09 August 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Samalanga dan Batee Iliek (II): Sosok Teungku Nyak Muda Ali

...

  • Helmi Abu Bakar El-Langkawi
  • 18 January 2018 09:00 WIB

TEUNGKU Nyak Muda Ali, merupakan salah seorang tokoh kunci Samalanga yang sangat berperan dalam perjuangan melawan penjajah Belanda, beliau berasal dari jazirah Arab yang tinggal di Samalanga.

Sosok itu pada masa itu merupakan salah seorang yang paling istimewa dan sangat di hormati di daerah tersebut. Sebuah pribadi yang alim, sangat peduli kepada masyarakat di sekitarnya. Beliau berasal dari sebuah keluarga arab yang taat beragama.

Dalam kehidupan sehari-hari Teungku Nyak Muda Ali adalah guru dari sebuah pasantren. Bahkan Beliaulah pendiri pasantren tersebut. Banyak keluarga yang mengirimkan putra-putranya ke pasantren tersebut. Beliau sangat taat beragama. Penduduk Kerajaan Samalanga sangat menghormatinya, terutama orang-orang yang berada di sekitar Krueng BatéeIlié. Selain itu Teungku Nyak Muda Ali dikenal sebagai Teungku Ramieleé, karena pasantren yang dibangunnya berada di gampong  Ramieleé. Gampong itu berada di kaki pegunungan Bukit Barisan dan di hulu Krueng BatéeIlié.

Teungku Nyak Muda Ali (Teungku Ramieleé) tinggal tak jauh dari Krueng BatéeIlié. Gampong itu bernama Gampong Pulö. Di sebut sebagai Gampong Pulö, karena daerahnya berbentuk sebuah pulau yang dikelilingi persawahan.

Teungku Nyak Muda Ali (Teungku Ramieleé) beristrikan anak Geuchik Gampong Pulö. Dari hasil perkawinannya, Beliau mempunyai dua orang anak, laki-laki dan perempuan. Yang laki-laki bernama Ibrahim Siddig meninggal pada saat berumur sepuluh tahun dan yang perempuan bernama Hamidah.

Setelah mertuanya meninggal, Teungku Nyak Muda Ali (Teungku Ramieleé) menggantikannya menjadi Geuchik Gampong Pulö. Masyarakat Gampong Pulö sangat hormat kepada Beliau. Selain orangnya alim, Beliau sangat membela kepentingan warganya, baik itu jika berhadapan dengan para uléebalang maupun berhadapan dengan gampong lain. Seluruh masyarakat Gampong Pulö sangat bertumpu pada Beliau.

Perannya sebagai Geuchik,  Teungku Nyak Muda Ali (Teungku Ramieleé) bisa diajak bicara dan berunding beraneka macam urusan. Beliau sangat menguasai ilmu Agama Islam seperti Fikih, Tauhid, Tasauwuf, dan Sejarah. Selain itu juga sangat menguasai ilmu politik pada saat itu.

Selama Beliau menjadi Gechik, Gampong Pulö tetap aman. Bila ada yang berselisih paham, Teungku Nyak Muda Ali (Teungku Ramieleé) bertindak seakan-akan menjadi wakil dari kedua pihak. Namun pada hakekatnya bertindak selaku hakim penyelesaian sengketa.

Teungku Nyak Muda Ali (Teungku Ramieleé) mempunyai hewan piaraan harimau, yang hitam harimau jantan bernama KUMBANG, yang putih harimau betina bernama SAMDEH. Ditambah lima ekor harimau belang. Harimau-harimau tersebut bukan sembarang harimau, mereka juga keramat seperti Beliau.

Pernah sekali kejadian yang tak pernah dilupakan warga Gampong Pulö. Rumah Beliau didatangi oleh beberapa orang pencuri dari luar Gampong. Sewaktu  pencuri-pencuri tersebut baru saja tiba di halaman rumah, mereka langsung dikawal oleh harimau-harimau itu, sehingga tidak berani bergerak ke mana-mana. Baru pada keesokan harinya di saat Beliau bangun untuk melaksanakan shalat Subuh ke Meunasah pencuri-pencuri itu baru dilepaskan.

Sistem mata pencaharian pada umunya dari masyarakat Gampong Pulö adalah tani. Sesuai dengan letak daerah yang membujur sepanjang Bukit Barisan. Hal ini tercermin dari luasnya areal sawah yang dimiliki masyarakat gampong tersebut.[]

(Sumber: Zubaidah,  Penulis "Bat?e Iliek Yang Menyimpan Sejarah")

Editor: THAYEB LOH ANGEN

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.