24 April 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


22 Nelayan Aceh Timur Pulang dari Myanmar Senin ini

...

  • Rino
  • 12 April 2019 14:25 WIB

Nelayan Aceh di Myanmar. Foto dok. Panglima Laot Aceh
Nelayan Aceh di Myanmar. Foto dok. Panglima Laot Aceh

BANDA ACEH - Sebanyak 22 dari 23 nelayan Aceh yang ditangkap otoritas Myanmar pada 6 Februari lalu dipastikan pulang dalam waktu dekat. Satu orang lagi tidak dipulangkan karena harus mengikuti proses persidangan.

Para nelayan asal Kecamatan Idie Rayeuk, Kabupaten Aceh Timur, itu rencananya akan tiba di Bandar Udara Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, Senin nanti. Otoritas Myanmar setempat tidak menahan mereka karena yang dianggap bertanggung jawab hanyalah pawang atau nakhoda kapal.

"Insya Allah, 22 nelayan akan tiba di Banda Aceh hari Senin, 15 April 2019, pukul 10.35 WIB, dengan Batik Airlines," sebut Panglima Laot Aceh, Miftachuddin Cut Adek, kepada portalsatu.com, Jumat, 12 April 2019.

Miftach mengatakan, pihaknya saat ini tengah berupaya melobi pemerintah agar mengadvokasi nelayan Aceh yang masih terjerat hukum di sana. Termasuk juga nelayan asal Aceh yang ditahan di beberapa negara tetangga.

"Di Myanmar ada 2 pawang yang ditahan. Di Malaysia itu ada 4 orang lagi belum pulang. Karena sebelumnya pernah ditangkap juga," kata Miftach. 

Sebagai informasi, 23 nelayan Aceh berlayar dengan kapal KM Troya dari wilayah laut Kabupaten Aceh Timur pada 29 Januari lalu. Mereka ditangkap di wilayah laut Myanmar dekat Pulau Zardatgyi, Kotapraja Kawthoung, Wilayah Taninthayi, Myanmar, pada 6 Februari lalu.

KM Troya dicegat kapal Angkatan Laut (558) pimpinan Mayor Pyae Sone Aung yang saat itu sedang berpatroli. Nakhoda dan anak buah kapal KM Troya diserahkan ke Departemen Perikanan Distrik Kawthoung, Myanmar, sementara kapal mereka dilabuhkan di dermaga setempat.

Dari Departemen Perikanan, mereka diserahkan ke Departemen Imigrasi. Otoritas setempat menjerat nakhoda KM Troya dengan hukum yang berkaitan dengan hak penangkapan ikan kapal penangkap ikan asing.

"Salah seorang awak kapal mengatakan, mereka memasuki wilayah laut Myanmar untuk menangkap lebih banyak ikan karena mereka hanya menangkap sedikit ikan di perairan Indonesia," jelas Miftach.

Sebelumnya, KM Troya disebut-sebut kehilangan pedoman arah karena kompas atau radar yang digunakan rusak. Nakhoda dan awak kapal mengaku tidak menyadari tengah melakukan aktivitas melaut di wilayah Myanmar.

Sementara itu, sebanyak 16 nelayan Kabupaten Aceh Timur juga ditangkap otoritas Myanmar, 6 November 2018 lalu. 14 di antaranya memperoleh pengampunan dari pemerintah setempat. Satu di antaranya meninggal dunia saat penangkapan dan jenazahnya sudah dikebumikan di negara itu. Seorang lagi, Jamaluddin Amno masih menjalani proses hukum.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.