25 November 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia

Seminar Internasional di UIN Ar-Raniry
Ini Kata Prof Syamsul Rijal Soal Kontribusi Tasawuf bagi Peradaban

...

  • PORTALSATU
  • 13 November 2017 14:50 WIB

@UIN Ar-Raniry
@UIN Ar-Raniry

BANDA ACEH - Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry menggelar seminar internasional tentang kontribusi tasawuf dalam membangun peradaban modern. Seminar ini dibuka Rektor UIN Ar-Raniry Prof. Farid Wajdi Ibrahim diwakili Wakil Rektor I, Dr. Muhibuthabry, di Aula Biro Rektor, Senin, 13 November 2017.

Prof. Syamsul Rijal dari UIN Ar-Raniry saat tampil sebagai keynote speaker (pembicara kunci) mengatakan, manusia modern memiliki cara berpikir rasional, pengembangan ilmu yang semakin dinamis, sikap hidup pun cenderung dinamis dan futuristik.

“Namun, di samping hal yang menggemberikan tersebut, kecenderungan kehidupan kontemporer itu sekaligus juga menyeret manusia menjauh dari Tuhan. Terjadinya kegersangan spiritual, kecenderungan hidup yang hedonis dan pragmatis, persaingan yang mengacu pada trans personal, terjadinya ketidakseimbangan hidup yang menghilangkan esensi kemanusiaan. Semua akan menemukan substansi jati diri dengan pendekatan tasawuf transformatif,” ujar Syamsul Rijal.

Syamsul Rijal menyebutkan, kompleksitas eksistensi manusia tidak bisa dilepaskan dengan nilai transcendental. Manusia butuh sikap mistis, mendekatkan diri dengan Tuhannya. Bukan sebaliknya superioritas rasional yang menjauhkan diri mereka dengan Tuhannya.

“Di sinilah substansi tasawuf menjadi penting, di mana sikap muraqabah membangun kedekatan manusia dengan Tuhan haruslah bersifat transformatif di mana sosok personalitas itu haruslah memilki kesadaran sosial dalam bentuk membangun kepedulian trans personal dalam kohesi sosial yang kokoh yang terbangun oleh karena nilai transendental yang dimiliki oleh manusia itu sendiri,” kata Syamsul Rijal.

Sementara itu, pembicara dari luar negeri yang diundang yaitu Dr. Muammar Ghaddafi Hanafiah menyampaikan presentasi dengan judul “Pemetaan Sanad Tarekat Rohani Syiah Kuala”. Berikutnya Prof. Madya Dr. M. Syukri Yeoh akan menyampaikan materi tentang “Manhaj Tarekat Rohani Syiah Kuala”. Keduanya berasal dari Universiti Kebangsaan Malaysia. Sedangkan Prof. Madya Dr. Arief Salleh Rosman dari UTM Malaysia dengan judul “Amalan Tahlil Yasin Syiah Kuala”.

Pembicara dari dalam negeri antara lain Dr. Damanhuri Basyir asal UIN Ar-Raniry menyampaikan makalah “Falsafah Zikir Tarekat, Kajian Kitab Umdat karya Abdurrauf As-Singkili”. Selanjutnya dr. Muhammad Sofyan dari UIN Sumatera Utara akan menyampaikan makalah “Dari Tasawuf menuju peradaban, telaah terhadap 44 wasiat Tuan Syeikh Abdul Wahab Rokan”.

Pemakalah lainnya dari UIN Gunung Djati, UIN Sunan Kalijaga, Universitas Malikussaleh, IAIN Malikussaleh dan sejumlah nama lainnya dari UIN Ar-Raniry seperti Dr. Jabbar Sabil, akan mempresentasikan makalah berjudul “Fitrah sebagai kerangka epistemologis intergrasi fiqh dan tasawuf”.

Ketua panitia, Dr. Damanhuri Basyir menjelaskan, beberapa landasan penyelenggaraan seminar ini, antara lain karena terjadinya krisis hubungan manusia dengan sang Khalik (Pencipta) yang akhirnya melemahkan moral dari pribadi-pribadi umat. Terjadinya kritis ukhuwah yang ditandai  lemahnya semangat persatuan umat, serta krisis hubungan agama Islam dengan negara.

“Atas realitas persoalan ini, di sini kita harapkan para ulama tasawuf agar berfungsi sebagai muaddib atau pendidikan yang berlandaskan pada konsep tarbiyah ala minhajin nubuwah. Ulama diharapkan dapat mendidik sehingga bisa meningkatkan kualitas keberagaman umat. Ulama juga diharapkan tampil sebagai pemersatu, sekaligus sebagai pembaharu yang membawa semangat perubahan melalui semangat keadilan dan kebijaksanaan,” ujar Damnhuri.

Damanhuri menyebutkan, kegiatan seminar internasional ini diberi nama ISTANA-I. Terdapat 33 pemakalah yang akan tampil dengan sesi masing-masing pemakalah di tiga ruangan paralel di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat.

Di awal acara, Dr. Mubuthabry dalam sambutannya berharap agar Fakultas Ushuluddin bisa mengambil langkah cepat dalam membangun kreativitas dosen dan mahasiswa. Ia berharap, Fakultas Ushuluddin suatu saat menjadi pilot project pengamalan tasawuf yang integratif.

“Dalam konteks dunia modern, integrasi lahiriyah dan batiniyah menjadi hal yang sangat penting dalam menuju insan kamil. Saya berharap, kalau kita ingin lihat karakter manusia yang baik, maka lihatlah di Ushuluddin. Kalau ingin melihat mahasiswa yang hafiz dan menguasai ilmu-ilmu Alquran, maka pergilah ke Ushuluddin,” ujar Muhibuthabry.[](rel)

Editor: IRMANSYAH D GUCI


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.