24 August 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


OTT Irwandi, Orang Aceh dan Korupsi

...

  • MUDIN PASE
  • 25 January 2019 10:40 WIB

Reza Indria. Foto: istimewa
Reza Indria. Foto: istimewa

"Guncangan itu datang pada Selasa, 3 Juli 2018, malam. Penangkapan Irwandi Yusuf oleh KPK terjadi seperti gempa, tanpa aba-aba, namun memberi efek kejut yang mengguncang saraf nyaris semua orang Aceh, tidak terkecuali lawan-lawan politiknya. Keesokan pagi ketika Irwandi dipastikan terbang ke Jakarta bersama penyidik KPK, semua orang sudah bisa merasa bahwa Irwandi tidak akan kembali ke Aceh dalam waktu dekat".

Demikian bagian pembuka tulisan Reza Idria berjudul "Orang Aceh dan Korupsi", dalam "Aceh 2018: Makin Gelap dan Sempit?" Catatan Akhir Tahun 2018 "Poros Darussalam"

Dosen FISIP UIN Ar-Raniry ini menjelaskan, "Sebenarnya bukan pertama kali masyarakat Aceh menyaksikan pemimpin mereka ditangkap dan diterbangkan ke Jakarta. Juga untuk kasus korupsi, gubernur Aceh Abdullah Puteh menjadi gubernur Indonesia pertama yang berurusan dengan KPK". 

(Puteh ditangkap KPK hanya beberapa hari sebelum tsunami menghumbalang Aceh pada Desember 2004). 

Pun begitu tidak sedikit yang menggigil menerima kenyataan bahwa Irwandi yang mengusung slogan pemerintahan “hana-fee” akhirnya ditetapkan oleh KPK sebagai tersangka.

"Yang menarik bagi saya dari kejadian di awal Juli 2108 tersebut adalah menelaah cara berbagai orang menyampaikan reaksi atas penangkapan Irwandi" ungkap Reza Idria prihatin.

Sebagai gubernur dan pimpinan partai politik, tentu saja Irwandi punya loyalis dan basis massa yang bisa diprediksi bagaimana mereka akan bersikap terhadap tindakan OTT KPK tersebut. Serangkaian demo serta pernyataan elite partai yang digawangi Irwandi menuduh ada motif politik di balik aksi KPK di Aceh. 

"Elite di Jakarta hingga Wakil Gubernur menjadi tertuduh sebagai yang ikut bermain dalam penangkapan Irwandi. Reaksi keras dari para loyalis Irwandi juga punya banyak faktor, tapi yang paling penting saya catat waktu itu mungkin bisa diwakili oleh ungkapan seorang teman yang juga dekat dengan Irwandi: “geutanyoe lagee aneuk ban lahe, watee meujak piep mom ma ka mate” (kita seperti bayi yang hendak menyusu tapi tiba-tiba sudah ditinggal mati ibu)," kata kandidat Doktor Antropologi Universitas Harvard ini.

Selanjutnya, bukan tidak banyak orang Aceh yang mendukung KPK. Tetapi, kata Reza, lagi-lagi penting bagi saya mencatat apa reaksi atau ungkapan dari kelompok yang konon bisa diidentifikasikan sebagai pendukung tindakan KPK tersebut. Rata-rata mereka mengatakan bahwa Irwandi pantas ditangkap karena dia “sombong", “lupa daratan", yang ditunjukkan juga bagaimana Irwandi sering berkata kasar di media sosialnya. Intinya Irwandi adalah orang yang “arogan” (semua yang diberi tanda petik adalah ungkapan verbal dari masyarakat). 

"Sehingga setelah beberapa minggu, kemudian ke hitungan bulan, saya mengamati proses hukum terhadap Irwandi Yusuf dari sudut pandang masyarakat Aceh. Bagi saya tetap ada yang absen dalam reaksi-reaksi di atas, yakni pembicaraan tentang korupsi sebagai inti masalah. Kata korupsi atau padanannya tidak pernah menjadi topik penting yang dijadikan bahan analisis maupun digunakan sebagai tema untuk melancarkan aksi, baik pro maupun kontra, atas penangkapan Irwandi. Tidak ada orang yang tidak percaya bahwa Irwandi tidak korupsi. Tapi bukan korupsi masalahnya. Orang-orang punya perbendaharaan kata, peristiwa, nama tanpa sadar mengenyampingkan bahwa tindakan KPK adalah karena korupsi," ujar Reza Idria.

Refleksi sederhana ini bisa dibaca sebagai usaha Reza memahami kenapa Aceh menjadi salah satu provinsi terkorup di Indonesia. "Saya tidak bermaksud menyampingkan, tetapi bagi saya ada yang lebih penting dari sekadar grafik kasus atau berapa banyak uang negara yang sudah dicuri, yakni penting juga untuk tahu sejauh mana logika koruptif telah terbentuk dalam kepala, bagaimana ia menjadi banal dalam praktik dan bicara".

"Untuk menghentikan itu mungkin kita pernah berharap pada hikmah setelah bencana. Sebagian pernah berharap pada euforia pemberlakuan hukum agama, namun hingga tahun 2018 kemarin kita tidak melihat hasilnya. Sampai KPK tiba. Di minggu-minggu awal setelah penangkapan Irwandi Yusuf masyarakat Aceh sempat melihat sinyal dari kesungguhan upaya pemberantasan dengan usaha masif KPK menyelidiki ke dinas-dinas yang disinyalir menyediakan aliran dana ilegal. Menurut rumor yang berkembang dari kedai-kedai kopi waktu itu, aksi KPK telah membuat banyak pihak terkait dengan praktek-praktek korupsi di pemerintahan Aceh terkencing-kencing di celana," kata Reza Idria. 

Tetapi, Reza Idria melanjutkan, setelah KPK pergi narasi yang berkembang kembali menyatakan bahwa yang terkena hanya yang sial saja. "Kita berharap KPK tidak berhenti hanya pada kasus Irwandi. Harapan kita di 2019 KPK kembali datang menuntaskan pekerjaannya untuk menyucikan Aceh dari najis kencing kotor para koruptor," tegasnya.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.