23 July 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Untuk Model Pembangunan Baru, Natural Aceh Riset Bersama 4 Lembaga

...

  • PORTALSATU
  • 09 July 2018 11:00 WIB

@Istimewa
@Istimewa

BANDA ACEH -  Lembaga Riset Natural Aceh diskusi dan menandatangani MoU dengan 4 lembaga dalam rangkaian kerjasama dalam Penelitian Pemantauan dan Peninjauan Sustainable Development Goals (SDGs) di Aceh, di Gedung Politeknik Aceh, Pango, Ulee Kareng, Banda Aceh, Minggu, 8 Juli 2018. 

Lembaga yang terlibat tersebut adalah Politeknik Aceh, Flower Aceh, Generasi Muda Inspiratif (GeMI) Aceh dan Darussalam Consulting Group. Masing-masing lembaga ini mewakili kelompok Perguruan Tinggi, LSM, Komunitas Pemuda dan Dunia Usaha.

Zainal Abidin Suarja, Ketua Natural Aceh, berharap kolaborasi ini bisa membentuk sebuah koalisi dalam mengawal perjalanan menuju pembangunan berkeadilan yang dilakukan pemerintah. Menurutnya, hal yang harus didalami saat ini adalah pemahaman pemangku kepentingan terhadap keadilan pembangunan. Dalam 30 tahun terakhir, satu sistem ekonomi dan politik global telah mendefinisikan model pembangunan: Kapitalisme Korporat.

Model ini, kata Zainal, mengasumsikan bahwa ‘pengembangan’ dan ‘pertumbuhan’ adalah sama, dan semakin banyak uang bergerak, semakin banyak negara ‘berkembang’. Ketika pertumbuhan PDB dihitung sebagai pembangunan - perang menjadi lebih bermanfaat dari pada perdamaian, penyakit lebih bermanfaat dari pada kesehatan, konsumsi lebih bermanfaat dari pada perawatan, keuntungan pribadi lebih menguntungkan dari pada milik umum.

Dalam model itu, kata dia, pemerintah memfasilitasi Kapitalisme Korporat dengan mengurangi pengeluaran publik, privatisasi aset dan layanan publik, mengurangi peraturan apa pun tentang industri, mempromosikan tenaga kerja murah dan fleksibel, menandatangani perjanjian perdagangan, dan mengambil 'sumbangan' perusahaan kepada partai politik.

"Model pengembangan tersebut telah sepenuhnya gagal di sebagian besar negara. Ini telah menyalurkan kekayaan dari orang yang bekerja ke orang kaya, dan dari negara berkembang ke negara-negara kaya. Ini telah berkontribusi pada pemanasan Bumi kita, menyebabkan perpindahan jutaan orang, menurunkan upah riil, meningkatkan migrasi tenaga kerja dan menyebabkan krisis keuangan, lingkungan, makanan dan energi yang terus menghancurkan kehidupan masyarakat global. Dunia sangat membutuhkan model pembangunan baru, model yang menegaskan hak untuk pembangunan bagi semua orang atas keuntungan pribadi," kata Zainal Abidin.

Penelitian ini diharapkan dapat  meninjau dan memantau Sustainable Development Goals (SDGs) yang telah disahkan oleh PBB dan pemerintah Indonesia dari segi pembangunan yang berkeadilan.

Sejak Presiden Jokowi menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 59 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang merupakan komitmen agar pelaksanaan dan pencapaian SDGs dilaksanakan secara partisipatif dengan melibatkan seluruh pihak, masih banyak institusi pemerintah, perguruan tinggi, LSM, Ormas, Komunitas bahkan masyarakat yang tidak bisa mengaplikasikan, mendapatkan serta menjalankan 17 Tujuan dan 169 Target yang tertuang dalam SDGs tersebut.

Puteri Handika selaku program manager penelitian ini mengatakan bahwa seluruh pihak yang terlibat dalam penandatangan MoU ini akan bekerja sama secara partisipatif sampai November 2018 mendatang dalam Pelaksanaan FGD, Workshop, Pengumpulan dan Analisa Data hingga Audiensi dan  peningkatan Kapasitas Personil Pemerintahan pada tujuan 8 dan 11 SDGs.

“Seperti prinsip utama SDGs yaitu  Tidak Meninggalkan Satu Orang pun, maka secara organisasi kami tetap terbuka untuk berkolaborasi dan bekerjasa sama dengan institusi/organisasi dan komunitas lain di Aceh, penelitian ini akan dilaksanakan di 3 daerah yaitu Kota Banda Aceh, Kabupaten Aceh Besar dan Kabupaten Pidie, bahkan jika ada mahasiswa baik sarjana maupun pascasarjana yang sedang melakukan penelitian yang sama silahkan saja jika ingin bergabung atau berbagi data dengan kami,” kata Puteri.

Sementara itu, Cahaya Purnama Sari selaku sekretaris GeMI Aceh sangat antusias untuk melakukan penelitian ini.  

“SDGs sebagai sebuah agenda pembangunan dunia yang bertujuan untuk kesejahteraan manusia sedang menjadi tema dan isu penting saat ini. Terlibat dalam penelitian ini tentu saja akan memberikan kontribusi positif untuk mengungkap tentang penjaminan Pendidikan Yang Inklusif Dan akses keadilan bagi semua orang,” Cahaya.[](Rel)

Editor: THAYEB LOH ANGEN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.