04 June 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia

Hadapi Wabah Corona
Sosiolog Unimal: Nyawa Rakyat di Atas Segalanya, Pemerintah Aceh Jangan Ragu Lockdown!

...

  • IRMANSYAH D GUCI
  • 29 March 2020 19:45 WIB

Dr. Nirzalin, M.Si. Foto: dokumen fisip-unimal
Dr. Nirzalin, M.Si. Foto: dokumen fisip-unimal

BANDA ACEH – Sosiolog Universitas Malikussaleh (Unimal), Dr. Nirzalin, M.Si., menilai pemerintah Aceh tampak ragu-ragu menerapkan partial lockdown untuk pencegahan Coronavirus disease-2019 (Covid-19) lantaran merasa tidak siap dengan pembiayaan sosial. Seharusnya, menurut Nirzalin, Pemerintah Aceh tidak boleh ragu, sebab nyawa rakyat di atas segala-galanya.

“Aspek apapun di luar nyawa itu bisa digeser, dan jangan ragu. Jangan berpikir untuk kepentingan pribadi dalam hal yang kita sedang hadapi wabah semacam ini,” tegas Nirzalin saat dihubungi portalsatu.com melalui telepon seluler dari Banda Aceh, Ahad, 29 Maret 2020. 

Berikut selengkapnya tanggapan Nirzalin yang merupakan Doktor Sosiologi lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta kepada portalsatu.com:

Bagaimana Anda melihat potensi dampak buruk dari Covid-19 terhadap masyarakat Aceh saat ini dan ke depan, dan kesiapan masyarakat dalam menghadapi wabah ini?

Yang pertama, dampak sosial ekonominya tentu akan sangat terasa karena ketika dilakukan proses lockdown, misalnya, ini yang sudah jadi wacana, ya. Lockdown di beberapa daerah sudah melakukan, seperti Tegal, di Papua, dan sebentar lagi Tasikmalaya, terus Banda Aceh juga katanya akan melakukan itu. Maka dampak sosial ekonomi akan sangat terasa terutama kepada mereka yang pendapatan hariannya, yaitu pendapatan yang diperoleh dari kerja harian, ya, semacam buruh, nelayan, dan kemudian ojek-ojek online itu, dan lain sebagainya.

Mereka ini yang paling rentan, ini yang harus diperhatikan oleh pemerintah. Bagaimana kebutuhan sembako mereka itu dapat terpenuhi kalau tidak ingin memberi implikasi serius pada peningkatan angka kemiskinan.

Yang kedua, bisa bisa seperti di India, orang meninggal bukan karena Covid-19, tapi karena enggak makan. Nah, ini yang harus diperhatikan. Tetapi, apakah lockdown itu dibutuhkan? Saya bukan dokter, tapi kalau dari pengetahuan yang kita peroleh dari informasi berbagai macam media dan sebagainya, lockdown itu menjadi solusi terbaik untuk menekan angka penyebarannya. Nah, itu harus dilakukan.

Kemudian, kita harus semakin mempersempit ruang penyeberan Covid-19 lewat penyediaaan bilik-bilik disinfektan. Jadi, bilik disinfektan itu harus dibuat di pusat keramaian, ya, misalnya pasar pasar, supermarket. Itu kan meskipun lockdown, kalau itu dilakukan, masyarakat tetap membutuhkan akses untuk kebutuhan sehari-hari. Mereka pasti ke pasar, terutama pasar tradisional, itu harus ada bilik disinfektan di minimarket.

Terus saya kira mushalla, masjid, meunasah, saya kira kalaupun warga masih tetap ingin shalat meskipun dengan jarak, ya, satu setengah atau dua meter, kan boleh juga. Ada pandangan dalam fikih yang membolehkan begitu dalam keadaan darurat, harus dibuat bilik disinfektan. Saya kira itu jalan yang terbaik.

Yang ketiga, saya lihat kesadaran masyarakat untuk menjaga agar tidak terinfeksi dengan virus corona ini juga mulai membaik. Ketika ada informasi dari pusat bahwa pasien Covid-19 bertambah, kemudian masyarakat menyadari betapa pentingnya menjaga jarak, physical distancing, jarak fisik.

Istilah sosial: jarak fisik, bukan jarak sosial. Kalau jarak sosial harus didekatkan dalam kondisi begini dalam membangun empati dan simpati terhadap warga. Bukannya justru tak peduli. Empati dan simpati itu, ya, lewat saling berbagi, saling mengomunikasikan, saling mengarahkan, dan sebagainya. Sementara secara fisik, kita memang enggak boleh dekat-dekat sekarang.

Ini mulai baik di kalangan masyarakat, mulai menjaga jarak, dan ini positif untuk menekan angka penyebaran yang semakin luas.

Dan yang paling terakhir, harus diwaspadai kasus Covid-19 dari hasil impor orang-orang Aceh, ya, atau tamu-tamu yang datang ke wilayah kita harus diperiksa secara serius, diwaspadai serius, terutama oleh pemerintah bagaimana mereka yang baru pulang dari luar negeri, terutama dari kawasan yang pandemik semacam di Malaysia, itu harus dipantau.

Berbagai kalangan terutama masyarakat sipil menilai pemerintah di Aceh belum mengambil langkah konkret untuk pencegahan wabah Covid-19 ini. Anda sendiri bagaimana melihat kebijakan dan kinerja pemerintah di Aceh sejauh ini terkait Covid-19? Langkah nyata seperti apa yang harus segera dilakukan pemerintah, baik Gubernur, DPRA, Bupati, Wali Kota dan DPRK?

Saya kira memang yang terlihat sekarang, pemerintah Aceh baik dari tingkat Gubernur ataupun Bupati, Wali Kota, ragu-ragu menyikapi ini. Ragu-ragu artinya bahwa kalau dibuat lockdown atau isolasi lokal atau partial lockdown apapun istilahnya itu, mereka ragu karena tampaknya ini pemerintah kita enggak siap dengan pembiayaan sosialnya. Efeknya pada ekonomi.

Jadi, terutama adalah pada mereka yang penghasilannya itu lewat kerja harian. Ketika ini di lockdown misalnya, dilakukan 14 hari misalnya, maka 14 hari mereka tidak ada pendapatan dan itu harus disuplai kebutuhan hidupnya, paling tidak sembakonya. Dan tampaknya pemerintah Aceh ragu pada itu, tidak ada kesiapan anggaran untuk itu. 

Tetapi, saya kira kalau pemerintah Aceh bertindak dalam konteks pemerintah yang profesional harusnya aspek ini bisa dilakukan, karena anggaran untuk itu bisa dialihkan dari anggaran-anggaran lainnya yang sifatnya (proyek) fisik.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani, itu sudah mengeluarkan surat edaran bahwa dalam konteks menghadapi Covid-19, anggaran-anggaran yang berbau fisik terutama daerah-daerah yang ada DAK-nya, terutama di Aceh, itu harus dialihkan untuk mengatasi penyebaran Covid- 19 ini. 

Saya kira itu adalah langkah yang bisa dilakukan. Tetapi, tampaknya ragu-ragu pemerintah Aceh, kalau pembangunan fisiknya dialihkan untuk mengatasi corona, maka setelah corona selesai mereka enggak bisa lagi menjalankan kegiatan yang sudah dihapus itu. Tampaknya ada aspek itu yang membuat ragu-ragu.

Tapi saya ingin mengatakan, nyawa itu di atas segala-galanya. Nyawa rakyat itu di atas segala-galanya, dan karena itu maka tidak boleh ragu. Analisislah dengan baik, lalu ambil keputusan yang tepat demi menyelamatkan nyawa. Maka aspek apapun di luar nyawa itu bisa digeser, dan jangan ragu. Jangan berpikir untuk kepentingan pribadi dalam hal yang kita sedang hadapi wabah semacam ini.[](nsy

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.