24 January 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Masyarakat Aceh Peringati 14 tahun Tsunami Aceh di Turki

...

  • Jamaluddin
  • 30 December 2018 12:30 WIB

IKAMAT di Kampus Fatih Sultan Mehmet University, di Istanbul saat peringati 14 tahun tsunami Aceh, pada Jum’at, 28 Desember 2018 @Istimewa
IKAMAT di Kampus Fatih Sultan Mehmet University, di Istanbul saat peringati 14 tahun tsunami Aceh, pada Jum’at, 28 Desember 2018 @Istimewa

TURKI - Ikatan Masyarakat Aceh-Turki (IKAMAT) peringati 14 tahun Tsunami di Istanbul, Turki. Acara tersebut diselenggarakan di Kampus Fatih Sultan Mehmet University pada Jum’at, 28 Desember 2018, dibuka oleh Herry Sudrajat, Konsulat Jendral Republik Indonesia di Istanbul beserta Rektor Universitas Fatih Sultan Mehmet Prof. Dr. Fahameddin Basar.

Acara peringatan yang berlangsung selama 2 jam tersebut bertemakan 'Tesekkur Ederiz Turkiye' yaitu sebuah slogan ucapan terima kasih kepada masyarakat Turki. 

Pada kata sambutan ketua panitia yang juga koordinator IKAMAT Istanbul, Muhammad Haykal menyebutkan 'Saya ingat betul bagaimana dulu setelah Tsunami Turk K?z?lay? membagikan roti Turki kepada masyarakat Aceh di Lueng Bata. Layaknya anak-anak Aceh pada umumnya saya dulu juga ikut mengantri untuk sekedar mencicipi roti Turki tersebut'. 

"Hari ini, atas nama masyarakat Aceh saya ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh organisasi kemanusiaan di Turki, terima kasih atas setiap roti yang dibagikan, terima kasih atas bantuan dan dukungannya’’ diiringi tepuk tangan meriah para undangan," kata Haykal.

Inti acara Peringatan 14 Tahun Tsunami tersebut diisi oleh panel diskusi Refleksi Tsunami. Dimana perwakilan dari organisasi kemanusiaan, cendekiawan dan akademisi Turki hadir untuk menyampaikan paparan. Salah satu dari yang hadir ialah; Dr. Mehmet Ozay (Dosen Universitas Ibn Haldun), Coskun Aral (Fotografer & Documentary Director), Huseyin Can (Sekretaris Umum Turk Kizilay), Osman Atalay (Anggota Dewan Penasehat IHH). 

Diskusi dimulai dengan sambutan pakar sejarah Aceh Dr. Mehmet Ozay, sebagai moderator diskusi ia memulainya dengan memperkenalkan satu per satu profil para pemateri. Dr. Mehmet Ozay sendiri tidaklah asing dengan Aceh. Ia telah menghabiskan waktunya 10 tahun untuk meneliti sejarah Aceh Darussalam. 

Turk Kizilay (Palang Merah Turki) yang diwakilkan oleh sekretaris umum Huseyin Can menyampaikan bahwa Turk Kizilay telah hadir di Aceh sejak minggu pertama kejadian Tsunami. 

‘’Tugas kami saat itu adalah mengobati luka masyarakat Aceh, memberi mereka dukungan moril dalam menghadapi trauma Tsunami. Namun, setelah melakukan tugas ini Turk Kizilay tak lantas pergi begitu saja, kita juga ingin menjamin bagaimana anak-anak dan pemuda Aceh dapat berkembang dan bangkit dari keterpurukan demi meraih cita-cita mereka. Oleh sebab itu, kita juga bagun sekolah-sekolah dan rumah-rumah untuk para yatim," kata Huseyin Can.

Sesi kedua dilanjutkan dengan Osman Atalay ia menyampaikan IHH adalah sebuah organisasi kemanusiaan yang telah mendirikan rumah yatim Baba Murat Korkmaz Orphanage di kawasan Blangbintang. Rumah yatim ini didirikan setelah kejadian Tsunami 2004 dan sekarang banyak dari anak-anak yatim didikan telah berhasil menimba ilmu ke berbagai negara khususnya Turki dan Malaysia. 

Sesi berikutnya giliran Fotografer ternama sekaligus documentary director Coskun Aral menyampaikan paparannya. Sepanjang hayatnya Coskun Aral telah banyak mendokumentasikan momen-momen konflik khususnya perang Bosnia.

Pada masa konflik Aceh ia juga pernah beberapa kali berusaha untuk meliput konflik dari dalam, namun menurut pengakuannya setiap kali ia berusaha ada saja yang menghalanginya untuk masuk ke Aceh. Ia juga menampilkan video sejarah Aceh-Turki berdurasi 10 menit pada saat acara berlangsung. Di dalam video tersebut terlihat jelas bagaimana ia pertama kali menemukan pemakaman Turki yang saat ini berada di desa Bitay, Banda Aceh. 

Acara peringatan 14 tahun Tsunami ditutup oleh penyerahan hadiah oleh Fatih Sultan Mehmet University dan IKAMAT kepada para pemateri. Penonton juga disuguhkan video deklarasi Te?ekkür Ederiz Turkiye yang diiringi musik Ranup Lampuan oleh masyarakat Aceh di Turki sebagai tanda ucapan terima kasih. Sekali lagi, 'Terima Kasih, Turki!

Konsulat Jendral Republik Indonesia di Istanbul, Herry Sudrajat juga menyampaikan belasungkawa atas kejadian-kejadian gempa di Lombok dan bencana Tsunami di Palu dan Selat Sunda minggu lalu.

"Indonesia merupakan daerah rawan akan bencana maka dari itu kita selalu berusaha untuk siaga atas kemungkinan bencana yang akan datang, sebab bencan merupakan kejadian alam yang tak dapat diperdiksi. Kita juga membuka pintu selauas-luasnya untuk kerjasama dengan pihak Turki khususnya pada penanggulangan bencana," kata Herry.[] Rel

Editor: THAYEB LOH ANGEN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.