangat mudah dijebak dalam radikalisme. Buktinya, katanya lagi, hampir semua yang direkrut adalah generasi muda. Sebab itu, dia menilai pentingnya memberikan pemahaman kepada generasi muda tentang bahaya radikalisme.

Sementara itu, Ketua Fraksi Partai Aceh, Iskandar Usman Al Farlaky yang menjadi keynote speaker dalam seminar ini menyebutkan terorisme sama sekali tidak identik dengan Islam. Menurut Iskandar Usman seorang teroris itu tidak mesti berpeci, adakalanya mereka adalah orang-orang yang berdasi.

“Mereka tinggal di Pentagon, misalnya, tapi mereka melakukan tindakan terorisme dengan menghancurkan Suriah, Afghanistan dan negeri-negeri Islam lainnya sampai terbunuh bayi-bayi yang masih kecil dengan bom-bom canggih mereka. Maka itu terorisme," ujar Iskandar yang merupakan mantan aktivis mahasiswa UIN Ar-Raniry ini.

Iskandar jug menjelaskan, umumnya label teroris itu dibangun oleh nonmuslim dan dikhususkan untuk umat Islam. Hal ini kemudian berimbas pada labelisasi muslim identik dengan terorisme.

"Maka kita melihat bahwa saat pelaku terorisme itu nonmuslim, maka tidak akan disebut sebagai teroris karena bukan muslim," kata Iskandar.

Di sisi lain, Iskandar Usman menyebutkan, hal paling berbahaya saat ini adalah kemiskinan dan kurangnya akses pendidikan bagi generasi muda. Dia menilai dua hal tersebut dapat menjadi faktor tumbuhnya radikalisme dalam sebuah negara.

Hal senada disampaikan Ketua FKPT Aceh, Prof. Hasbi Amiruddin. Menurutnya, persoalan utama saat ini adalah kemiskinan. Kalau kemiskinan merajalela, maka akan memudahkan munculnya pemikiran radikalisme.

Sebab itu, Prof. Hasbi mengharapkan semua komponen umat Islam untuk berjuang membangun citra Islam, "yang Rahmatan lil ‘alamiin di pentas peradaban dunia saat ini." []

Editor: BOY NASHRUDDIN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.