25 September 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Akibat Pandemi Virus Corona, Borok China Terbongkar

...

  • Intisari Online
  • 28 January 2020 19:50 WIB

Polisi menyita hewan-hewan liar yang diselundupkan untuk dikonsumsi. (World of Buzz/Washington Post
Polisi menyita hewan-hewan liar yang diselundupkan untuk dikonsumsi. (World of Buzz/Washington Post

Pandemi virus corona yang menyerang Wuhan Tiongkok, menjadi sorotan dunia karena dampaknya mengerikan.

Hal itu menyebabkan beberapa tindakan dalam upaya pencegahan dilakukan. Hingga saat ini belum bisa dipastikan penyebab virus corona menyebar. Namun ada dugaan bahwa makanan dari hewan-hewan liar menjadi pemicunya.

Menutip World of Buzz pada 26 Januari 2020, China mengambil tindakan dengan mengumumkan pelarangan perdagangan satwa liar. Hal itu dilakukan sampai epidemi virus corona terkendali.

Bukti lain yang cukup menguatkan adalah virus itu kemungkinan besar ditularkan melalui pasar makanan laut di Wuhan.

Administrasi Negara dan Pengawasan Pasar, Departemen Pertanian dan Urusan Pedesaan, dan Kehutanan Nasional dan Rumput Biro telah diposting sebuah pernyataan secara online pada situs web pemerintah China mengumumkan larangan perdagangan satwa liar dari tanggal pengumuman sampai epidemi nasional terangkat.

Peraturan mengumumkan kegiatan perdagangan termasuk karantina hewan liar di berbagai tempat dilarang dan perdagangan hewan liar melalui pasar, supermarket, unit katering, dan platform e-commerce juga dilarang.

Kemudian, warga yang bertemu atau menyaksikan perdagangan satwa liar juga bisa melaporkannya melalui hotline atau platform lokal.

Pihak berwenang juga menyatakan bahwa setiap pelanggaran akan diselidiki dan ditangani sesuai dengan hukum dan peraturan.

Atas imbauan ini, borok negeri panda itu pun terbongkar.

Polisi yang bertugas menemukan selama ini satwa-satwa liar menjadi buruan dan diselundupkan.

Kini usai pandemi tersebut, mereka yang melakukan penyelundupan, akan disita dan dianggap melakukan kejahatan dan ditangkap untuk dibawa ke organisasi keamanan publik.

Hal itu memberikan peringatan bagi warga supaya mereka sadar dengan apa yang mereka konsumsi.

Tidak hanya pada makanan satwa liar, tetapi warga harus fokus pada makanan sehat dan menjauhi binatang tak layak makan.

Sayangnya, peraturan ini mungkin hanya berlaku sampai epidemi mereka.

Ini juga menimbulkan pertanyaan apakah perdagangan satwa liar akan dihentikan oleh otoritas Tiongkok.

Menurut Washington Post, kepala dokter hewan global di Wildlife Concervation Society, Christian Walzer, menyebut peraturan ini harus permanen.

Walzer menambahkan bahwa pola makanan satwa liar akan terus berulang jika larangan itu dihentikan.

Tidak hanya di Tiongkok, tetapi negara-negara lain yang menjual satwa liar, khususnya di pasar makanan hewan ekstrem.

Selain itu situasi ini membongkar tabiat buruk orang-orang Tiongkok yang memiliki kecenderungan untuk melahap satwa-satwa liar.

Dikatakan, China menjadi konsumen utama yang terdepan dalam mengonsumsi hewan liar, untuk makanan dan obat-obatan.

Para ahli medis dan satwa liar berharap pandemi ini bisa membantu mengubah sikap masyarakat negeri China untuk mengutuk konsumsi hewan liar.

Sebagian masyarakat terobsesi dengan permainan makan dan mengejar makanan mereka dengan kerakusan dan keserakahan.

Tindakan ini menyebabkan seluruh umat manusia membayar harganya.

Penulis: Afif Khoirul M.[]Sumberintisari.grid.id

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.