23 October 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Hindari Predator Anak dengan Cara Ini

...

  • Rino
  • 18 July 2018 16:00 WIB

Ketua P2TP2A Aceh Barat, Psikolog, Diah Pratiwi, S.Psi. @portalsatu.com/Rino Abonita
Ketua P2TP2A Aceh Barat, Psikolog, Diah Pratiwi, S.Psi. @portalsatu.com/Rino Abonita

ACEH BARAT - Sejak Januari hingga Juli 2018, setidaknya terjadi 14 kasus kekerasan seksual terhadap anak di Kabupaten Aceh Barat. Kasus tersebar di beberapa kecamatan di kabupaten itu.

Menurut Psikolog, Diah Pratiwi, S.Psi., terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan orangtua, khususnya, ibu, untuk mencegah terjadinya tindak kekerasan seksual terhadap anak atau agar dijauhkan dari bahaya predator anak/pedofil, yang banyak menyasar anak perempuan.

"Anak harus dididik. Seorang anak perempuan, ketika ia sudah bisa berjalan atau berumur 2 tahun, keluar dari kamar mandi, harus dalam keadaan terbungkus handuk," kata Diah, kepada portalsatu.com, Rabu, 18 Juli 2018.

Selain itu, tugas memakaikan baju pada anak hanya boleh dilakukan oleh ibunya. Perlu dicatat, hanya ibunyalah yang boleh melihat bagian dada sampai di atas lutut, tubuh anak.

"Kalau dia anak perempuan, hanya ibunya, kalau laki-laki, ibu dan ayahnya," sebutnya. Kenapa tidak disarankan lagi seorang ayah memandikan anak perempuannya, karena banyak kasus ternyata yang jadi predator anak, adalah ayahnya sendiri," imbuhnya.

Diah melanjutkan, seorang anak, jika sudah berumur 2,5 tahun, ia sudah harus dipisah tempat tidurnya, baik dari orangtuanya, atau saudaranya yang laki-laki. "Hal itu juga sudah diatur kan, dalam agama, jadi tidak hanya dibahas di psikologi saja," kata dia.

Kepada si anak, juga perlu ditekankan, tidak boleh ada yang menyentuh bagian tertentu dari dada sampai paha. "Ketika sudah mulai bermain di luar rumah, sudah bermain di play group, hal itu perlu dikatakan kepada anak. Sekalipun itu gurunya, khususnya guru yang laki-laki. Jika ada yang menyentuh, harus disampaikan pada ibu," tegasnya.

Bagaimana jika si anak diduga menjadi korban

Orangtua, khususnya ibu, sensitif dalam melihat perubahan prilaku yang terjadi pada si anak. "Ketika anak yang periang tiba-tiba diam, ibu harus sensitif. Harus bertanya dengan cara yang cerdas tanpa menekan, tanpa membuat si anak takut. Karena rata-rata, anak yang menjadi korban takut mengungkap kejadian menimpanya, karena ada ancaman dari pelaku," ujar dia.

Menurutnya, para orangtua harus bijak dalam menanggapi adanya dugaan kekerasan seksual yang menimpa anak mereka. Ketika sedang bertanya untuk menyelidiki apa yang tengah menimpa  anak, orangtua harus meyakinkan si anak, bahwa ia tidak akan dimarahi jika memberi tahu kejadian yang menimpanya.

'Itu bukan hanya janji. Itu juga harus dibuktikan. Katakan pada si anak, 'kamu alami itu bukan kesalahan kamu, itu adalah bentuk kejahatan yang harus sama-sama diselesaikan bersama'. Jadi si anak juga merasa, salah jika harus menutupi apa yang dialaminya," kata Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Aceh Barat itu.[]

Editor: THAYEB LOH ANGEN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.