26 April 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Mahasiswa Ilmu Perpustakaan UIN Ar-Raniry Kajian ke Pedir Museum

...

  • Jamaluddin
  • 11 November 2018 16:00 WIB

Sejumlah mahasiswa Prodi Diploma III Ilmu Perpustakaan Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, di Pedir Museum, pada Minggu, 11 November 2018. Foto: Jamaluddin/portalsatu.com
Sejumlah mahasiswa Prodi Diploma III Ilmu Perpustakaan Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, di Pedir Museum, pada Minggu, 11 November 2018. Foto: Jamaluddin/portalsatu.com

BANDA ACEH - Sejumlah mahasiswa Prodi Diploma III Ilmu Perpustakaan Universitas Islam Negeri Ar-Raniry melakukan kunjungan penelitian ke Pedir Museum sebagai upaya persiapan calon pustakawan, Minggu, 11 November 2018.

Direktur Pedir Museum, Masykur Syafruddin, mengatakan mahasiwa itu melakukan observasi dan penelitian. Masykur memberikan beberapa materi tentang konservasi, preservasi, restorasi terhadap koleksi Pedir Museum. Masykur juga menjelaskan tentang naskah antara yang asli dan palsu.

"Terutama koleksi naskah yang merupakan salah satu tugas dari mata kuliah mereka. Kita memperkenalkan yang mana kertas tisu Jepang yang digunakan untuk restorasi, kemudian media-media yang dibutuhkan untuk perbaikan apa saja. Bahkan kita tadi langsung mempraktekkan, memegang naskah dan memegang tisu Jepang bagaimana cara untuk merestorasi," kata Masykur.

Mahasiswi semester lima mata kuliah Pemeliharaan dan Pengawetan Bahan Pustaka Prodi Diploma III Ilmu Perpustakaan UIN Ar-Raniry, Ipak Yuni Mahara, mewakili teman-temannya di sela-sela penelitian itu kepada portalsatu.com, mengatakan sangat bangga ketika melihat manuskrip-manuskrip masih tersimpan, dan terawat dengan baik di Pedir Museum.

"Saat melihat manuskrip-manuskrip masih tetap terjaga walaupun bentuknya yang kita sayangkan, tapi itu bagi saya sendiri apresiasi kepada masyarakat-masyarakat yang memang peduli akan informasi-informasi yang terkandung di dalamnya," kata Yuni Mahara.

Mahara menyebut Pedir Museum sebagai tempat mempelajari pengetahuan sejarah. "Sudah sepatutnya perlu kita ketahui bahwa kita yang sekarang ini hidup di Aceh perlu mengetahui bagaimana sejarah-sejarahnya dahulu, apalagi sekarang dikenal dengan gerenasi milenial".

"Mungkin dengan generasi sekarang banyak mahasiswa sendiri sudah dalam teknologinya masing-masing, tetapi sudah semestinya kita mengetahui asal-usul ataupun bagaimana Aceh ini ada, bagaimana perjuangan masyarakat Aceh dahulu, karena tanpa mereka dahulu tak ada kita sekarang," kata Mahara.

Bagi Mahara, mengenal manuskrip, sebenarnya sudah lama, mengetahuinya sejak sekolah menengah pertama, tapi hanya sebatas pada pengertian. Namun melihat langsung baru akhir-akhir ini, dan tentang keunikan-keunikan, informasi-informasi dari manuskrip itu baru dilihat tahun ini.

Menurut Mahara, kehadiran Pedir Museum atau Mapesa itu sangat bermanfaat untuk menyelamatkan dan merawat dokumen sejarah seperti manuskrip.

"Kami sebagai calon pustakawan dan calon pemberi informasi harus mengenali sumber-sumber informasi yang ada dan salah satunya adalah manuskrip. Naskah itu merupakan salah satu sumber informasiĀ  yang otentik sehingga dapat digunakan sebagai acuan," katanya.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.