09 August 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Samalanga dan Batee Iliek (III): Kiprah Teungku Nyak Muda Ali Melawan Belanda

...

  • Helmi Abu Bakar El-Langkawi
  • 19 January 2018 10:00 WIB

MASYARAKAT Aceh dapat dikatakan secara umum pendidikan di setiap daerah dalam mengaji (jak beuet) itu wajib. Fenomena ini juga dilakoni termasuk Gampong Pulö, Samalanga. Masyarakat disana pada umumnya menyerahkan anak-anak mereka yang telah mencapai usia enam tahun ke Meunasah. Setelah anak-anak mereka berumur dua belas tahun yang laki-laki diantar ke  dayah Teungku Nyak Muda Ali (Teungku Ramieleé).

Pendidikan dan pengajaran yang diajarkan merupakan media penanaman nilai-nilai agama islam antara lain membaca Alquran dan pengajaran agama islam lainnya. Selain itu beliau juga mengajarkan kepada murid-muridnya hal-hal yang menyangkut dengan kesopanan pantangan-pantangan yang berlaku dalam masyarakat Aceh yang sudah menjadi adat atau tradisi yang sesuai dengan syariat Islam.

Sosok tokoh tersebut dalam hal ini beserta murid-muridnya mempunyai peranan yang sangat besar dalam membentuk jiwa anak pada masyarakat Samalanga sangat besar. Beliau merupakan salah satu diantara orang-orang yang mengajarkan kepada  anak-anak sebagai generus penerus bermacam problema dan permasahan baik tentang tauhid, fiqh maupun tasawuf berupa norma-norma dan sebagainya.

Selain itu bagaimana seorang anak harus berbicara dengan orang tuanya dengan gurunya dan dengan saudara-saudaranya. Anak-anak diajarkan agar mereka tetap berbudi pekerti yang baik. Anak-anak hendaklah mengasihi orang tuanya sebesar cintanya terhadap agama Islam.

Lebih dari itu juga terhadap anak-anak diberikan contoh hal-hal yang tidak boleh dilakukan. Seperti pemarah. dengki. takabur. sombong. dan berbicara yang tidak berfaedah.

Keberadaan Teungku Ramielee dengan anak masyarakat disana diantar ke dayahnya membuat beban orang tua dalam menanamkan disiplin beribadah menjadi berkurang. Tentu saja ini melalui dayah anak-anak mulai mengenal berbagai orang sebagai pengasuh yang dapat membentuk kepribadiannya.

Demikian sentralnya peran Teungku Nyak Muda Ali (Teungku Ramieleé) dalam kehidupan masyarakat Samalanga. Teungku Nyak Muda Ali (Teungku Ramieleé) tidak hanya memiliki ilmu agama islam, tetapi memiliki pengetahuan yang multidimensional.

Sangat wajar keahlian dan ketokohannya sdalam masyarakat Samalanga dianggap sebagai ahli dalam berbagai hal serta tidak ada yang meragukannya bahkan mengapresiasikannya. Hal ini membuktikan bahwa pengaruh Pasantren dan Teungku Nyak Muda Ali (Teungku Ramieleé) terhadap masyarakat Samalanga sangat kuat dalam banyak aspek kehidupan mereka.

Sementara itu  dalam beberapa hal dayah tersebut mengharuskan murid-muridnya menetap. Di sana terdapat pondok-pondok untuk guru-guru dan murid-muridnya. Rotasi dan kehidupan dayah  itu diatur oleh beberapa orang Teungku.

Belajar di dayah Teungku Nyak Muda Ali (Teungku Ramieleé) sangat komprehensif. Fenomena ini fungsi dayah tidak hanya menawarkan materi agama islam tetapi juga memberikan bimbingan spiritual dan latihan fisik. Makanya peranan dan keberadaan  Teungku Nyak Muda Ali (Teungku Ramieleé) bukan hanya bertanggung jawab dalam hal mengajar namun juga berfungsi sebagai penasehat. pelatih. pembimbing. dan penolong.

Diamping itu diantara hal yang perlu d garis bawahi bahwaPenting  Teungku Nyak Muda Ali (Teungku Ramieleé) membuat Samalanga menjadi pusat perhatian Aceh bahkan Belanda terutama dalam hal sosial politik dari tahun 1877 – 1901 bagaimana dia dapat menggoncangkan Pemerintahan Belanda.[]

Editor: THAYEB LOH ANGEN

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.