19 June 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Bangunan Pelindung Makam Raja Amad Rusak Tertimpa Pohon

...

  • PORTALSATU
  • 13 February 2019 12:55 WIB

Foto: istimewa
Foto: istimewa
Foto: istimewa
Foto: istimewa

LHOKSUKON - Bangunan pelindung makam 'Raja Amad' di Gampong Leubok Tuwe, Kecamatan Meurah Mulia, Aceh Utara, dilaporkan rusak berat akibat tertimpa pohon tumbang, Selasa, 12 Februari 2019, sekira pukul 16.00 WIB. Sebelumnya, kuburan 'Raja Amad'--salah satu makam tertua di Asia Tenggara--di dalam bangunan itu dibongkar oleh orang yang tidak bertanggung jawab, Senin, 28 Januari 2019. 

"Sebagian bangunan itu rusak, dari bagian atap sampai dindingnya yang sebelah utara, akibat tertimpa pohon tumbang, kemarin sekitar jam empat sore. Tapi kuburan 'Raja Amad' (di dalam bangunan itu) tidak rusak. Bangunan pelindung kuburan itu dibangun oleh pihak dinas terkait (yang membidangi kebudayaan) di Aceh Utara sekitar tahun 2006," ujar Geuchik Leubok Tuwe, Zainal Abidin kepada portalsatu.com melalui telepon seluler, Rabu, 13 Februari 2019, siang. 

Geuchik Zainal menjelaskan, kejadian tersebut sudah ia laporkan kepada Polsek Meurah Mulia. Lalu, Kapolsek Meurah Mulia, Iptu Bustani, bersama anggotanya meninjau lokasi kejadian, Rabu siang. 

"Sekarang sedang kita bersihkan lokasi ini. Pohon yang tumbang dipotong dan dipindahkan. Kalau bahasa Aceh, pohon yang tumbang itu disebut bak pungkhie. Direncanakan nantinya papan dari pohon ini akan dijual, dan dananya untuk kita gelar doa bersama dan kenduri di lokasi ini pada hari Senin nanti," kata Zainal.

Zainal berharap Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Utara merehabilitasi bangunan pelindung makam 'Raja Amad' itu. "Karena atap dan dindingnya sudah rusak, jika hujan maka akan tergenang air di dalam bangunan itu yang dapat merendam kuburan," ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, salah seorang warga Gampong Leubok Tuwe, Kecamatan Meurah Mulia,  terkejut ketika melihat makam 'Raja Amad' di gampong setempat dalam kondisi sudah dibongkar, Senin, 28 Januari 2019, sekira pukul 16.00 WIB. Kejadian itu kemudian dilaporkan ke polisi.

Kapolres Lhokseumawe, AKPB Ari Lasta Irawan, melalui Kapolsek Meurah Mulia, Iptu Bustani, mengakui adanya laporan bahwa telah terjadi pembongkaran makam 'Raja Amad' yang dilakukan OTK di Gampong Leubok Tuwe. 

"Kejadian itu dilaporkan warga ke polsek dan kita sudah ke TKP. Adapun barang bukti yang ditemukan di TKP yaitu berupa dua buah sekop dan satu buah linggis," kata Bustani dikonfirmasi portalsatu.com, Selasa, 29 Januari 2019.

Bustani menyebutkan, upaya yang dilakukan pihaknya mengamankan barang bukti dan melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku pembongkaran makam tersebut. "(Siapa) pelakunya masih dalam penyelidikan," ujarnya.

Masyarakat kemudian merapikan kembali tanah kuburan itu yang sebelumnya terlihat berbentuk lubang besar akibat dibongkar OTK.

Berdasarkan hasil penelitian tim Center of Information for Samudra PasaiHeritage (Cisah), makam yang disebut masyarakat setempat kuburan 'Raja Amad' yang dibongkar OTK tersebut, merupakan salah satu makam tertua di Asia Tenggara. 

Ketua Cisah, Abdul Hamid akrab disapa Abel Pasai, mengatakan hasil penelitian pihaknya, di Leubok Tuwe ada dua makam tokoh Islam tertua di Asia Tenggara. Hal itu diketahui dari data-data diperoleh pada batu nisan dua tokoh itu. Kedua pemilik makam tersebut, batu nisannya bersurat (berinskripsi). Lokasi kedua makam itu berjarak lebih 200 meter.

"Dua tokoh pemilik makam (yang nisannya bersurat) itu wafat pada tahun 622 H/1226 M. Dari data pada batu nisannya, salah satu pemilik makam itu bernama Ibnu Mahmud. Sedangkan satu lagi (yang disebut oleh masyarakat setempat kuburan 'Raja Amad'), pada batu nisannya tidak tertulis nama pemilik makam, tapi hanya menyebutkan sifat-sifat pemilik makam. Namun, tahun wafatnya sama dengan tahun wafat Ibnu Mahmud yaitu 622 H," ujar Abel Pasai, 29 Januari 2019. 

Tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Aceh kemudian mengunjungi makam 'Raja Amad' di Leubok Tuwe, Jumat, 1 Februari 2019. Tim BPCB Aceh, Andi Irfan Syam dan Lucki Armanda, melakukan pengkajian di lapangan terhadap kerusakan makam tersebut.

Pengkaji Pelestari Cagar Budaya Aceh/Arkeolog BPCB Aceh, Andi Irfan Syam, mengatakan, pihaknya hanya melakukan verifikasi atau observasi di lapangan terkait kasus pengrusakan makam 'Raja Amad' yang diduga dilakukan oknum tidak bertanggung jawab.

"Memang situs sejarah makam 'Raja Amad' itu sudah kami daftarkan pada 30 Maret 2017 ke dalam sistem registrasi cagar budaya nasional. Kalau berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, itu perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu dan sebagainya," kata Andi Irfan kepada portalsatu.com, Sabtu, 2 Februari 2019.

Oleh karenanya, lanjut Andi Irfan, berkenaan dengan pelestarian makam tersebut, berdasarkan data yang dihimpun di lapangan ternyata sudah diberikan fasilitas perlindungan di makam 'Raja Amad' dan ada pagar yang dibangun oleh pemerintah daerah beberapa tahun lalu. Kata dia, sekarang statusnya dalam proses penerbitan sertifikat oleh pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan BPCB mengapresiasi upaya dari Pemerintah Aceh Utara mengenai hal tersebut.

"Dalam artian mungkin upaya awal membangun pagar dan juga memperjelas status kepemilikannya. Jadi, langkah-langkah ke depan kalau menurut kami adalah upaya pencegahan supaya tidak terjadi lagi hal yang sama (pengrusakan makam) seperti itu. Selain itu, juga perlu diberikan edukasi kepada masyarakat tentang cagar budaya supaya jangan sampai merusak situs-situs sejarah, dan bahkan itu melanggar ketentuan hukum," ujar Andi Irfan.

Artinya, kata Andi Irfan, dalam hal ini pemerintah memang harus bertanggung jawab untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, bahwa cara budaya itu sangat penting dan harus dilestarikan secara bersama-sama. Kemudian, pemerintah daerah juga perlu melakukan pendekatan dengan masyarakat sekitar untuk memberi pemahaman bahwa situs makam tersebut milik bersama. Artinya, masyarakat setempat berhak dalam melestarikan atau menjaga cagar budaya itu dengan baik.

"Karena dalam melestarikan cagar budaya ini harus bersinergi antarlembaga pemerintah baik di tingkat daerah, provinsi, bahkan ke tingkat nasional. Sebenarnya langkah-langkah perlindungan makam 'Raja Amad' itu sudah dilakukan oleh pemerintah daerah, untuk langkah selanjutnya tentu membutuhkan proses yang sangat panjang. Akan tetapi pelestarian itu harus tetap terus berjalan dalam artian bukan hanya secara fisik, paling penting adalah mengidukasi masyarakat supaya tidak terjadi lagi kejadian yang sama untuk ke depan," ungkap Andi Irfan.

Di samping itu, kata Andi Irfan, pemerintah daerah juga harus bekerja sama dengan pihak aktivis-aktivis kebudayaan, sehingga melalui teman-teman LSM baik dari Cisah, Mapesa, dan lainnya itu merupakan salah satu kekuatan yang besar dalam melakukan pelestarian cagar budaya tersebut. "Tentunya berdasarkan ketentuan dan prosedur yang berlaku," ujarnya.[](idg)

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.